Reporter: Alya Fathinah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mayoritas mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat dalam perdagangan terbaru, seiring meredanya permintaan aset lindung nilai di tengah optimisme geopolitik global.
Melansir Trading Economics pada Rabu (1/4/2026) pukul 17.12 WIB, South Korean Won (KRW) menguat 0,02% dalam sehari menjadi 1.506 per USD, Chinese Yuan (CNY) menguat 0,18% secara harian menjadi 6,87 per USD, Japanese Yen (JPY) menguat 0,04% dalam sehari menjadi 158,65 per USD. Kemudian, Indonesian Rupiah (IDR) juga menguat 0,34% menjadi 16.976 per USD.
Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa mengatakan pergerakan dolar AS saat ini cenderung dinamis mengikuti perubahan sentimen global dan rilis data ekonomi utama.
Baca Juga: Harga Emas Diproyeksi Naik, Analis Sebut Masih Bisa Tembus US$ 6.000
"Pelemahan dolar AS terhadap sebagian mata uang Asia dipengaruhi oleh meredanya permintaan terhadap aset lindung nilai serta ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar di Amerika Serikat," kata Amru kepada Kontan, Rabu (1/4).
Sebaliknya, penguatan dolar AS terhadap mata uang tertentu menunjukkan faktor eksternal masih dominan, terutama di tengah ketidakpastian global yang belum sepenuhnya mereda.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menilai tren penguatan agresif indeks dolar AS mulai tertahan, tetapi belum sepenuhnya patah.
Menurut dia, potensi meredanya konflik di Iran dalam beberapa pekan ke depan dapat menekan permintaan dolar sebagai aset aman. Meski demikian, fundamental suku bunga AS masih menjadi penopang utama pergerakan greenback.
"Selama harga minyak bertahan di kisaran US$ 100 per barel yang berisiko mendorong inflasi, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed cenderung melemah. Dolar AS diperkirakan bergerak sideways dengan kecenderungan melemah terbatas," ujar Sutopo.
Pada kuartal II-2026, Sutopo memproyeksikan yen berpotensi menguat ke kisaran 152-154 per dolar AS seiring membaiknya sentimen bisnis Jepang. Sementara, yuan diprediksi stabil di level 6.80-6.85 per dolar AS didorong oleh adopsi yuan digital dan stimulus domestik.
Adapun, won diperkirakan bergerak di kisaran 1.480-1.500 per dolar AS, sedangkan rupiah berisiko menguji level psikologis baru di 16.850-17.150 per dolar AS jika langkah intervensi Bank Indonesia belum mampu meredam tekanan pasar di tengah meningkatnya risiko fiskal.
Baca Juga: Mayoritas Mata Uang Asia Termasuk Rupiah Menguat, Ini Faktor Pendorongnya
Di sisi lain, Amru memperkirakan pada kuartal II yen berada di kisaran 156-161, yuan bergerak antara 7,10-7,30 per dolar AS. Kemudian won berada di rentang 1.480-1.530, dan rupiah bergerak di kisaran 16.900-17.100 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













