Reporter: Vivit Dewi | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekspansi jaringan 5G dan bisnis kecerdasan buatan (AI) menjadi penopang prospek PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) ke depan. Namun, kebutuhan belanja modal yang besar masih menjadi perhatian terhadap arus kas dan laba perseroan.
Berdasarkan proyeksi UBS Global Research, pendapatan ISAT diperkirakan mencapai Rp 61,33 triliun pada 2026, tumbuh 8,5% secara tahunan dari Rp 56,52 triliun pada 2025. Pendapatan kemudian diproyeksikan meningkat menjadi Rp 67,88 triliun pada 2027 dan Rp 71,22 triliun pada 2028.
Di sisi lain, laba bersih ISAT diperkirakan mencapai Rp 6,21 triliun pada 2026, naik 13,1% YoY dari Rp 5,49 triliun pada 2025. Setelah itu, laba bersih diproyeksikan turun menjadi Rp 3,87 triliun pada 2027 dan Rp 3,36 triliun pada 2028.
Managing Director of Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su mengatakan, prospek ISAT pada 2027 akan ditopang oleh mulai beroperasinya bisnis cloud dan AI. Lintasarta Neo Cloud dijadwalkan mulai beroperasi pada Oktober 2026, sementara Zankore fase pertama berkapasitas 200 megawatt (MW) ditargetkan mulai beroperasi pada semester I-2027.
Di sisi lain, tingginya kebutuhan investasi masih menjadi perhatian. ISAT menaikkan capex 2026 di luar GPU dari Rp 13 triliun menjadi Rp 23 triliun, dengan tambahan tersebut terutama digunakan untuk pengembangan jaringan 5G, termasuk fixed wireless access (FWA). Jika ditambah investasi GPU sebesar US$ 628 juta, total capex ISAT diperkirakan mencapai sekitar Rp 34 triliun pada 2026.
Baca Juga: ISAT dan Perusahaan Hashim Kembangkan RAIA Grid, Andalkan Jaringan Fiber 86.000 Km
"Positifnya, ada tambahan spektrum 80 MHz untuk 5G FWA dan commissioning Lintasarta pada kuartal IV-2026. Kejelasan struktur Zankore juga menjadi katalis. Namun, capex besar akan menekan free cash flow dan leverage akan naik terlebih dahulu. Dari sisi makro, pelemahan rupiah juga perlu dicermati karena meningkatkan beban capex dalam dolar, sementara arah suku bunga BI akan memengaruhi biaya pendanaan," ujar Harry kepada Kontan, Senin (21/9/2026).
Selain faktor makro, persaingan industri juga menjadi perhatian. PT XL Axiata Tbk (EXCL) juga agresif meningkatkan capex hingga sekitar Rp20 triliun sehingga kompetisi dalam pengembangan jaringan diperkirakan tetap ketat.
Sementara itu, Analis UBS Global Research Ivan Reynaldo Sutheja menyoroti perkembangan terbaru pembiayaan Zankore. Pada September 2026, Zankore memperoleh pembiayaan utang sebesar US$ 3,1 miliar untuk pembangunan infrastruktur AI.
"Pembiayaan US$ 3,1 miliar ini mencakup sekitar 63% dari estimasi kebutuhan utang untuk kapasitas 200 MW, sehingga menjadi perkembangan positif bagi pendanaan Zankore," ujar Ivan dalam risetnya, (10/9/2026).
Meski pembiayaan tersebut menjadi perkembangan positif bagi proyek Zankore, UBS masih memperhatikan besarnya kebutuhan investasi ISAT dan dampaknya terhadap arus kas serta laba perseroan. UBS memperkirakan pendapatan ISAT masih tumbuh, tetapi laba bersih mengalami penurunan pada 2027 dan 2028.
Dalam proyeksi UBS, laba bersih ISAT diperkirakan mencapai Rp 6,21 triliun pada 2026, sebelum turun menjadi Rp 3,87 triliun pada 2027 dan Rp 3,36 triliun pada 2028. Setelah periode tersebut, laba bersih diproyeksikan kembali meningkat menjadi Rp 8,53 triliun pada 2029 dan Rp 10,41 triliun pada 2030.
Sementara itu, Analis Bahana Sekuritas, Nicolas Lumy melihat keterbatasan pasokan GPU generasi terbaru memberikan peluang bagi ISAT untuk menawarkan kapasitas komputasi dengan tarif yang relatif tinggi.
Baca Juga: Indosat (ISAT) Kembangkan Zankore, Bisnis AI Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Baru
ISAT telah mengamankan 28 MW GPU GB200 yang dijadwalkan mulai digunakan pada semester I-2027. Berdasarkan riset Bahana, tarif penyewaan server Blackwell di Indonesia mencapai sekitar US$ 4,5 per jam, lebih tinggi dibandingkan Eropa sebesar US$ 3,6 per jam dan Amerika Utara sebesar US$ 3 per jam.
"Kami menyimpulkan bahwa GPU merupakan investasi yang menarik untuk dilakukan meskipun memiliki harga yang sangat besar, yaitu US$ 628 juta. Masih banyak permintaan komputasi yang belum dimanfaatkan sehingga bisnis Neocloud diperkirakan akan terus menghasilkan tingkat pengembalian di atas rata-rata," tulis Nicolas dalam risetnya, (24/8/2026).
Meski prospeknya terbuka, Nicolas menyoroti sejumlah faktor yang dapat membatasi manfaat ekonomi dari bisnis GPU. Biaya data center, fiber leaseback dan bunga menjadi komponen yang perlu diperhitungkan, sementara struktur kepemilikan Zankore juga masih menjadi perhatian.
Ia juga mencatat, perkembangan bisnis 5G dan Neocloud belum memberikan tambahan laba yang cukup besar bagi ISAT pada tahap awal. Karena itu, kualitas eksekusi dan kejelasan struktur Zankore menjadi faktor penting dalam melihat kontribusi bisnis baru tersebut terhadap kinerja perseroan.
Rekomendasi Saham
Untuk rekomendasi saham, Harry Su dari Samuel Sekuritas memberikan rekomendasi BUY untuk ISAT dengan target harga Rp 3.000 per saham.
Sementara itu, Nicolas Lumy dari Bahana Sekuritas memberikan rekomendasi HOLD dengan target harga Rp 2.530 per saham. Target harga tersebut naik dari sebelumnya Rp 2.250.
Baca Juga: Bisnis Data Center Indonesia Diproyeksi Tumbuh Pesat, TLKM dan ISAT Jadi Pilihan
Adapun Ivan Reynaldo Sutheja dari UBS Global Research mempertahankan rekomendasi SELL dengan target harga Rp 2.470 per saham.
Perbedaan target harga tersebut mencerminkan perbedaan asumsi terhadap kontribusi bisnis 5G, Neocloud dan Zankore terhadap laba serta arus kas ISAT.
Katalis bagi ISAT berasal dari pertumbuhan permintaan komputasi AI, ekspansi 5G FWA, mulai beroperasinya Lintasarta Neo Cloud serta perkembangan Zankore. Sementara itu, risiko yang perlu diperhatikan meliputi tingginya capex, tekanan free cash flow, kenaikan leverage, pelemahan rupiah, biaya pendanaan, risiko eksekusi Zankore dan persaingan industri telekomunikasi.
Baca Juga: Indosat (ISAT) Masuk Bisnis AI, Zankore Bisa Tambah Laba Rp 1,4 Triliun per Tahun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














