kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Belum banyak dilirik, saham lapis kedua lebih cocok untuk diversifikasi investasi


Rabu, 15 Januari 2020 / 07:38 WIB
ILUSTRASI. Pekerja berjalan di dekat monitor pergerakan bursa saham saat pembukaan perdagangan saham tahun 2020 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (2/1/2020). Saham-saham emiten kecil dan menengah atau saham lapis kedua belum dilirik oleh investor.


Reporter: Kenia Intan | Editor: Khomarul Hidayat

Meskipun sepi peminat di awal tahun, harga saham-saham lapis kedua masih memiliki prospek untuk menanjak ke depan. Biasanya, kenaikan harga saham tersebut akan terjadi saat harga saham-saham blue chips sudah naik tinggi dan valuasinya dianggap mahal.

Selain itu, ada saham-saham second liner yang kondisi fundamentalnya baik. Ketika pendapatan emiten tersebut berpotensi meningkat, maka bisa menjadi sentimen pendorong harga sahamnya.

Baca Juga: Usai IPO, cermati target dan rencana bisnis Ashmore Asset Management (AMOR)

Wawan menambahkan, walaupun ke depannya saham second liner memiliki prospek, saham-saham itu lebih cocok menjadi diversifikasi saham saja.

"Jangan untuk investasi utama. Nature-nya sebagai saham kapitalisasi kecil itu sangat volatile," katanya lagi.

Bagi investor yang tertarik menjadikan saham second liner sebagai diversifikasi portofolio, Wawan menyarankan untuk memilih saham-saham yang sejalan dengan kondisi makro Indonesia.

Mengingat suku bunga akan turun dan rupiah sedang menguat, kata Wawan, saham second liner yang terkait dengan keuangan seperti bank-bank syariah akan menarik. Selain itu, Wawan juga menyarankan saham-saham dari emiten yang mengandalkan bahan baku impor.

"Sekarang akan diuntungkan dengan rupaih menguat, karena cost-nya akan turun," imbuhnya.

Baca Juga: IHSG menguat empat hari beruntun, bagaimana Kamis (15/1)?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×