Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Minat masyarakat terhadap instrumen investasi yang aman atau safe haven masih menunjukkan tren positif di tengah ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan.
Hal ini tercermin dari penjualan Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI030 yang resmi habis terserap sebelum masa penawaran berakhir, sekaligus mencetak rekor penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel secara online sepanjang sejarah.
Pemerintah menutup lebih awal masa penawaran ORI030 pada Selasa (28/7/2026) setelah seluruh kuota sebesar Rp 40 triliun habis terserap investor. Nilai tersebut merupakan hasil penambahan kuota sebanyak dua kali lipat dari target awal Rp 20 triliun untuk mengakomodasi tingginya permintaan masyarakat.
Secara rinci, kuota ORI030 tenor tiga tahun (ORI030T3) ditetapkan sebesar Rp 34 triliun, sedangkan tenor enam tahun (ORI030T6) sebesar Rp 6 triliun. Instrumen yang semula ditawarkan pada periode 6-30 Juli 2026 itu akhirnya ditutup lebih cepat karena seluruh kuota telah habis dan pemerintah memutuskan tidak lagi menambah alokasi.
Baca Juga: IHSG Melemah 0,64% ke 6.091 pada Rabu (29/7/2026), BUMI, MBMA, AMRT Top Losers LQ45
Dengan total pemesanan mencapai Rp 40 triliun, ORI030 berhasil memecahkan rekor penjualan SBN ritel online tertinggi, melampaui pencapaian ORI027 yang membukukan penjualan Rp 37,35 triliun pada Februari 2025.
Selain mencetak rekor penjualan, ORI030 juga menawarkan kupon yang lebih menarik dibanding seri sebelumnya. Pemerintah menetapkan kupon sebesar 6,9% untuk tenor tiga tahun dan 7% untuk tenor enam tahun, lebih tinggi dibanding ORI027 yang menawarkan kupon masing-masing 6,65% dan 6,75%.
Chief Operating Officer Bareksa, Ni Putu Kurniasari, menilai tingginya minat investor terhadap ORI030 tidak terlepas dari kondisi ekonomi yang masih dipenuhi ketidakpastian sehingga investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang lebih konservatif.
“Karena iklim ekonomi yang sedang tidak pasti saat ini mendorong nasabah untuk lebih memilih aset yang konservatif seperti SBN, apalagi suku bunganya naik dibanding sebelumnya,” ungkap Putu saat dihubungi Kontan, Rabu (29/7/2026).
Baca Juga: Malaysia Bebaskan 109 Pengungsi Rohingya Setelah Verifikasi Dokumen UNHCR
Kupon Kompetitif Jadi Magnet Investor
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan daya tarik utama ORI030 berasal dari tingkat kupon yang kompetitif.
Menurutnya, kupon sebesar 6,9% untuk tenor tiga tahun dan 7% untuk tenor enam tahun merupakan level tertinggi dalam satu tahun terakhir, bahkan termasuk yang paling tinggi untuk seri ORI dalam beberapa tahun terakhir.
Dengan BI Rate berada di level 5,75%, spread sekitar 115 hingga 125 basis poin (bps) dinilai cukup menarik. Kondisi tersebut memberikan peluang bagi investor memperoleh imbal hasil yang kompetitif dengan tingkat risiko yang sangat rendah karena pembayaran pokok dan kupon dijamin oleh pemerintah.
Yusuf memperkirakan minat terhadap SBN ritel hingga akhir 2026 masih akan tetap kuat, meski kemungkinan tidak sebesar antusiasme terhadap ORI030. Ia menilai perkembangan literasi keuangan masyarakat serta kemudahan akses investasi melalui platform digital akan terus memperluas basis investor ritel.
“Faktor yang paling menentukan tetap berada pada daya saing kupon terhadap BI Rate dan yield pasar, stabilitas rupiah, serta arah kebijakan moneter Bank Indonesia. Selama kupon yang ditawarkan tetap kompetitif dan ketidakpastian pasar masih tinggi, permintaan investor akan tetap terjaga,” ujar Yusuf.
SR025 Diproyeksikan Tetap Menarik
Setelah ORI030, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan masih akan menerbitkan sejumlah seri SBN ritel hingga akhir 2026.
Jadwal penerbitan tersebut meliputi SR025 pada 21 Agustus-16 September 2026, SWR007 pada 4 September-21 Oktober 2026, SBR015 pada 28 September-22 Oktober 2026, serta ST017 pada 6 November-2 Desember 2026.
Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Menguat 0,06% ke Rp 18.073 per Dolar AS pada Rabu (29/7)
Yusuf menilai prospek penyerapan SR025 juga berpotensi positif apabila pemerintah menetapkan tingkat kupon yang sesuai dengan kondisi pasar. Selain menawarkan imbal hasil yang kompetitif, karakteristik syariah pada SR025 dinilai mampu menjangkau basis investor yang lebih luas.
Meski demikian, ia mengingatkan pemerintah tetap perlu menjaga fleksibilitas dalam menentukan kuota penerbitan agar penyerapan optimal tanpa meningkatkan biaya pembiayaan negara secara berlebihan.
“Secara keseluruhan, saya melihat SBN ritel masih akan menjadi salah satu sumber pembiayaan domestik yang kuat sekaligus tetap menarik bagi investor sepanjang fundamental ekonomi dan kredibilitas kebijakan fiskal terjaga,” kata Yusuf.
Senada, Putu menilai potensi kenaikan suku bunga ke depan juga dapat menjadi faktor yang menopang daya tarik SBN ritel, termasuk SR025. Menurutnya, status SR025 sebagai instrumen SBN syariah menjadi nilai tambah yang berpotensi meningkatkan permintaan investor.
“Apalagi ini seri SBN syariah, yang biasanya minatnya lebih tinggi dibanding konvensional, karena produk syariah dengan imbal hasil yang bagus itu jarang,” pungkas Putu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














