kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.008   -24,00   -0,13%
  • IDX 6.234   -1,63   -0,03%
  • KOMPAS100 818   1,65   0,20%
  • LQ45 624   2,69   0,43%
  • ISSI 216   0,62   0,29%
  • IDX30 350   0,23   0,07%
  • IDXHIDIV20 430   0,32   0,08%
  • IDX80 94   0,31   0,33%
  • IDXV30 119   1,05   0,89%
  • IDXQ30 112   0,22   0,20%

Ditopang Refinancing, Pefindo sebut Penerbitan Obligasi Korporasi Masih Bergairah


Senin, 03 Agustus 2026 / 18:38 WIB
Ditopang Refinancing, Pefindo sebut Penerbitan Obligasi Korporasi Masih Bergairah
ILUSTRASI. Aktivitas di Mandiri Sekuritas Jakarta (KONTAN/Cheppy A.Muchlis)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan obligasi korporasi masih cukup aktif karena masih adanya kebutuhan refinancing

Chief Economist Pefindo, Suhindarto mengatakan, prospek penerbitan obligasi hingga akhir tahun 2026 masih cukup aktif, terutama karena kebutuhan refinancing tetap besar.

Proyeksi penerbitan sepanjang tahun 2026 berada pada kisaran Rp 154,00 triliun – Rp196,86 triliun, dengan titik tengah Rp 175,77 triliun. 

Setelah realisasi Rp 112,31 triliun sampai Juli, penerbitan Agustus–Desember perlu mencapai Rp 41,69 triliun untuk memenuhi batas bawah dan Rp 63,46 triliun untuk mencapai titik tengah proyeksi.

Baca Juga: Yield US Treasury Tertinggi Sejak Januari 2025, Investor Tunggu Data Ekonomi

“Total surat utang korporasi yang jatuh tempo pada Agustus–Desember 2026 mencapai sekitar Rp 70,86 triliun. Oleh karena itu, titik tengah proyeksi kami masih realistis apabila sebagian besar kewajiban tersebut dibiayai kembali melalui pasar obligasi,” ujar Suhindarto kepada Kontan, Senin (3/8/2026). 

Sebaliknya, Suhindarto bilang, batas atas proyeksi membutuhkan penerbitan sekitar Rp 84,55 triliun. Angka tersebut lebih besar daripada nilai jatuh tempo sehingga memerlukan tambahan penerbitan untuk investasi, modal kerja, atau ekspansi. 

Suhindarto melihat realisasi kemungkinan terkonsentrasi pada emiten berperingkat tinggi, perusahaan dengan akses rutin ke pasar, serta penerbit yang memiliki kebutuhan refinancing yang jelas.

Emiten tersebut lebih mudah memperoleh permintaan karena investor masih selektif saat suku bunga tinggi dan volatilitas pasar meningkat. 

“Penerbitan dapat berada di bawah titik tengah apabila perusahaan memilih menggunakan kas internal, fasilitas perbankan, atau menunda ekspansi karena biaya pendanaan melalui pasar surat utang belum cukup menarik,” jelas Suhindarto. 

Baca Juga: Spread Yield Obligasi Jangka Pendek & Panjang Menyempit, Investor Perlu Cermati Ini

Suhindarto menyebut sentimen utama yang mempengaruhi obligasi korporasi berasal dari arah kebijakan moneter dan pergerakan yield instrumen bebas risiko.

BI-Rate sebesar 5,75%, yield SRBI 12 bulan yang berada di sekitar 7,64%, dan yield SBN sepuluh tahun sekitar 7,32% menciptakan alternatif investasi dengan risiko lebih rendah bagi investor, namun memberikan imbal hasil yang kompetitif. 

“Emiten harus menawarkan tambahan imbal hasil yang memadai di atas instrumen tersebut. Kondisi ini dapat menjaga kupon obligasi korporasi tetap tinggi dan mempersempit waktu penerbitan yang dianggap optimal,” terang Suhindarto. 

Suhindarto juga menyebutkan, perkembangan suku bunga global dan rupiah juga akan memengaruhi pasar melalui yield SBN. Ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang bertahan tinggi dapat meningkatkan yield US Treasury dan memperkuat dolar.

Tekanan terhadap rupiah kemudian dapat mendorong Bank Indonesia mempertahankan kebijakan ketat serta menjaga yield instrumen moneternya tetap menarik. 

“Kombinasi tersebut akan meningkatkan tingkat imbal hasil yang diminta investor dari obligasi korporasi,” ucap Suhindarto. 

Baca Juga: Yield Curve Obligasi Mulai Normal, Tapi Investor Masih Waspadai Risiko Jangka Panjang

Sentimen berikutnya berasal dari kualitas kredit dan kondisi permintaan investor. Perubahan peringkat, kenaikan leverage, pelemahan laba, atau memburuknya kemampuan membayar utang dapat memperlebar spread emiten tertentu.

