Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek rupiah hingga akhir 2026 dinilai masih menghadapi tantangan. Penguatan dolar AS, tingginya premi risiko Indonesia, dan belum meredanya arus keluar modal asing diperkirakan tetap membatasi ruang penguatan rupiah.
Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (29/7/2026), rupiah di pasar spot berada di level Rp 18.073 per dolar Amerika Serikat (AS) atau menguat 0,06% secara harian. Meski sedikit menguat, rupiah masih bertengger di dekat rekor terendah sepanjang masa di level Rp 18.190 per dolar AS yang tercatat pada 8 Juni 2026.
Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, mengatakan pelemahan rupiah dan keluarnya dana asing (capital outflow) merupakan kombinasi faktor eksternal dan domestik. Rahma menyebut, pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memang ikut memperkeruh sentimen pasar.
Baca Juga: Indeks Saham Syariah Bangkit dari Tekanan, Sektor Energi dan Komoditas Jadi Penggerak
“Meskipun ikut memperkeruh suasana, faktor ini bersifat sekunder. Tanpa mundurnya Gubernur BI pun, rupiah tetap tertekan hebat akibat derasnya arus keluar modal asing yang merespons kuatnya dolar AS dan dinamika suku bunga global," ujar Rahma kepada Kontan, Rabu (29/7/2026).
Sehingga, pelemahan rupiah saat ini merupakan refleksi dari ketatnya likuiditas global dan meningkatnya sentimen risk-off terhadap aset negara berkembang. Kondisi tersebut diperberat oleh tantangan neraca perdagangan domestik serta guncangan psikologis akibat transisi kepemimpinan di BI.
Rahma juga menyoroti kenaikan Credit Default Swap (CDS) Indonesia sebagai sinyal meningkatnya persepsi risiko di mata investor global. Saat ini CDS Indonesia 10 tahun naik ke 148,89. Menurutnya, kenaikan CDS menjadi salah satu faktor yang mendorong keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik.
Ia menambahkan, kenaikan premi risiko tersebut meningkatkan tingkat imbal hasil minimum (hurdle rate) yang diharapkan investor asing. Apabila imbal hasil instrumen domestik dinilai tidak sebanding dengan risiko pelemahan rupiah dan kenaikan CDS, investor global cenderung melakukan penyesuaian portofolio dengan menarik dananya dari Indonesia.
Rahma menjelaskan, kenaikan CDS dan capital outflow juga menciptakan tekanan lanjutan terhadap rupiah. Arus modal keluar mengurangi pasokan valuta asing di pasar domestik sehingga memperbesar tekanan depresiasi rupiah.
Di sisi lain, Rahma melihat arus dana asing di pasar keuangan domestik masih bergerak beragam. Pasar Surat Berharga Negara (SBN) mulai menunjukkan pemulihan setelah BI menaikkan suku bunga acuan sehingga imbal hasilnya menjadi lebih menarik bagi investor.
Sementara itu, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dinilai masih menjadi instrumen yang paling efektif menarik dana asing jangka pendek karena menawarkan imbal hasil yang kompetitif.
Baca Juga: Rupiah Masih Terperosok, Ekonom Sebut Persepsi Risiko Domestik Jadi Biang Kerok
Lain halnya, Rahma menilai pasar saham masih menjadi instrumen yang paling banyak mengalami tekanan arus keluar dana asing. Hal ini dipicu oleh meningkatnya persepsi risiko makro, pelemahan rupiah, serta sikap risk-off investor global terhadap aset berisiko.
Per 22 Juli 2026, di pasar keuangan domestik, pasar saham dan SRBI masing-masing mencatatkan outflow sebesar Rp 2,0 triliun dan Rp 0,4 triliun (month-to-date/MtD), sementara pasar SBN mencatatkan inflow sebesar Rp 1,9 triliun.
Untuk prospek rupiah hingga akhir 2026, Rahma memperkirakan tekanan terhadap mata uang Garuda masih akan berlanjut, meski tidak sedalam yang dikhawatirkan pasar.
Menurutnya, arah kebijakan suku bunga The Fed masih menjadi faktor penentu utama. Selama bank sentral AS belum memasuki siklus penurunan suku bunga yang agresif, daya tarik dolar AS diperkirakan tetap tinggi sehingga membatasi ruang penguatan rupiah.
Tapi Rahma menilai peluang rupiah kembali menguat ke kisaran Rp 17.000 per dolar AS masih terbuka. Hal itu ditopang oleh bauran kebijakan BI melalui instrumen seperti SRBI, optimalisasi cadangan devisa, serta fundamental ekonomi domestik yang dinilai masih solid dengan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5%, membuat rupiah dinilai masih undervalued.
Baca Juga: Bintang Mitra (BMSR) Alihkan Seluruh Saham, Pastikan Tidak Ada Rencana Go Private
Apalagi, memasuki periode akhir tahun, siklus permintaan valas korporasi biasanya mulai melandai dibanding kuartal-kuartal sebelumnya, yang memberikan ruang bagi rupiah untuk bernapas dan berbalik menguat secara bertahap.
“Secara keseluruhan, meskipun volatilitas dan tren pelemahan jangka pendek masih menghantui akibat sentimen global dan kenaikan premi risiko, rupiah diperkirakan tidak akan terjerumus terlalu dalam dan berpeluang berangsur stabil seiring konsistensi langkah stabilisasi otoritas moneter,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














