kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.598.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.761   68,00   0,38%
  • IDX 6.462   25,58   0,40%
  • KOMPAS100 852   2,28   0,27%
  • LQ45 648   1,42   0,22%
  • ISSI 224   1,27   0,57%
  • IDX30 360   1,29   0,36%
  • IDXHIDIV20 450   2,37   0,53%
  • IDX80 97   0,26   0,27%
  • IDXV30 124   0,43   0,35%
  • IDXQ30 116   0,50   0,43%

Rupiah Berpeluang Melemah Terbatas pada Jumat (18/9), Cermati Sentimen Penggeraknya


Jumat, 18 September 2026 / 07:00 WIB
Rupiah Berpeluang Melemah Terbatas pada Jumat (18/9), Cermati Sentimen Penggeraknya
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif cenderung melemah terbatas pada perdagangan Jumat (18/9/2026).(KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif cenderung melemah terbatas pada perdagangan Jumat (18/9/2026), akibat tekanan imbal hasil aset dolar Amerika Serikat (AS) serta dinamika geopolitik global.

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (17/9/2026), rupiah pasar spot ditutup melemah 57 poin atau 0,32% ke level Rp 17.753 per dolar AS dari penutupan sebelumnya.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat rupiah melemah 0,23% ke posisi Rp 17.753 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya di Rp 17.712 per dolar AS.

Baca Juga: Moody’s Pangkas Outlook Bayan Resources (BYAN) Menjadi Negatif, Ini Penyebabnya

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai pelemahan rupiah pada Kamis (17/9/2026) terutama dipicu oleh penyesuaian pasar (repricing) atas keputusan The Fed yang menaikkan suku bunga acuan FOMC sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4,00%. Penyesuaian kebijakan bank sentral AS tersebut mendorong penataan ulang portofolio investor, di samping dampak penahanan harga minyak mentah Brent di pasar global.

Untuk perdagangan Jumat (18/9/2026), pergerakan rupiah akan diwarnai oleh campuran sentimen global dan domestik.

Menurut pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, dari sisi eksternal pasar merespons pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang mengisyaratkan potensi pengetatan lebih lanjut demi menekan inflasi, serta perkembangan dialog antara AS dan Houthi Yaman yang membantu meredakan kekhawatiran gangguan pasokan.

Sementara itu, Syafruddin mencermati pergerakan yield US Treasury tenor 10 tahun di kisaran 5% dan melandainya harga minyak Brent di kisaran US$104 per barel sebagai penentu arah arus modal.

Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti komitmen Menteri Keuangan Suhasil dalam menjaga APBN serta sinyal bertahannya BI-Rate pada level 5,75% menjelang Rapat Dewan Gubernur.

Sementara itu, Syafruddin menambahkan bahwa langkah preemptif Bank Indonesia yang telah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin dinilai efektif dalam menjaga kecukupan likuiditas valas dan cadangan devisa nasional di level US$146,5 miliar.

Syafruddin menjelaskan bahwa arah nilai tukar rupiah besok sangat bergantung pada pergerakan pasar obligasi AS dan komoditas.

"Jika yield AS turun dan minyak melanjutkan koreksi, rupiah berpeluang stabil," kata Syafruddin kepada Kontan, Kamis (17/9/2026).

Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham dan Prospek Kinerja Emiten CPO Grup Haji Isam

Senada, Ibrahim menilai perbaikan arus modal asing dan disiplin fiskal memperkuat posisi tawar rupiah di tengah tekanan eksternal. "Fundamental makroekonomi yang perlahan mengeras turut menjadi tameng bagi BI," ujar Ibrahim.

Untuk Jumat (18/9/2026), Syafruddin memproyeksikan rupiah bergerak pada skenario dasar Rp 17.720–Rp 17.800 per dolar AS. 

Sementara itu, Ibrahim mengestimasi rupiah akan berfluktuasi, namun ditutup melemah di rentang Rp 17.750–Rp 17.790 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×