kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.725.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.715   -64,00   -0,36%
  • IDX 6.543   41,87   0,64%
  • KOMPAS100 852   9,80   1,16%
  • LQ45 647   7,97   1,25%
  • ISSI 229   0,57   0,25%
  • IDX30 361   4,93   1,38%
  • IDXHIDIV20 439   6,06   1,40%
  • IDX80 97   1,12   1,17%
  • IDXV30 121   0,82   0,68%
  • IDXQ30 115   1,64   1,46%

Bisnis Data Center Indonesia Diproyeksi Tumbuh Pesat, TLKM dan ISAT Jadi Pilihan


Jumat, 21 Agustus 2026 / 13:48 WIB
Bisnis Data Center Indonesia Diproyeksi Tumbuh Pesat, TLKM dan ISAT Jadi Pilihan
ILUSTRASI. TLKM Bangun Data Center di Batam Senilai US$ 198 Juta (DOK/Narita Indrastiti)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri pusat data alias data center Indonesia dinilai masih berada pada tahap awal pertumbuhan, meski memiliki pipeline ekspansi yang besar. Ini membuka peluang bagi sejumlah emiten untuk menangkap pertumbuhan kebutuhan infrastruktur digital dalam beberapa tahun ke depan.

Equity Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan menyebut kapasitas IT data center terpasang di Indonesia mencapai sekitar 580 megawatt (MW) pada semester I 2026. Kapasitas tersebut diproyeksikan melonjak menjadi 3,5 gigawatt (GW) pada 2030.

“Pertumbuhan ini didorong meningkatnya kebutuhan terhadap layanan cloud dan infrastruktur AI yang membutuhkan GPU dalam jumlah besar, sementara keterbatasan kapasitas regional membuka peluang pertumbuhan data center Indonesia,” tulisnya dalam riset yang dirilis, Jumat (21/8/2026). 

Baca Juga: Bangun Kosambi (CBDK) Buyback saham Rp 250 Miliar, Ini Dampaknya ke Grup PANI

Mereka memperkirakan kapasitas data center nasional akan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk atau CAGR sebesar 56,7% sepanjang periode 2026–2030. Jakarta masih menjadi pusat utama dengan sekitar 55% kapasitas nasional yang telah beroperasi.

Di mana, Jakarta tercatat memiliki kapasitas operasional 322 MW dan pipeline sekitar 1,7 GW. Sementara itu, Batam memiliki kapasitas operasional 126 MW dengan pipeline mencapai 1,4 GW sehingga kedua wilayah tersebut menjadi pusat utama pengembangan data center nasional.

Menurut Kafi dan Erindra, Jakarta lebih banyak ditopang oleh permintaan domestik, sementara Batam berpotensi menjadi penerima limpahan (regional spillover) dari Singapura. Batam juga memiliki keunggulan dari sisi kedekatan dengan Singapura dan konektivitas kabel bawah laut.

“Pasar data center Jakarta dan Batam masih berada pada fase awal pertumbuhan, dengan kapasitas yang masih sangat terkonsentrasi pada proyek-proyek yang berada dalam pipeline,” katanya. 

Mereka bilang pertumbuhan industri tersebut juga didorong oleh perkembangan kebutuhan cloud dan kecerdasan artifisial (AI). Di Batam, misalnya, segmen hyperscale mendominasi dengan porsi sekitar 71%, sedangkan sejumlah proyek mulai diarahkan untuk memenuhi kebutuhan komputasi AI.

Meski demikian, pipeline terbesar industri data center Indonesia saat ini masih didominasi oleh operator swasta maupun pemain yang didukung investor asing. Beberapa operator tercatat memiliki pipeline ratusan megawatt, seperti DayOne sebesar 450 MW, Princeton Digital 360 MW, ST Telemedia 322 MW, serta GDC dan EdgeConneX masing-masing 200 MW.

