kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   20.000   0,78%
  • USD/IDR 18.202   17,00   0,09%
  • IDX 5.282   16,18   0,31%
  • KOMPAS100 686   3,41   0,50%
  • LQ45 539   6,45   1,21%
  • ISSI 177   -2,03   -1,14%
  • IDX30 303   3,34   1,12%
  • IDXHIDIV20 406   6,22   1,56%
  • IDX80 79   0,40   0,52%
  • IDXV30 112   0,64   0,58%
  • IDXQ30 102   1,33   1,33%

Rupiah Tembus Rp 18.180, Ini Dampaknya ke Pasar Saham & Strategi untuk Investor


Kamis, 29 Oktober 2026 / 05:20 WIB
Rupiah Tembus Rp 18.180, Ini Dampaknya ke Pasar Saham & Strategi untuk Investor
ILUSTRASI. Rupiah Tembus Rp 18.180, Ini Dampaknya ke Pasar Saham & Strategi untuk Investor


Reporter: Rashif Usman | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Nilai tukar rupiah kembali melemah ke level Rp 18.000 per dollar Amerika Serikat (AS) jelang akhir Oktober 2026. Berikut rekomendasi untuk investor saham kala rupiah loyo.

Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp 18.180 per dolarAS menambah tekanan terhadap pasar keuangan domestik. Kondisi ini terjadi di tengah koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, dan berlanjutnya arus keluar modal asing.

Berdasarkan data perdagangan yang dikutip dalam laporan pasar, rupiah spot melemah 0,15% ke level Rp 18.184 per dolar AS pada Rabu (28/10/2026). Sementara itu, IHSG terkoreksi 1,65% ke posisi 5.179,06 pada perdagangan sesi I.

Financial Educator Manager Sucor Sekuritas Hendry Wijaya mengatakan, pelemahan rupiah dapat menekan pasar saham melalui sejumlah jalur, mulai dari berkurangnya imbal hasil investor asing hingga meningkatnya biaya operasional perusahaan.

Menurut Hendry, terdapat tiga dampak utama depresiasi rupiah terhadap pasar saham domestik.

Pertama, keuntungan investor asing berpotensi tergerus ketika dikonversi kembali ke dolar AS. Pelemahan rupiah dapat mengurangi nilai hasil investasi yang dihitung dalam mata uang dolar, sehingga memengaruhi minat investor asing untuk mempertahankan kepemilikannya di pasar saham Indonesia.

Kedua, biaya operasional dan beban utang emiten dapat meningkat. Perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor menghadapi risiko kenaikan biaya produksi. Sementara itu, emiten yang memiliki utang dalam dolar AS tetapi memperoleh pendapatan dalam rupiah berpotensi menanggung beban pembayaran yang lebih besar.

Ketiga, ruang pelonggaran suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dapat menjadi lebih terbatas. Tekanan terhadap rupiah berpotensi membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga, padahal pelonggaran moneter dapat menjadi salah satu katalis positif bagi pasar saham.

Meski demikian, Hendry menilai pelemahan IHSG tidak semata-mata disebabkan oleh depresiasi rupiah. Pergerakan indeks juga dipengaruhi kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), arus modal asing, serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Baca Juga: IHSG Berpotensi Menguat, Ini Level Support dan Resistance yang Perlu Dicermati

Dana asing keluar, rupiah dan IHSG tertekan

Hendry menjelaskan, pelemahan rupiah dan arus keluar modal asing berpotensi membentuk tekanan dua arah. Penjualan saham oleh investor asing dapat diikuti konversi rupiah ke dolar AS, sedangkan depresiasi rupiah berpotensi mengurangi daya tarik investasi bagi investor yang menghitung imbal hasil dalam dolar.

"Saat asing menjual saham, mereka menukar rupiah ke dolar, sehingga rupiah makin tertekan. Sebaliknya, rupiah yang melemah membuat asing makin enggan bertahan," kata Hendry kepada Kontan, Rabu (28/10/2026).

Dalam laporan yang menjadi dasar pemberitaan ini, akumulasi jual bersih investor asing di pasar reguler sepanjang tahun berjalan disebut mencapai sekitar Rp 124,9 triliun.

Selain tekanan nilai tukar dan arus dana asing, pelaku pasar juga mencermati perkembangan evaluasi klasifikasi pasar saham Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI.

Pada 15 Oktober 2026, MSCI mengumumkan konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. MSCI menyebut kekhawatiran pelaku pasar antara lain berkaitan dengan transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan praktik perdagangan terkoordinasi. Keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027. 

Menurut Hendry, perubahan klasifikasi tersebut berpotensi memengaruhi aliran investasi asing ke pasar saham Indonesia.

Dalam estimasi yang disampaikan Hendry, potensi arus keluar dana pasif disebut berkisar US$ 3 miliar-US$ 6 miliar. Nilainya berpotensi lebih besar apabila investor aktif turut mengurangi kepemilikan saham Indonesia.

