kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.764.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.680   99,00   0,56%
  • IDX 6.599   -124,08   -1,85%
  • KOMPAS100 874   -18,96   -2,12%
  • LQ45 651   -6,79   -1,03%
  • ISSI 238   -4,84   -1,99%
  • IDX30 369   -2,15   -0,58%
  • IDXHIDIV20 456   0,25   0,05%
  • IDX80 100   -1,80   -1,77%
  • IDXV30 128   -1,20   -0,93%
  • IDXQ30 119   -0,20   -0,17%

Persepsi Risiko Investasi (CDS) Indonesia Meningkat, Cermati Efeknya untuk Investor


Senin, 18 Mei 2026 / 20:21 WIB
Persepsi Risiko Investasi (CDS) Indonesia Meningkat, Cermati Efeknya untuk Investor
ILUSTRASI. Credit default swap (CDS) (Dok/Freepik.com)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persepsi risiko investasi atawa Credit Default Swap (CDS) Indonesia naik pada pertengahan Mei 2026. Berdasarkan data Bloomberg, CDS lima tahun Indonesia tercatat naik ke level 89,73 poin pada Senin (18/5/2026), dari 87,09 poin pada Jumat (15/5/2026). 

Kenaikan CDS ini sejalan dengan tren Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah 124,08 poin atau 1,85% menjadi 6.599,24 pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (18/5/2026). Sementara yield SBN 10 Tahun di dalam negeri meningkat ke 6,85% pada Senin dari 6,69% di akhir pekan. 

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menjelaskan kenaikan CDS umumnya mencerminkan pasar meminta premi risiko yang lebih tinggi untuk menahan aset Indonesia.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Rebound Terbatas pada Selasa (19/5), Analis Ingatkan Risiko Ini

Rully bilang lonjakan CDS dan yield SBN dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Dari eksternal, pasar masih dibayangi konflik geopolitik, harga minyak yang bertahan tinggi, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed. 

"Sementara dari dalam negeri, sentimen dipicu oleh pelemahan rupiah serta kekhawatiran terhadap ruang fiskal dan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)," kata Rully kepada Kontan, Senin (18/5/2026).

Rully menambahkan, kenaikan CDS dan yield SBN menunjukkan harga obligasi negara mengalami penurunan. Kondisi ini membuat investor yang telah memiliki SBN sebelumnya berpotensi mengalami unrealized loss secara mark-to-market.

Namun di sisi lain, kenaikan yield dinilai membuka peluang bagi investor baru untuk memperoleh imbal hasil carry yang lebih menarik. 

Adapun di pasar saham, peningkatan premi risiko cenderung mendorong investor keluar dari aset berisiko seperti saham, sehingga menekan IHSG dan meningkatkan volatilitas pasar.

Secara terpisah, pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat menyampaikan kenaikan CDS menunjukkan pelaku pasar menilai risiko investasi di Indonesia sedang meningkat. Namun, peningkatan risiko itu bukan berarti Indonesia berada di ambang gagal bayar.

“CDS itu memang naik turun. Sekarang naik dari sekitar 70 poin di bulan lalu ke 89 poin. Itu masih wajar. Kekhawatiran pasar lebih dipicu pelemahan rupiah dan kekhawatiran terhadap defisit APBN,” katanya.

Teguh menambahkan, pelaku pasar global saat ini mencermati besarnya belanja pemerintah dan pelebaran defisit anggaran, termasuk berbagai program pemerintah seperti makan bergizi gratis (MBG) dan pembiayaan koperasi. Investor asing, kata dia, pada dasarnya lebih fokus pada besaran defisit fiskal dibanding penggunaan anggaran itu sendiri.

Baca Juga: Kinerja Sido Muncul (SIDO) Turun di Awal 2026, Simak Rekomendasi Sahamnya

Meski demikian, Teguh menilai posisi CDS Indonesia saat ini masih relatif aman karena masih berada di bawah level psikologis 100 poin. Ia membandingkan kondisi sekarang dengan masa pandemi Covid-19 pada 2020 ketika CDS Indonesia sempat melonjak hingga sekitar 200 poin.

“Waktu pandemi Covid-19 itu CDS sempat naik sampai 200. Saat itu pasar benar-benar menganggap risiko gagal bayar meningkat tajam. Bukan cuma saham yang anjlok, obligasi juga ikut anjlok,” ungkapnya.

Teguh menegaskan, kenaikan CDS juga tidak otomatis menurunkan keuntungan investor obligasi. Sebaliknya, kondisi saat ini justru membuat yield SBN meningkat sehingga potensi imbal hasil investor menjadi lebih besar.

Lebih lanjut, Teguh mengatakan kenaikan CDS juga berkaitan dengan kondisi pasar saham, meski tidak secara langsung. Pelemahan rupiah dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dinilai membuat investor asing lebih berhati-hati terhadap seluruh aset keuangan Indonesia, baik saham maupun obligasi.

“Kalau rupiah melemah terus, otomatis persepsi risiko investasi di Indonesia mau saham dan obligasi ikut naik,” katanya.

Ke depan, arah CDS Indonesia dinilai akan sangat bergantung pada langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas fiskal dan nilai tukar rupiah. Pasar akan mencermati data defisit APBN yang diperbarui secara berkala setiap bulan maupun kuartal.

“Kalau data fiskalnya membaik, CDS bisa turun. Tapi kalau kondisi memburuk, CDS masih berpotensi naik,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×