Di tengah dominasi pemain tersebut, sejumlah emiten lokal mulai membangun eksposur melalui pengembangan fasilitas maupun kerja sama dengan operator global. Kafi dan Erindra menilai TLKM, ISAT, DSSA dan DCII memiliki eksposur langsung terbesar terhadap pertumbuhan sektor tersebut.

Baca Juga: Resmi Dibuka! Ini Cara Investasi & Pesan Sukuk SR025 Kupon 6,8%-6,9% Modal Rp 1 Juta

“Emiten lokal masih berada dalam fase awal siklus pertumbuhan data center, dengan pipeline kapasitas yang besar sehingga memberikan ruang ekspansi signifikan ke depan,” tuturnya. 

Untuk PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), eksposur terhadap bisnis data center berasal dari NeutraDC. Perusahaan tersebut telah memiliki kapasitas IT sebesar 90,4 MW dan menargetkan total kapasitas mencapai 300 MW pada 2030.

Sementara itu, PT Indosat Tbk (ISAT) memiliki eksposur melalui kepemilikan 25% di BDx Indonesia. BDx mengoperasikan 30 MW di tiga kampus edge dan memiliki fasilitas hyperscale 72 MW di CGK4 Jatiluhur.

ISAT juga berpotensi memiliki 30% saham Zankore, joint venture AI neocloud bersama induknya, Ooredoo. BRI Danareksa memperkirakan kepemilikan tersebut dapat memberikan potensi peningkatan nilai yang signifikan bagi ISAT.

Di sisi lain, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengoperasikan 24 data center edge dengan total kapasitas 10 MW. DSSA juga tengah mengembangkan SMX01 di Jakarta melalui usaha patungan dengan LG.

Baca Juga: BIPP Segera Private Placement, Cek Profil Emiten Properti dan Kinerja Terbarunya

Fasilitas tersebut ditargetkan ready-for-service pada kuartal IV 2026 dengan kapasitas awal 18 MW dan dapat ditingkatkan hingga 60 MW. SMX01 juga diposisikan sebagai fasilitas yang AI-ready dengan teknologi liquid cooling.

Adapun PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menjadi pemain yang paling fokus pada bisnis data center. DCII saat ini memiliki kapasitas operasional 128 MW di empat fasilitas dan mempunyai pipeline ekspansi yang besar.

“DCII merupakan pure-play data center terbesar dengan kapasitas operasional 128 MW dan pipeline terdalam, terutama proyek H3 di Bintan yang memiliki kapasitas lebih dari 1.000 MW,” jelas Kafi dan Erindra.

Adapun Proyek H3 Sky DC Park di Bintan menjadi salah satu opsi ekspansi terbesar DCII. Proyek tersebut memiliki kapasitas yang dapat dikembangkan hingga lebih dari 1.000 MW dengan lahan sekitar 700 hektare, dan diarahkan untuk menangkap permintaan limpahan dari Singapura.

Selain empat emiten tersebut, Kafi dan Erindra juga menyoroti sejumlah pemain tahap awal seperti PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV), PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET), dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR).

MGLV berencana bertransformasi menjadi platform data center dan mengakuisisi dua aset Nextier dengan total kapasitas 96 MW. Sementara INET melalui anak usahanya SIDI telah mengembangkan fasilitas data center colocation dan berencana membangun green data center di Jatiluhur.

“Secara keseluruhan, kami positif terhadap tema data center karena pertumbuhannya bersifat struktural dan berlangsung jangka panjang, dengan kepastian listrik dan skala operasional menjadi faktor pembeda,” jelas Kafi dan Erindra.

Baca Juga: Chandra Asri (TPIA) Berencana Akuisisi Perusahaan Otomotif Singapura dan Malaysia

Dari para pemain data center, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli TLKM dengan target harga di Rp 3.500. Kafi dan Erindra juga menyematkan rekomendasi beli ISAT dengan target harga di Rp 2.500 per saham. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×