Reporter: Anna Suci Perwitasari | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Allianz Global Investors (AllianzGI) Indonesia mengatakan, pasar obligasi domestik masih menawarkan peluang investasi yang menarik menjelang akhir 2026. Hal tersebut seiring penyesuaian harga yang membuat tingkat imbal hasil dan valuasi obligasi menjadi lebih menarik.
Head of Fixed Income AllianzGI Indonesia Fitri Lindawati mengatakan, ketahanan pasar obligasi domestik didukung oleh sejumlah indikator ekonomi, termasuk inflasi September 2026 yang tercatat sebesar 3,28% secara tahunan, dengan inflasi inti sebesar 2,84%, serta cadangan devisa yang mencapai US$ 146,5 miliar pada akhir Agustus 2026, serta fokus Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah.
“Kondisi tersebut menjadi faktor penyeimbang terhadap tekanan eksternal, terutama dari tingginya imbal hasil obligasi global dan dinamika harga energi,” ujar Fitri dalam keterangan tertulisnya yang diterima KONTAN, Rabu (28/10/2026).
Menjelang akhir 2026, AllianzGI Indonesia memperkirakan, pergerakan pasar obligasi domestik masih akan dipengaruhi oleh dinamika pasar global, khususnya tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, serta kebutuhan pembiayaan pemerintah melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN).
Baca Juga: Wall Street Ditutup Menguat Seiring Keputusan The Fed Mempertahankan Suku Bunga Acuan
Per Oktober 2026, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun berada di kisaran 7,60%, sementara imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun mendekati 5%. Di sisi domestik, sekitar Rp 302 triliun dari target penerbitan SBN tahun anggaran 2026 masih perlu dipenuhi pada kuartal IV-2026.
Kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi pergerakan imbal hasil dan volatilitas pasar obligasi domestik, sehingga perkembangan pasar global serta pasokan obligasi pemerintah tetap menjadi faktor penting yang perlu dicermati investor. Karena itu, pandangan AllianzGI Indonesia terhadap pasar obligasi tetap konstruktif namun berhati-hati, tanpa mengambil posisi durasi panjang secara agresif.
“Penyesuaian imbal hasil obligasi yang terjadi sebelumnya telah meningkatkan daya tarik instrumen pendapatan tetap Indonesia, baik dari sisi potensi pendapatan maupun valuasi. Meski demikian, peluang investasi tetap perlu dipertimbangkan secara selektif,” lanjut Fitri.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, AllianzGI Indonesia bilang, strategi investasi yang berfokus pada strategi yang memprioritaskan pendapatan dari kupon obligasi (carry-first) dapat menjadi pendekatan yang relevan. Selain itu, pengelolaan durasi secara selektif dan diversifikasi portofolio tetap menjadi pertimbangan penting.
“Investor juga perlu menjaga likuiditas agar memiliki fleksibilitas dalam menghadapi perubahan kondisi pasar, serta menyesuaikan alokasi investasi dengan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing,” imbuh Fitri.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18.180, Ini Dampaknya ke Pasar Saham & Strategi untuk Investor
Pandangan tersebut sejalan dengan outlook pendapatan tetap global AllianzGI dalam artikel “Fixed Income Forward: October 2026”, yang melihat tingkat imbal hasil obligasi saat ini semakin menarik bagi investor jangka panjang. Imbal hasil awal yang lebih tinggi memberikan potensi pendapatan yang lebih menarik sekaligus bantalan yang lebih besar terhadap potensi kerugian akibat perubahan harga pasar.
“Ke depan, investor perlu mencermati sejumlah perkembangan global, mulai dari konflik di Timur Tengah yang berpotensi memperpanjang volatilitas harga minyak dan meningkatkan risiko stagflasi, hingga dinamika pasar obligasi pemerintah negara-negara zona euro, dan musim laporan keuangan perusahaan,” tulis Tim CIO AllianzGI.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