Sebaliknya, perusahaan berperingkat AAA dan AA cenderung tetap memperoleh permintaan karena selisih yield-nya masih kompetitif terhadap SBN tanpa peningkatan risiko kredit yang terlalu besar. 

“Persaingan dengan pinjaman bank juga tetap relevan karena perusahaan berkualitas tinggi umumnya memiliki lebih banyak pilihan sumber pendanaan,” imbuh Suhindarto. 

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto meminta investor jeli terhadap perkembangan suku bunga domestik maupun suku bunga global. Investor juga perlu memantau perkembangan yield SBN yang notabene merupakan dasar dalam penentuan kupon obligasi korporasi. 

“Kalau yield SBN bisa turun atau menguat, berarti potensi yield obligasi korporasi juga akan menguat,” ujar Ramdhan. 

Baca Juga: ORI030 Ludes, Minat Investor terhadap SBN Ritel Diprediksi Tetap Kuat

Dengan kondisi seperti saat ini, Ramdhan melihat obligasi korporasi dengan tenor jangka pendek mulai 1 tahun sampai 3 tahun menarik dicermati investor. Investor juga perlu mencermati penerbit obligasi korporasi yang memiliki peringkat bagus. 

Ramdhan memproyeksi spread obligasi tenor 3 tahun peringkat AAA dengan SBN dapat mencapai sekitar 100 basis poin (bps). Menurutnya spread ini akan bergerak tergantung dengan dinamika yang terjadi di market. 

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi melihat obligasi korporasi dapat memberikan tambahan spread, tetapi investor harus menilai peringkat, arus kas, struktur utang, penggunaan dana, jaminan, covenant, dan likuiditas pasar sekunder.

Selisih kupon yang kecil terhadap SBN tidak selalu cukup untuk mengompensasi risiko kredit dan rendahnya likuiditas. 

Syafruddin bilang, strategi yang lebih rasional saat ini ialah memilih tenor pendek sampai menengah, membangun portofolio secara bertahap, serta mengutamakan penerbit berkualitas tinggi.

Investor yang memperkirakan yield mendekati puncak dapat mulai mengunci kupon tinggi, sedangkan investor yang memperkirakan tekanan rupiah dan inflasi berlanjut perlu membatasi durasi. 

“Instrumen ini tetap menarik bukan karena risikonya rendah, tetapi karena yield saat ini telah memberi kompensasi lebih besar daripada beberapa tahun sebelumnya,” kata Syafruddin. 

Baca Juga: Spread Yield Obligasi Diproyeksi Makin Lebar, Ini Skenario Hingga Akhir 2026

Sementara itu, Suhidarto mencatat, spread obligasi korporasi tenor tiga tahun terhadap SBN secara umum menyempit pada Januari–Juli 2026. Berdasarkan posisi akhir bulan, spread AAA turun tipis dari 52 bps pada akhir Januari menjadi 51 bps pada 30 Juli.

Spread AA turun dari 73 bps menjadi 69 bps. Dengan demikian, premi yield obligasi berperingkat tinggi terhadap SBN relatif stabil, meskipun arahnya sedikit mendekat. 

Penyempitan lebih besar terjadi pada kategori A dan BBB. Spread A turun dari 239 bps pada akhir Januari menjadi 182 bps pada akhir Juli, atau menyempit sekitar 56 bps.

Spread BBB turun dari 403 bps menjadi 368 bps, atau menyempit sekitar 35 bps. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa yield obligasi kategori A dan BBB semakin mendekati yield SBN dibandingkan dengan awal periode.

Namun, penyempitan spread tidak berlangsung secara konsisten setiap bulan. Spread AAA sempat turun menjadi 36 bps pada akhir Maret, kemudian kembali melebar menjadi 51 bps pada Juni dan Juli.

Spread A justru sempat meningkat menjadi 248 bps pada akhir Februari sebelum menyempit secara bertahap hingga Juli.

Baca Juga: Trimegah Luncurkan Trima+, Investor Kini Bisa Beli IPO Obligasi Secara Online

Sementara itu, penurunan spread BBB terlihat lebih jelas sejak Mei, dari 401 bps pada akhir April menjadi 389 bps pada Mei, 380 bps pada Juni, dan 368 bps pada Juli. 

“Secara keseluruhan, obligasi korporasi tenor tiga tahun bergerak lebih dekat terhadap SBN, terutama pada peringkat A dan BBB. Spread AAA hampir tidak berubah apabila dibandingkan antara akhir Januari dan akhir Juli.

Karena itu, kompresi spread pasar selama periode tersebut terutama berasal dari obligasi dengan peringkat kredit yang lebih rendah, bukan dari kategori AAA,” pungkas Suhindarto.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×