kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.603.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.032   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.236   49,76   0,80%
  • KOMPAS100 817   5,56   0,69%
  • LQ45 621   2,39   0,39%
  • ISSI 215   1,38   0,65%
  • IDX30 350   1,18   0,34%
  • IDXHIDIV20 430   0,35   0,08%
  • IDX80 93   0,50   0,54%
  • IDXV30 118   0,33   0,28%
  • IDXQ30 112   0,18   0,16%

Harga Emas Diproyeksi Bertahan Bullish, Ini Level Kunci yang Harus Dicermati


Minggu, 02 Agustus 2026 / 08:27 WIB
Harga Emas Diproyeksi Bertahan Bullish, Ini Level Kunci yang Harus Dicermati
ILUSTRASI. Harga emas dunia diperkirakan masih memiliki peluang menguat secara moderat hingga akhir 2026 meski saat ini pergerakannya cenderung terbatas (REUTERS/Angelika Warmuth)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas dunia diperkirakan masih memiliki peluang menguat secara moderat hingga akhir 2026, meski saat ini pergerakannya cenderung terbatas setelah terkoreksi dari level tertingginya.

Prospek logam mulia ini masih ditopang oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter global, ketidakpastian geopolitik, hingga berlanjutnya akumulasi emas oleh bank sentral.

Berdasarkan data Trading Economics per Jumat (31/7/2026), harga emas berada di level US$ 4.042,97 per ons troi. Angka tersebut turun 1,47% atau terkoreksi US$ 60,43 secara harian.

Secara mingguan, harga emas melemah 0,22% dan secara year-to-date (YtD) terkoreksi 6,41%. Meski demikian, secara tahunan atau year-on-year (YoY), harga emas masih melonjak 20,22%.

Di tengah dinamika tersebut, investor perlu mencermati arah pergerakan emas sebagai aset safe haven sekaligus menentukan strategi investasi yang tepat hingga penghujung tahun.

Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menilai prospek harga emas hingga akhir tahun masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan menguat (range-bound with bullish bias).

Baca Juga: IHSG Naik 0,81% Sepekan, Analis Proyeksi Lanjut Menguat Pekan Depan

Secara teknikal pada grafik mingguan, harga emas bergerak di kisaran US$ 4.050 hingga US$ 4.097 per ons troi. Sementara itu, indikator MACD dan Relative Strength Index (RSI) yang berada di level 38,44 mengindikasikan bahwa momentum pelemahan jangka pendek mulai mengalami kejenuhan.

Menurut Wahyu, area US$ 3.850 hingga US$ 4.000 per ons troi menjadi zona support yang sangat penting, baik dari sisi teknikal maupun psikologis.

Area Support Jadi Penentu Tren Emas

"Selama harga bertahan di atas area ini, tren bullish jangka panjang masih terkonfirmasi utuh," terang Wahyu kepada Kontan, Jumat (31/7/2026).

Ia menjelaskan, arah pergerakan harga emas ke depan akan dipengaruhi oleh kombinasi faktor moneter global dan perkembangan geopolitik.

Kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury Yield), serta Indeks Dolar AS (DXY) berpotensi memberikan tekanan terhadap harga emas apabila The Fed kembali mengadopsi sikap hawkish.

Sebaliknya, prospek penurunan suku bunga pada periode mendatang diperkirakan akan kembali menopang harga emas.

Di sisi lain, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi turut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Kondisi tersebut dinilai memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Selain faktor geopolitik, Wahyu juga menyoroti aksi pembelian emas oleh bank sentral global, terutama dari negara-negara berkembang dan China. Menurutnya, berlanjutnya arus dana ke exchange traded fund (ETF) emas berbasis fisik juga menjadi faktor yang menciptakan batas bawah harga atau structural price floor yang kuat.

Strategi Investasi Emas yang Disarankan

Dalam kondisi pasar saat ini, Wahyu menyarankan investor menerapkan strategi investasi secara bertahap atau Dollar-Cost Averaging (DCA), khususnya ketika harga berada di area support US$ 3.850 hingga US$ 4.050 per ons troi. Strategi tersebut dinilai lebih aman dibandingkan melakukan pembelian ketika harga berada di level tertinggi.

Ia juga merekomendasikan agar porsi investasi emas dipertahankan pada kisaran 5% hingga 15% dari total portofolio. Alokasi tersebut dinilai cukup ideal untuk meningkatkan diversifikasi sekaligus meredam risiko volatilitas.

Selain itu, investor disarankan melakukan rebalancing portofolio secara berkala, baik dengan merealisasikan sebagian keuntungan saat harga melonjak maupun menambah kepemilikan ketika harga mengalami koreksi.

Baca Juga: Rights Issue Bergairah, Emiten Pilih Ekspansi hingga Restrukturisasi Utang

Proyeksi Harga Emas hingga Akhir Tahun

Wahyu membagi prospek harga emas (XAU/USD) hingga akhir tahun ke dalam tiga skenario utama.

Pada skenario dasar (base case), yang memiliki probabilitas terbesar, harga emas diperkirakan bergerak dalam kisaran US$ 3.900 hingga US$ 4.500 per ons troi. Proyeksi tersebut didukung oleh ekspektasi penurunan suku bunga secara bertahap dan konsistensi pembelian emas oleh bank sentral.

Sementara itu, dalam skenario optimistis (bull case), harga emas berpotensi naik ke rentang US$ 4.500 hingga US$ 5.000 per ons troi apabila terjadi eskalasi konflik geopolitik yang signifikan atau The Fed memangkas suku bunga lebih agresif dari perkiraan pasar.

Di sisi lain, risiko pelemahan tetap perlu diwaspadai apabila inflasi global kembali meningkat sehingga memaksa bank sentral AS mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.

Terkait skenario pesimistis (bear case), Wahyu memperkirakan harga emas dapat turun ke kisaran US$ 3.500 hingga US$ 3.850 per ons troi apabila tekanan dari kebijakan moneter semakin besar.

"Penurunan ke rentang ini dapat terjadi apabila The Fed kembali mengambil sikap ketat (hawkish) akibat lonjakan inflasi yang tidak terduga, yang mengakibatkan yield obligasi AS dan DXY menguat tajam," tutup Wahyu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×