Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan obligasi korporasi masih cukup aktif karena masih adanya kebutuhan refinancing.
Chief Economist Pefindo, Suhindarto mengatakan, prospek penerbitan obligasi hingga akhir tahun 2026 masih cukup aktif, terutama karena kebutuhan refinancing tetap besar.
Proyeksi penerbitan sepanjang tahun 2026 berada pada kisaran Rp 154,00 triliun – Rp196,86 triliun, dengan titik tengah Rp 175,77 triliun.
Setelah realisasi Rp 112,31 triliun sampai Juli, penerbitan Agustus–Desember perlu mencapai Rp 41,69 triliun untuk memenuhi batas bawah dan Rp 63,46 triliun untuk mencapai titik tengah proyeksi.
Baca Juga: Yield US Treasury Tertinggi Sejak Januari 2025, Investor Tunggu Data Ekonomi
“Total surat utang korporasi yang jatuh tempo pada Agustus–Desember 2026 mencapai sekitar Rp 70,86 triliun. Oleh karena itu, titik tengah proyeksi kami masih realistis apabila sebagian besar kewajiban tersebut dibiayai kembali melalui pasar obligasi,” ujar Suhindarto kepada Kontan, Senin (3/8/2026).
Sebaliknya, Suhindarto bilang, batas atas proyeksi membutuhkan penerbitan sekitar Rp 84,55 triliun. Angka tersebut lebih besar daripada nilai jatuh tempo sehingga memerlukan tambahan penerbitan untuk investasi, modal kerja, atau ekspansi.
Suhindarto melihat realisasi kemungkinan terkonsentrasi pada emiten berperingkat tinggi, perusahaan dengan akses rutin ke pasar, serta penerbit yang memiliki kebutuhan refinancing yang jelas.
Emiten tersebut lebih mudah memperoleh permintaan karena investor masih selektif saat suku bunga tinggi dan volatilitas pasar meningkat.
“Penerbitan dapat berada di bawah titik tengah apabila perusahaan memilih menggunakan kas internal, fasilitas perbankan, atau menunda ekspansi karena biaya pendanaan melalui pasar surat utang belum cukup menarik,” jelas Suhindarto.
Baca Juga: Spread Yield Obligasi Jangka Pendek & Panjang Menyempit, Investor Perlu Cermati Ini
Suhindarto menyebut sentimen utama yang mempengaruhi obligasi korporasi berasal dari arah kebijakan moneter dan pergerakan yield instrumen bebas risiko.
BI-Rate sebesar 5,75%, yield SRBI 12 bulan yang berada di sekitar 7,64%, dan yield SBN sepuluh tahun sekitar 7,32% menciptakan alternatif investasi dengan risiko lebih rendah bagi investor, namun memberikan imbal hasil yang kompetitif.
“Emiten harus menawarkan tambahan imbal hasil yang memadai di atas instrumen tersebut. Kondisi ini dapat menjaga kupon obligasi korporasi tetap tinggi dan mempersempit waktu penerbitan yang dianggap optimal,” terang Suhindarto.
Suhindarto juga menyebutkan, perkembangan suku bunga global dan rupiah juga akan memengaruhi pasar melalui yield SBN. Ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang bertahan tinggi dapat meningkatkan yield US Treasury dan memperkuat dolar.
Tekanan terhadap rupiah kemudian dapat mendorong Bank Indonesia mempertahankan kebijakan ketat serta menjaga yield instrumen moneternya tetap menarik.
“Kombinasi tersebut akan meningkatkan tingkat imbal hasil yang diminta investor dari obligasi korporasi,” ucap Suhindarto.
Baca Juga: Yield Curve Obligasi Mulai Normal, Tapi Investor Masih Waspadai Risiko Jangka Panjang
Sentimen berikutnya berasal dari kualitas kredit dan kondisi permintaan investor. Perubahan peringkat, kenaikan leverage, pelemahan laba, atau memburuknya kemampuan membayar utang dapat memperlebar spread emiten tertentu.
Sebaliknya, perusahaan berperingkat AAA dan AA cenderung tetap memperoleh permintaan karena selisih yield-nya masih kompetitif terhadap SBN tanpa peningkatan risiko kredit yang terlalu besar.
“Persaingan dengan pinjaman bank juga tetap relevan karena perusahaan berkualitas tinggi umumnya memiliki lebih banyak pilihan sumber pendanaan,” imbuh Suhindarto.
Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto meminta investor jeli terhadap perkembangan suku bunga domestik maupun suku bunga global. Investor juga perlu memantau perkembangan yield SBN yang notabene merupakan dasar dalam penentuan kupon obligasi korporasi.
“Kalau yield SBN bisa turun atau menguat, berarti potensi yield obligasi korporasi juga akan menguat,” ujar Ramdhan.
Baca Juga: ORI030 Ludes, Minat Investor terhadap SBN Ritel Diprediksi Tetap Kuat
Dengan kondisi seperti saat ini, Ramdhan melihat obligasi korporasi dengan tenor jangka pendek mulai 1 tahun sampai 3 tahun menarik dicermati investor. Investor juga perlu mencermati penerbit obligasi korporasi yang memiliki peringkat bagus.
Ramdhan memproyeksi spread obligasi tenor 3 tahun peringkat AAA dengan SBN dapat mencapai sekitar 100 basis poin (bps). Menurutnya spread ini akan bergerak tergantung dengan dinamika yang terjadi di market.
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi melihat obligasi korporasi dapat memberikan tambahan spread, tetapi investor harus menilai peringkat, arus kas, struktur utang, penggunaan dana, jaminan, covenant, dan likuiditas pasar sekunder.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
