Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID- JAKARTA. Prospek valas utama masih dibayangi oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Indeks dolar AS (DXY) bahkan kembali menanjak ke level 101,6 pada perdagangan Rabu (24/6), menekan sejumlah mata uang utama seperti euro, yen Jepang, poundsterling, dan dolar Australia.
Melansir Trading Economics pada Rabu (24/6) pukul 14.15 WIB, pasangan valas EUR/USD di level 1,135, terkoreksi 2,5% dalam sebulan terakhir. Pairing valas GBP/USD di level 1,318, terkoreksi 2,40% sebulan, pasangan valas AUD/USD di level 0,690 atau melemah 3,75% dalam satu bulan.
Sementara itu, pairing valas USD/JPY tercatat mengalami kenaikan dalam satu bulan sebesar 1,75% menjadi 161,7. Namun, level ini sudah cukup lemah dibandingkan awal tahun 2026 yang mana USD/JPY berada di kisaran 155,9.
Baca Juga: MSCI Pertahankan Indonesia di Emerging Market, OJK Lanjutkan Reformasi Pasar Modal
Soal ini Chief Analyst Doo Financial Future, Lukman Leong, mengatakan penguatan dolar AS saat ini terutama didorong oleh meningkatnya ekspektasi pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed pada akhir tahun.
Memang, pasar menafsirkan The Fed akan mengambil kebijakan higher for longer hingga akhir tahun ini. Saat ini suku bunga acuan The Fed berada di level 3,50% hingga 3,75%.
“Ini sejalan dengan prospek kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps di akhir tahun yang saat ini telah mencapai 86%,” ungkap Lukman saat dihubungi Kontan, Rabu (24/6/2026).
Kondisi ini tentunya membuat dolar AS semakin unggul dibandingkan mata uang utama lainnya. Perbedaan arah kebijakan moneter inilah yang menjadi faktor utama yang menekan kinerja sejumlah valas utama.
Lukman berpandangan, Yen Jepang menjadi mata uang yang paling tertekan akibat selisih imbal hasil (yield gap) antara AS dan Jepang yang masih sangat lebar.
Sementara itu, euro juga menghadapi tekanan karena sikap bank sentral Eropa yang dinilai lebih dovish dibandingkan The Fed. Adapun poundsterling relatif lebih stabil, namun tetap kesulitan mengimbangi penguatan dolar AS.
Ada pun dolar Australia juga tertekan karena sangat sensitif terhadap risk sentiment dan perlambatan ekonomi China.
Maka di tengah tekanan yang melanda mayoritas mata uang tersebut, Lukman melihat yen Jepang menjadi mata uang yang paling menarik untuk dicermati investor.
Menurut dia, secara fundamental yen saat ini sudah berada pada level yang relatif murah atau undervalued. Pelemahan yen lebih banyak dipengaruhi aktivitas carry trade yang memanfaatkan perbedaan suku bunga antara Jepang dan AS.
Meski demikian, Lukman mengingatkan investor ritel untuk tidak terburu-buru mencoba menangkap bottom pergerakan mata uang yang sedang melemah.
“Untuk investor ritel, strategi yang lebih aman adalah membeli saat pullback dalam tren pelemahan mata uang tersebut (DCA atau buy on weakness), bukan mencoba menangkap bottom,” beber Lukman.
Untuk prospek hingga akhir tahun, Lukman memperkirakan dolar AS masih akan bertahan kuat. DXY diproyeksikan bergerak di kisaran 100 hingga 103.
Sementara itu, pasangan EUR/USD diperkirakan berada di rentang 1,08–1,12. Adapun USD/JPY berpotensi tetap tinggi pada level 150–160.
Sedangkan GBP/USD diproyeksikan bergerak di kisaran 1,27–1,30 dan AUD/USD berada pada rentang 0,66–0,68 hingga akhir tahun.
Baca Juga: TPIA Tuntaskan Rangkaian Program Obligasi Berkelanjutan Senilai Rp 6 Triliun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














