kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Berusia 29 Tahun di Pasar Modal, Begini Kisah Bumi Resources Setelah IPO (Bagian 2)


Sabtu, 03 Agustus 2019 / 16:45 WIB


Reporter: Yuwono Triatmodjo | Editor: Yuwono Triatmodjo

Simalakama bisnis perkantoran

Bisnis perhotelan di Indonesia semkin berkembang pesat. Demikian juga persaingan bisnis perhotelan yang BUMI miliki di Surabaya, kian mendapat pesaing yang kuat. Mau tidak mau, manajemen BUMI harus memikirkan cara lain untuk tetap meningkatkan pendapatannya.

Pada laporan keuangan BUMI tahun 1993, disebutkan bahwa perusahaan ini memperoleh pinjaman dari PT Bank Pan Indonesia (Bank Panin) guna mendanai pembangunan gedung perkantoran bernama Hyatt Skyline Building (Skyline Building) senilai US$ 4 juta.

Baca Juga: BUMN Mengajak Grup Sinarmas dan Panin Menyelamatkan Jiwasraya

Lalu pada 9 Juni 1994, BUMI kembali memperoleh fasilitas pinjaman dari Bank Panin (Grup Panin) guna membiayai pembangunan perkantoran Skyline. Pagu pinjaman proyek itu mencapai Rp 2,2 miliar dengan suku bunga super gede, yakni antara 18% hingga 21%. Jaminan pinjaman tersebut, salah satunya berupa jaminan pribadi dari Sri Hoedojo S, Presiden Direktur BUMI saat itu. 

Sebelumnya pada tanggal 28 November 1990, BUMI telah menandatangani perjanjian pengelolaan gedung perkantoran dengan Hyatt International - Asia Limited (d/h Hyatt of Hongkong Ltd). Lewat perjanjian tersebut, Hyatt International berhak memperoleh royalti dan management fee masing-masing sebesar 4% dan 1% dari jumlah pendapatan sewa kantor milik BUMI.

Hyatt Skyline Building mulai memberikan kontribusi pada tahun 1994, meski jumlahnya masih sangat mini dibandingkan usaha perhotelah BUMI saat itu. Dari total pendapatan BUMI tahun 1994 sebesar Rp 32,51 miliar, kontribusi gedung (Hyatt Skyline Building) masih sebesar Rp 1,15 miliar.

Menurut manajemen BUMI, dari total pendapatan sewa gedung yang sebanyak Rp 1,15 miliar tersebut, sebanyak 64%-nya bersumber dari penyewa yakni perusahaan penerbangan dan perusahaan asing lainnya.  

Terjerat utang bank

Namun sayang, sejak tahun 1994 BUMI mulai mencatatkan kerugian dari bisnis perhotelannya. Tahun 1994, BUMI membukukan rugi bersih Rp 11,52 miliar. Bandingkan dengan akhir tahun 1993, dimana BUMI masih mencetak laba bersih Rp 3,86 miliar.

Salah penyebabnya adalah beban bunga perbankan, khususnya untuk anggaran pembangunan Skyline Building.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×