kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.603.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.032   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.236   49,76   0,80%
  • KOMPAS100 817   5,56   0,69%
  • LQ45 621   2,39   0,39%
  • ISSI 215   1,38   0,65%
  • IDX30 350   1,18   0,34%
  • IDXHIDIV20 430   0,35   0,08%
  • IDX80 93   0,50   0,54%
  • IDXV30 118   0,33   0,28%
  • IDXQ30 112   0,18   0,16%

Aset Investasi Bergerak Fluktuatif pada Juli: Bitcoin Rebound, Obligasi Tertekan


Minggu, 02 Agustus 2026 / 13:36 WIB
Aset Investasi Bergerak Fluktuatif pada Juli: Bitcoin Rebound, Obligasi Tertekan
ILUSTRASI. Altcoin crypto (Felix Schlikis/IMAGO via REUTERS)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah instrumen investasi pada Juli 2026 bergerak beragam di tengah dinamika eskalasi geopolitik hingga ekspektasi kebijakan moneter. Berdasarkan data Kontan, aset kripto pada Juli rebound.

Bitcoin naik 9,42% secara bulanan ke level US$ 63.824 per 31 Juli 2026. Secara year to date (ytd), terkoreksi 27,82%. Ethereum juga melonjak 20,75% secara bulanan ke level US$ 1.888,35. Secara ytd, Ethereum 36,44%.

Selanjutnya, obligasi pemerintah hanya mencatat kenaikan 0,03% secara bulanan dan obligasi korporasi naik 0,68% secara bulanan. Selanjutnya, harga emas dunia naik 2% secara bulanan ke level US$ 4.119 per troy ons. Secara ytd, harga emas dunia terkoreksi 6,52%. Sedangkan harga emas Antam turun 0,27% secara bulanan ke level Rp 2.623.000 per gram dan secara ytd harga emas Antam naik 4,88%. 

Baca Juga: Yield SUN Masih Berpotensi Naik, Lonjakan Yield US Treasury Masih Membayangi

Sementara indeks harga saham gabungan (IHSG) naik 10,45% secara bulanan ke level 6.236. Namun IHSG masih terkoreksi 27,92% secara ytd. 

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur mengatakan, kenaikan harga Bitcoin dan Ethereum karena pasar kripto mengalami technical rebound setelah tekanan jual besar pada Mei dan Juni. Bitcoin, misalnya, sempat turun lebih dari 20% pada Juni sebelum kembali bergerak dari kisaran US$ 58.000 pada awal Juli menuju area US$ 64.000. Kondisi oversold tersebut mendorong aksi beli bertahap dari investor yang melihat harga sudah berada pada level yang lebih menarik. 

“Kenaikan harga Bitcoin dan Ethereum sepanjang Juli 2026 dipengaruhi oleh kombinasi faktor makroekonomi, pemulihan sentimen pasar, serta masuknya kembali permintaan institusional setelah koreksi cukup dalam pada bulan sebelumnya,” ujar Fyqieh kepada Kontan, Jumat (31/7/2026). 

Fyqieh melihat pada awal hingga pertengahan Juli, sentimen pasar terbantu oleh sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang relatif lebih lunak. Hal ini sempat menumbuhkan ekspektasi bahwa tekanan inflasi dapat mereda dan kebijakan moneter The Fed tidak akan diperketat secara agresif.

Ekspektasi terhadap suku bunga dan pergerakan imbal hasil obligasi sangat berpengaruh terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin dan Ethereum. Namun, menjelang akhir bulan, sentimen kembali lebih berhati-hati setelah The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75% dan memberikan sinyal bahwa risiko inflasi masih menjadi perhatian. 

Selain itu, terdapat kembalinya arus dana institusional melalui produk ETF, meskipun kekuatannya berbeda antara Bitcoin dan Ethereum. ETF Bitcoin sempat mencatat arus masuk positif selama beberapa pekan di Juli, yang membantu Bitcoin mendekati US$67.000. Akan tetapi, nominal arus masuk terus mengecil dan kembali berbalik negatif menjelang akhir bulan. “Secara keseluruhan, arus dana ETF Bitcoin pada Juli masih tergolong lemah dibandingkan periode-periode sebelumnya,” terang Fyqieh. 

