Reporter: Vivit Dewi | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) terus memperkuat ekspansi bisnis digital melalui pengembangan jaringan 5G dan bisnis kecerdasan buatan (AI). Namun, peningkatan belanja modal (capex) yang cukup besar menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan terhadap arus kas perseroan dalam jangka pendek.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand melihat ekspansi tersebut dapat membuka sumber pertumbuhan baru bagi ISAT, terutama melalui bisnis neocloud Zankore. Bisnis tersebut merupakan perusahaan patungan antara Indosat dan sejumlah mitra strategis, termasuk Ooredoo, NVIDIA, dan Nokia.
Baca Juga: SURGE Perluas Bisnis Edge Data Center, Bidik 529 PoP hingga 2026
Zankore akan mengembangkan kapasitas GPU hingga 200 megawatt (MW) yang ditargetkan memiliki tingkat utilisasi 100% karena kapasitasnya telah dikontrak. Abida memperkirakan bisnis tersebut mulai memberikan kontribusi yang lebih signifikan terhadap laba ISAT pada 2027 dan 2028.
“Zankore berpotensi menjadi titik infleksi earnings ISAT pada 2027–2028, dengan kontribusi laba asosiasi diperkirakan sekitar Rp 405 miliar–Rp 810 miliar pada FY27F dan meningkat menjadi Rp 1 triliun–Rp 2 triliun pada FY28F,” ujar Abida kepada Kontan, Senin (21/9/2026).
Di sisi lain, ISAT menaikkan panduan belanja modal (capex) 2026 di luar komponen GPU dari Rp 13 triliun menjadi Rp 23 triliun. Tambahan Rp 10 triliun tersebut akan digunakan untuk pengembangan jaringan 5G, termasuk implementasi 5G FWA. Jika memperhitungkan capex GPU sebesar US$ 628 juta, total capex ISAT diperkirakan mencapai sekitar Rp 34 triliun pada 2026.
Peningkatan investasi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat menekan arus kas ISAT dalam jangka pendek. Namun, struktur pendanaan untuk ekspansi GPU dapat membantu membatasi kebutuhan modal langsung perseroan.
“Sekitar 73% capex GPU akan dibiayai melalui bridge loan yang didukung kontrak take-or-pay selama lima tahun. Meski demikian, kami melihat kompleksitas eksekusi bisnis neocloud, ketergantungan pada siklus belanja modal AI global, serta kenaikan beban depresiasi dari capex 2026 sebagai risiko yang perlu diperhatikan,” jelas Abida.
Selain pasar domestik, Zankore juga berpotensi memperluas sumber pendapatan ISAT ke pasar global. Abida mencatat sekitar 30%–40% pelanggan Zankore berasal dari China, sehingga bisnis tersebut memiliki diversifikasi pelanggan di luar pasar Indonesia.
Dari sisi valuasi, BRI Danareksa Sekuritas menggunakan acuan perusahaan neocloud global yang diperdagangkan pada sekitar 9,5 kali EV/EBITDA FY27F. Dengan mempertimbangkan sensitivitas kepemilikan ISAT di Zankore sebesar 20%–40%, nilai kepemilikan tersebut diperkirakan berada pada kisaran Rp 8,6 triliun–Rp 65,8 triliun.
Berdasarkan pendekatan sum-of-the-parts (SOTP), Abida memperkirakan nilai wajar ISAT berada pada kisaran Rp 2.740–Rp 4.510 per saham. BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy dan menaikkan target harga ISAT menjadi Rp 3.430 per saham.
Untuk pandangan tiga bulan, BRI Danareksa Sekuritas juga menaikkan pandangan taktis terhadap ISAT dari Neutral menjadi Overweight, seiring potensi Zankore membuka ruang bagi rerating valuasi perseroan.
Baca Juga: Persetujuan RKAB 3 Anak Usaha BYAN Bawa Katalis Positif, Ini Saran untuk Investor
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