Namun, angka tersebut merupakan estimasi potensi arus keluar, bukan dana yang sudah dipastikan akan meninggalkan pasar domestik. Realisasinya akan bergantung pada keputusan MSCI, respons investor, serta perkembangan reformasi pasar modal Indonesia.

Dalam jangka pendek, keputusan suku bunga The Fed juga menjadi perhatian investor. Perubahan kebijakan maupun pernyataan bank sentral AS dapat memengaruhi arah dolar AS, pergerakan rupiah, dan minat investor terhadap aset berisiko.

Baca Juga: Wall Street Dibuka Bervariasi, Saham Teknologi Menguat

Tiga kelompok saham yang rentan tertekan rupiah

Hendry memaparkan tiga kelompok emiten yang perlu dicermati investor ketika rupiah melemah.

Pertama, perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya produksi dan menekan margin keuntungan apabila kenaikan biaya tidak dapat diteruskan kepada konsumen.

Sektor farmasi dan otomotif termasuk kelompok yang perlu dicermati karena sebagian kebutuhan bahan baku atau komponennya berasal dari luar negeri. Besarnya dampak tetap bergantung pada tingkat ketergantungan impor dan kemampuan masing-masing perusahaan mengelola biaya.

Kedua, emiten dengan utang dolar AS yang tidak dilindung nilai atau hedging. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan nilai kewajiban dalam denominasi rupiah dan berpotensi menambah beban keuangan perusahaan.

Sebagai ilustrasi, setiap pelemahan rupiah sebesar Rp 1.000 per dolar AS akan meningkatkan nilai rupiah dari pokok utang sebesar US$ 1 miliar sekitar Rp 1 triliun. Perhitungan ini mengasumsikan nilai pokok utang tetap dan tidak memperhitungkan pembayaran utang, biaya bunga, maupun instrumen lindung nilai.

Ketiga, saham berkapitalisasi besar yang memiliki eksposur tinggi terhadap investor asing. Apabila terjadi penyesuaian portofolio oleh investor global, saham-saham yang menjadi bagian dari indeks acuan internasional berpotensi menghadapi tekanan jual.

Dalam situasi tersebut, penurunan harga saham tidak selalu mencerminkan memburuknya kinerja fundamental perusahaan. Tekanan juga dapat berasal dari penyesuaian alokasi aset dan keputusan investor untuk mengurangi eksposur terhadap pasar Indonesia.

Sebaliknya, emiten eksportir komoditas seperti batu bara, kelapa sawit, dan logam dasar berpotensi memperoleh keuntungan dari penerimaan dalam dolar AS ketika dikonversi ke rupiah.

Meski demikian, pelemahan rupiah tidak otomatis menguntungkan seluruh eksportir. Dampaknya tetap dipengaruhi harga komoditas, struktur biaya operasional, kewajiban dalam valuta asing, dan kebijakan lindung nilai perusahaan.

Baca Juga: Merdeka Gold (EMAS) Kantongi Fasilitas Pinjaman US$ 435 Juta, Ini Penggunaannya

Strategi investor menghadapi pelemahan rupiah

Di tengah tekanan pasar, Hendry mengingatkan investor agar tidak terburu-buru melakukan akumulasi saham hanya karena harga telah turun.

Menurut dia, peluang akumulasi perlu dicermati bersama perkembangan nilai tukar rupiah, pasar obligasi, dan arus modal asing.

"Valuasi memang sudah murah. Namun, peluang akumulasi lebih besar jika tekanan pada rupiah, pasar obligasi, dan arus keluar modal mulai mereda. Jika ingin membeli, lakukan secara bertahap, jangan sekaligus," ujar Hendry.

Investor juga disarankan mencermati laporan keuangan kuartal III-2026, terutama porsi utang dalam dolar AS, penggunaan instrumen hedging, serta potensi kerugian akibat perubahan kurs.

Langkah tersebut dapat membantu investor membedakan saham yang turun akibat arus keluar dana asing dari saham yang mengalami tekanan karena penurunan kinerja fundamental.

Selain itu, investor dapat memprioritaskan analisis terhadap perusahaan dengan neraca keuangan yang sehat, tingkat utang terkendali, arus kas stabil, dan kemampuan menjaga margin keuntungan ketika biaya produksi meningkat.

Diversifikasi ke emiten yang memiliki pendapatan dolar AS juga dapat dipertimbangkan sebagai penyeimbang risiko nilai tukar. Namun, keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan valuasi, prospek bisnis, dan struktur biaya masing-masing perusahaan.

Terakhir, Hendry menyarankan investor memantau lima indikator utama, yakni pergerakan rupiah, arus dana asing bersih harian atau net foreign flow, imbal hasil SBN tenor 10 tahun, keputusan dan komunikasi The Fed, serta perkembangan reformasi pasar modal Indonesia terkait evaluasi MSCI.



 

Massa Emak-emak Datangi Bundaran HI, Bawa Makanan Gratis untuk Dukung Demo Mahasiswa

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×