Baca Juga: Rupiah Menguat Ditopang Inflow Asing dan Dolar Melemah, Simak Prospek Awal Pekan

Fyqieh melihat potensi kenaikan harga Bitcoin dan Ethereum ke depan tetap terbuka, tetapi pergerakannya kemungkinan tidak berlangsung secara linear. Pasar masih berada dalam fase pemulihan, sehingga peluang kenaikan akan sangat bergantung pada arus dana institusional, kondisi makroekonomi, serta kemampuan pasar mempertahankan momentum yang terbentuk sepanjang Juli. 

Fyqieh menyebut dari sisi makroekonomi, pasar masih menghadapi ketidakpastian karena Federal Reserve mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%. Tiga anggota FOMC bahkan memilih kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin karena kekhawatiran terhadap inflasi yang masih tinggi. 

“Kebijakan yang lebih ketat, kenaikan yield obligasi, atau memburuknya risiko geopolitik dapat mengurangi likuiditas dan menekan aset berisiko, termasuk Bitcoin dan Ethereum,” jelas Fyqieh. 

Sementara itu, Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi mengatakan, kinerja obligasi pemerintah pada Juli 2026 dipengaruhi oleh kombinasi pengetatan moneter domestik, pelemahan rupiah, kenaikan premi risiko, tingginya yield global, tekanan harga minyak.

Serta kekhawatiran terhadap kebutuhan pembiayaan fiskal. BI mempertahankan BI-Rate pada 5,75% dalam rapat dewan gubernur (RDG) 21–22 Juli dan menegaskan orientasi stabilisasi rupiah di tengah ketidakpastian global. Sehingga pasar tidak memperoleh sinyal pelonggaran dalam waktu dekat. 

Baca Juga: Pendapatan Bumi Serpong Damai (BSDE) Turun 25,64%, Laba Bersih Terpangkas 52,82%

Instrumen SRBI tenor 12 bulan juga masih menawarkan tingkat pemenang sekitar 7,64%–7,67% pada pertengahan Juli, sehingga SBN jangka pendek harus bersaing dengan instrumen moneter berimbal hasil tinggi. 

“Pada sisi global, kenaikan yield US Treasury dan obligasi negara maju selama Juli berkaitan dengan kekhawatiran inflasi akibat konflik Timur Tengah dan harga minyak, yang mengurangi daya tarik obligasi negara berkembang,” ujar Syafruddin. 

Syafruddin juga melihat obligasi korporasi menghadapi tekanan tambahan dari kenaikan benchmark SBN, premi kredit, kondisi likuiditas, peringkat penerbit, serta kebutuhan refinancing. Penerbit berkualitas tinggi masih dapat mengakses pasar dengan kupon relatif kompetitif, seperti obligasi satu tahun Federal International Finance sebesar 6,9% dan obligasi tiga tahun Maybank Indonesia sebesar 7,25%.

Sedangkan penerbit dengan profil risiko lebih tinggi harus menawarkan kupon lebih besar, seperti obligasi tiga tahun Moya Indonesia sebesar 8,5%. “Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pasar korporasi tetap terbuka, tetapi semakin selektif dalam membedakan kualitas kredit,” terang Syafruddin. 

Syafruddin mengatakan, prospek obligasi pemerintah masih menghadapi tekanan yield karena BI belum memiliki ruang aman untuk menurunkan suku bunga selama rupiah, inflasi impor, dan ketidakpastian global belum stabil.

Yield SBN dapat bergerak turun secara temporer bila harga minyak mereda, US Treasury menguat, rupiah membaik, atau arus modal asing kembali masuk, tetapi tekanan struktural tetap berasal dari suplai SBN, kebutuhan refinancing, kondisi fiskal, serta persaingan dengan SRBI yang menawarkan imbal hasil tinggi. 

