Reporter: Rashif Usman | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Astra International Tbk (ASII) melaporkan pendapatan bersih konsolidasian grup pada sembilan bulan pertama tahun 2026 tercatat sebesar Rp 243,9 triliun, stabil dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Laba bersih, tidak termasuk non-recurring items, juga stabil sebesar Rp 24,6 triliun.
Laba bersih bisnis Otomotif dan Jasa Keuangan masing-masing tumbuh sebesar 8% dan 6%, sementara kinerja bisnis solusi pertambangan dan alat berat mengalami penurunan.
Presiden Direktur ASII, Rudy mengatakan kinerja Grup secara keseluruhan hingga saat ini tetap resilien, ditopang oleh perbaikan kinerja di seluruh lini bisnis pada kuartal ketiga yang mengimbangi pelemahan pada semester pertama tahun ini.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham dan Prospek HM Sampoerna (HMSP) Saat Cetak Kinerja Moncer
"Bisnis Otomotif, Jasa Keuangan, dan Wider Businesses terus mencatat pertumbuhan yang sehat, sementara kontribusi dari bisnis Solusi Pertambangan & Alat Berat mengalami penurunan," kata Rudy dalam keterangan resminya, Rabu (28/10/2026).
Dalam rinciannya, laba bersih bisnis Otomotif Grup meningkat sebesar 8% menjadi Rp 9,8 triliun, mencerminkan peningkatan volume penjualan serta kontribusi yang kuat dari divisi Komponen.
Sementara, bisnis jasa keuangan Grup terus menunjukkan pertumbuhan, dengan laba bersih yang meningkat 6% menjadi Rp 7,2 triliun.
Sementara, bisnis solusi pertambangan & alat berat grup membukukan laba bersih tanpa memperhitungkan non-recurring items sebesar Rp 5,1 triliun, turun 28% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara keseluruhan, penurunan tersebut disebabkan oleh menurunnya penjualan emas dari tambang emas Martabe yang sempat menghentikan produksinya pada awal tahun ini, serta dampak dari penurunan kuota produksi batu bara nasional atau alokasi RKAB, yang mengakibatkan melemahnya permintaan alat berat dan jasa penambangan, serta penurunan volume pertambangan batu bara. Meskipun demikian, kinerja pada kuartal ketiga membaik, dengan mencatat pertumbuhan tahun ke tahun sebesar 15%.
Selama sembilan bulan pertama tahun 2026, bisnis Solusi Pertambangan & Alat Berat membukukan non-recurring items sebesar Rp 2,2 triliun pada divisi panas bumi dan nikel. Dengan memperhitungkan non-recurring items tersebut, laba bersih yang dilaporkan turun 59% menjadi Rp 2,9 triliun.
Adapun total laba bersih segmen Lain-lain, yang terutama mencerminkan Wider Businesses Grup, tanpa memperhitungkan non-recurring items, mencapai Rp 2,6 triliun.
Laba bersih ini meningkat 36% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, terutama didorong oleh peningkatan kinerja divisi agribisnis yang didukung oleh kenaikan harga dan peningkatan produktivitas, serta peningkatan kinerja divisi properti yang didukung oleh kontribusi dari industrial warehouse platform yang baru diakuisisi.
Baca Juga: Demutualisasi BEI Semakin Jelas, Begini Kata Pengamat
"Di tengah volatilitas pasar, kami tetap optimistis terhadap kekuatan Core Businesses Astra dan akan terus meningkatkan efisiensi operasional, menjaga posisi neraca yang kuat, serta mengejar peluang pertumbuhan secara selektif. Astra akan terus mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia sekaligus menciptakan nilai bagi para pemegang saham dan pemangku kepentingan," tutup Rudy.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














