Reporter: Rashif Usman | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rebound IHSG pada perdagangan Kamis (17/9/2026) turut menyoroti sejumlah saham berkapitalisasi besar yang masih memiliki valuasi relatif rendah. Beberapa saham dalam indeks LQ45 tercatat memiliki rasio price to earnings ratio (PER) di bawah 7 kali.
IHSG ditutup menguat 0,40% ke level 6.462,43 pada Kamis (17/9/2026), sekaligus mengakhiri pelemahan selama enam sesi perdagangan berturut-turut sebelumnya.
Di tengah pemulihan pasar tersebut, saham-saham berlikuiditas tinggi dan berkapitalisasi besar dalam indeks LQ45 menjadi perhatian investor. Salah satu metrik yang dapat digunakan untuk melihat valuasi saham adalah PER, meski rasio tersebut tidak dapat menjadi satu-satunya acuan dalam menentukan murah atau mahalnya suatu saham.
Menurut Pusat Data Kontan, Kamis (17/9/2026), BBTN tercatat sebagai saham dengan PER paling rendah di jajaran LQ45, yaitu sebesar 3,42 kali. Tak jauh berbeda, saham INKP turut membukukan PER di level 3,59 kali, menempatkannya sebagai saham dengan valuasi termurah kedua.
Baca Juga: Cermati Saham Net Sell Terbesar Asing Saat IHSG Rebound ke 6.462, Kamis (17/9)
Selanjutnya, NCKL tercatat memiliki PER sebesar 5,11 kali, diikuti oleh JPFA dengan PER 5,50 kali. Saham AADI turut mencatatkan valuasi saham dengan PER di level 5,69 kali.
Di posisi berikutnya, saham PGAS tercatat memiliki PER sebesar 5,89 kali, sementara ANTM membukukan PER di level 6,17 kali. Kemudian, BBNI mencatatkan PER sebesar 6,48 kali.
Sementara itu, BMRI dan INDF melengkapi daftar sepuluh saham LQ45 dengan PER, masing-masing di level 6,67 kali dan 6,67 kali.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menerangkan PER rendah memang dapat menjadi indikasi suatu saham relatif murah dibandingkan laba yang dihasilkan perusahaan, tetapi tidak otomatis berarti saham tersebut undervalued.
Menurut Nafan, PER harus dibaca bersama dengan prospek pertumbuhan laba, kualitas fundamental, siklus industri, risiko bisnis, serta valuasi historis dan peer group.
Dalam daftar tersebut, BBTN dan INKP misalnya memiliki PER sangat rendah, masing-masing sekitar 3,42 kali dan 3,54 kali per 16 September 2026, bahkan INKP juga memiliki PBV sekitar 0,37 kali.
"Namun, PER yang rendah juga dapat mencerminkan ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan laba ke depan atau adanya risiko tertentu," ucap Nafan kepada Kontan, Kamis (17/9/2026).
Dus, momentum rebound IHSG saat ini dapat membuka peluang re-rating bagi saham-saham berfundamental solid apabila laba tetap tumbuh dan sentimen pasar membaik. Namun, investor sebaiknya tidak menjadikan PER sebagai satu-satunya dasar keputusan.
Apalagi pada 16 September masih terjadi net foreign sell sekitar Rp624,7 miliar, sehingga risiko tekanan akibat arus dana asing tetap perlu diperhatikan.
Saham LQ45 dengan PER Rendah
Secara terpisah, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan PER rendah belum otomatis berarti undervalued. PER yang rendah memang bisa menjadi indikasi adanya diskon valuasi, tetapi harus dilihat penyebabnya.
Baca Juga: Gagal Bayar Kupon, Rating Adhi Karya (ADHI) Dipangkas Pefindo Jadi Selective Default
"Bisa karena harga saham sudah terkoreksi terlalu dalam sementara fundamental masih solid, tetapi bisa juga karena pasar sedang mengantisipasi penurunan laba ke depan atau risiko sektoral tertentu," kata Elandry kepada Kontan, Rabu (17/9/2026).
Maka dari itu, investor perlu membedakan antara saham yang genuinely undervalued dengan value trap. Dalam kondisi market saat ini, valuasi murah mulai membuka ruang akumulasi secara selektif, terutama pada emiten yang masih memiliki earnings growth, cash flow kuat dan neraca sehat.
Dari sepuluh emiten tersebut, Elandry menyoroti lima saham yang dinilai paling menarik, antara lain BBTN, BMRI, BBNI, ANTM, dan JPFA.
Untuk sektor perbankan, BBTN dinilai menarik karena pertumbuhan labanya masih cukup kuat, meski tekanan net interest margin (NIM) dan cost of fund tetap perlu diwaspadai.
BMRI dan BBNI juga masih ditopang pertumbuhan laba dan penyaluran kredit, dengan likuiditas serta margin menjadi risiko utama yang perlu terus dipantau.
Di sektor komoditas, ANTM dinilai relatif menarik karena memiliki eksposur ganda ke emas dan nikel sehingga portofolionya lebih terdiversifikasi, berbeda dengan NCKL yang pergerakannya lebih sensitif terhadap harga nikel.
Sementara itu, AADI masih ditopang fundamental industri batu bara, meski investor perlu cermat memperhatikan entry point dan risiko normalisasi harga komoditas ke depan.
Adapun JPFA juga menarik seiring perbaikan margin bisnis poultry, meskipun risiko oversupply tetap perlu diperhatikan.
Baca Juga: Penawaran SR025 Berakhir, Dana Dihimpun Tembus Rp 29,77 Triliun dari 93.548 Investor
Jangan Hanya Andalkan PER
Elandry menegaskan PER sebaiknya tidak digunakan sebagai metrik tunggal dalam menilai valuasi.
Untuk saham perbankan, rasio PBV dan ROE dinilai lebih relevan, dilengkapi dengan NIM, cost of credit, rasio NPL/LAR, serta pertumbuhan kredit.
Sementara untuk emiten komoditas, indikator yang lebih relevan mencakup EV/EBITDA, cash cost, ASP (harga jual rata-rata), volume produksi, hingga posisi net cash/debt.
"Secara umum, valuasi saat ini juga perlu dibandingkan dengan historical average dan peers. Saham dengan PER 5 kali belum tentu lebih murah dibanding saham PER 10x apabila laba perusahaan pertama sedang berada di puncak siklus," tambah Elandry.
Rekomendasi Saham
Untuk pilihan saham, Elandry lebih mencermati BMRI, BBNI, BBTN, ANTM dan JPFA. Pendekatannya tetap buy on weakness, bukan mengejar harga ketika terjadi rebound kuat.
Target harga BMRI sekitar Rp6.500–Rp 6.800, BBNI Rp4.900–Rp 5.200, BBTN Rp1.400–Rp 1.500, ANTM Rp3.400–Rp 3.600, dan JPFA Rp2.400–Rp 2.500.
Ruang re-rating akan lebih terbuka apabila pertumbuhan laba tetap terjaga serta market sentiment dan foreign flow kembali membaik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