“Karena itu, yield tenor pendek berpotensi tetap tinggi, sedangkan tenor panjang akan sangat sensitif terhadap kredibilitas fiskal dan arah yield global,” kata Syafruddin. 

Baca Juga: Elnusa (ELSA) Catat Kinerja Operasional Positif Semester I-2026

Adapun terkait komoditas emas, Shaokai Fan, Head of Asia-Pacific (ex-China) dan Global Head of Central Banks di World Gold Council, mengatakan, ketahanan permintaan emas di Indonesia mencerminkan adanya pergeseran perilaku investor.

Alih-alih sekadar merespons fluktuasi harga jangka pendek, semakin banyak investor di Indonesia yang memandang emas sebagai aset strategis untuk jangka panjang, terutama di tengah berlanjutnya pelemahan rupiah dan ketidakpastian prospek ekonomi domestik.

Peluncuran Bullion Ecosystem Development Roadmap Indonesia juga mencerminkan semakin besarnya pengakuan terhadap peran strategis emas dalam sistem keuangan nasional. 

“Ke depan, kami memperkirakan bahwa inisiatif ini, yang didukung oleh kuatnya fundamental investasi jangka panjang, akan mendorong partisipasi investor secara lebih luas sekaligus membuka akses ke beragam produk investasi emas,” ujar Shaokai.

Analis Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan harga emas ke depan salah satunya akan dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan The Fed.

Indikator yang dilihat mengenai ekspektasi tersebut salah satunya dari fluktuasi harga minyak mentah global karena eskalasi AS-Iran. Ibrahim memperkirakan harga emas dunia mencapai US$ 4.385 per troy ons hingga akhir kuartal III-2026. “Ada indikasi bank sentral AS masih akan mempertahankan suku bunga,” kata Ibrahim. 

Baca Juga: Permintaan Emas di Indonesia Melonjak 40%, Simak Prospeknya hingga Akhir 2026

Terkait IHSG, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta melihat sejumlah sentimen yang mempengaruhi pergerakan IHSG pada Juli diantaranya perkembangan suku bunga global, imbal hasil obligasi AS, maupun depresiasi rupiah. Serta persiapan investor menjelang rebalancing indeks MSCI Agustus 2026. 

Memasuki akhir Juli, transaksi bursa diwarnai oleh aksi portfolio adjustment dan penyesuaian arus dana pasif dari para Manajer Investasi menjelang tanggal efektif perombakan konstituen indeks BEI per 3 Agustus 2026. 

“Ekspektasi terhadap penantian publikasi kinerja keuangan berbagai emiten sepanjang semester I-2026 bisa memberikan peluang aksi bargain hunting pada saham yang memiliki fundamental solid,” ucap Nafan. 

CEO Sucor Sekuritas, Benardus Wijaya mengatakan bahwa bahwa Sucor Sekuritas menargetkan IHSG dapat mencapai level 8.000 hingga akhir tahun ini. Namun target tersebut tergantung dengan perkembangan evaluasi dari MSCI.

Sebab, MSCI menyatakan tetap membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) maupun Number of Shares (NOS) untuk seluruh saham Indonesia dalam MSCI Global Investable Market Indexes (GIMI) pada pelaksanaan Review Agustus 2026. 

MSCI juga menyebut akan kembali menyampaikan perkembangan mengenai perlakuan terhadap pasar Indonesia pada pelaksanaan MSCI Index Review November 2026. Menurut Benardus, jika hasil review tersebut positif, maka dapat menjadi katalis positif IHSG. 

“MSCI masih mengevaluasi ulang indeks kita hingga November, kalau itu belum beres, kita ngga bisa tembus di atas 8.000 karena asing juga takut kalau tiba – tiba kita turun,” jelas Benardus.

Baca Juga: Harga Emas Diproyeksi Bertahan Bullish, Ini Level Kunci yang Harus Dicermati

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU

[X]
×