kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -18.000   -0,67%
  • USD/IDR 17.973   81,00   0,45%
  • IDX 5.884   -217,45   -3,56%
  • KOMPAS100 764   -32,00   -4,02%
  • LQ45 578   -20,26   -3,39%
  • ISSI 203   -8,31   -3,92%
  • IDX30 327   -10,75   -3,18%
  • IDXHIDIV20 402   -10,48   -2,54%
  • IDX80 87   -3,59   -3,99%
  • IDXV30 109   -2,27   -2,04%
  • IDXQ30 105   -2,81   -2,60%

Rupiah Terus Tertekan, Ditutup Turun 0,52% ke Rp 17.952 per Dolar AS, Ini Penyebabnya


Rabu, 24 Juni 2026 / 15:40 WIB
Diperbarui Rabu, 24 Juni 2026 / 16:10 WIB
Rupiah Terus Tertekan, Ditutup Turun 0,52% ke Rp 17.952 per Dolar AS, Ini Penyebabnya
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah ditutup anjlok 0,52% ke Rp 17.952 per dolar AS. Simak sentimen eksternal dan domestik yang menekan mata uang Garuda.  (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini (24/6/2026). Hal ini seiring meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS dan masih tingginya ketidakpastian geopolitik global.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.952 per dolar AS, melemah 0,52% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.859 per dolar AS.

Pelemahan juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang turun dari Rp 17.819 per dolar AS menjadi Rp 17.868 per dolar AS, atau melemah sekitar 0,28% dalam sehari.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.952 Per Dolar AS Hari Ini (24/6): Asia Tertekan

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi sentimen eksternal dan domestik.

Dari eksternal, pasar masih mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Washington dilaporkan memberikan keringanan sanksi selama 60 hari kepada Teheran pasca pembicaraan perdamaian awal, yang membuka ruang bagi Iran untuk meningkatkan penjualan minyak. Di sisi lain, ketegangan di kawasan Timur Tengah mulai mereda, termasuk di Lebanon.

Meski demikian, sejumlah isu krusial masih menyisakan ketidakpastian, antara lain terkait inspeksi program nuklir Iran dan akses terhadap dana Iran yang dibekukan. Ketidakjelasan tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Selain itu, pasar juga menyoroti arah kebijakan moneter bank sentral AS. Menurut Ibrahim, ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve kembali menguat setelah pertemuan kebijakan terakhir dan pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang cenderung hawkish.

"Saat ini pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sekitar 70% pada September dan masih membuka peluang kenaikan lanjutan pada Desember," ujar Ibrahim, Rabu (24/6/2026).

Fokus pelaku pasar selanjutnya tertuju pada rilis data inflasi inti Personal Consumption Expenditures (Core PCE) AS yang dijadwalkan terbit pekan ini. Data tersebut merupakan indikator inflasi favorit The Fed dan kerap menjadi acuan dalam menentukan arah suku bunga.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai keputusan MSCI yang menunda evaluasi aksesibilitas pasar Indonesia hingga November memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan domestik.

Baca Juga: Resmi! OJK Atur Influencer Investasi & Keuangan, Ini Syarat & Sanksinya

Peninjauan yang diperpanjang itu dilakukan setelah muncul kekhawatiran terkait aksesibilitas pasar Indonesia pada awal tahun. Sebelumnya, MSCI sempat membekukan perubahan pada indeks saham Indonesia karena mempertimbangkan aspek investability dan kemudahan akses bagi investor asing.

"Perpanjangan masa evaluasi ini memberi waktu bagi regulator dan pelaku pasar untuk melakukan perbaikan yang diperlukan. Hasil peninjauan MSCI akan menjadi perhatian penting investor dalam beberapa bulan ke depan," jelasnya.

Di sisi lain, pemerintah juga telah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp 26,34 triliun pada semester II 2026 untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Paket kebijakan tersebut mencakup berbagai insentif perpajakan, dukungan untuk sektor transportasi, penguatan sektor industri, serta perluasan program bantuan sosial. Langkah ini diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat dan mendukung aktivitas dunia usaha.

Untuk perdagangan Kamis (25/6/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 17.950 - Rp 18.020 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×