kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.819.000   -17.000   -0,93%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Bursa Asia Melemah Sepekan, Sentimen Tarif Trump dan Data Ekonomi AS Jadi Penekan


Jumat, 04 April 2025 / 19:19 WIB
Bursa Asia Melemah Sepekan, Sentimen Tarif Trump dan Data Ekonomi AS Jadi Penekan
ILUSTRASI. Bursa saham Asia mencatat pelemahan dalam sepekan terakhir, seiring tekanan dari rencana pengenaan tarif impor baru oleh Amerika Serikat


Reporter: Inggit Yulis Tarigan | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa saham Asia mencatat pelemahan dalam sepekan terakhir, seiring tekanan dari rencana pengenaan tarif impor baru oleh Amerika Serikat. 

Dalam lima hari perdagangan terakhir (hingga Jumat, 5 April 2025), indeks Nikkei 225 anjlok 5,76%, Hang Seng turun 3,48%, SENSEX terkoreksi 2,72%, Kospi melemah 1,33%, dan Shanghai Composite Index (SSE) minus 0,89%.

Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila menilai pelemahan bursa Asia dipicu kombinasi sentimen global dan domestik. Salah satunya adalah kekhawatiran inflasi lanjutan di AS akibat data PMI jasa yang masih tinggi.

"Outlook suku bunga acuan AS jadi belum jelas, dan ini membuat pasar lebih volatile," ujar Indy kepada Kontan, Jumat (5/4).

Baca Juga: APSyFI: Kebijakan Tarif Impor AS Bisa Jadi Peluang Industri TPT, Asal Lakukan Ini

Selain dari eksternal, Indy menambahkan, pasar pekan depan akan mencermati rilis data inflasi dari sejumlah negara, termasuk Indonesia dan China. 

"Dengan kondisi seperti ini, sektor-sektor yang bersifat defensif seperti konsumer dan kesehatan bisa menjadi pilihan karena cenderung tahan terhadap gejolak ekonomi," tambahnya.

Sementara itu, VP Marketing, Strategy, and Planning Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi menyebut tekanan utama di Asia berasal dari pengenaan tarif impor oleh Amerika Serikat ke negara-negara seperti Jepang, India, Vietnam, dan Tiongkok yang bergantung pada ekspor dan manufaktur.

"Bea sebesar 24% untuk impor dari Jepang dan bea 25% untuk pengiriman mobil telah memberikan pukulan besar bagi ekonomi Jepang yang bergantung pada ekspor," kata Audi.

Audi menambahkan, pasar saat ini tengah menanti langkah strategis dari pemerintah masing-masing negara sebelum pemberlakuan resmi tarif resiprokal pada 9 April 2025. Ia memperkirakan tekanan jual masih akan terjadi, terutama setelah libur panjang bursa seperti di Indonesia.

“Penting juga untuk Indonesia, pemerintah mengutus pihak ke AS untuk melakukan negosiasi terkait tarif sebesar 32% tersebut. Kekhawatiran kami pasca libur bursa akan cenderung direspon negatif oleh pasar dengan terjadi tekanan jual,” ujar Audi.

Baca Juga: Dikecualikan Tarif Resiprokal, Ekspor Hilirisasi Nikel & Bauksit ke AS Bisa Digenjot

Selanjutnya: East Ventures Tegaskan IPO Fore Kopi (FORE) Bukan Exit Strategy

Menarik Dibaca: Garuda Metalindo Bukukan Kinerja Solid di Kuartal IV 2024, Ekspor Jadi Penopang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×