Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ternyata tidak terlalu bergantung pada bursa saham global.
Kajian Ajaib Sekuritas terhadap data Juli 2021-Juli 2026 menunjukkan pengaruh sejumlah indeks utama dunia terhadap IHSG memiliki nilai R-Square di bawah 10%.
Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan faktor domestik masih menjadi penggerak utama IHSG, meski pasar saham Indonesia tetap menghadapi sentimen global.
Baca Juga: Intip Rekomendasi Saham Pilihan Hari Ini (10/9), IHSG Diproyeksi Rebound
Pada periode yang sama, indeks KOSPI memiliki Beta terhadap IHSG sebesar 0,20 dengan R-Square 9,92%. Artinya, sekitar 90,08% pergerakan IHSG dalam kajian tersebut tidak dijelaskan oleh pergerakan KOSPI.
Pola serupa terlihat pada S&P 500 dengan Beta 0,20 dan R-Square 4,26%. Sementara itu, KLCI mencatat Beta 0,43 dengan R-Square 7,31% dan Nikkei 225 memiliki Beta 0,14 dengan R-Square 3,36%.
"Ketergantungan IHSG terhadap pasar global relatif terbatas," ujar Ratih kepada Kontan, Rabu (16/9/2026).
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat pasar keuangan domestik dinilai masih memiliki daya tahan menjelang keputusan suku bunga The Fed.
Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin ke 3,75%-4,00% mencapai 92%.
Di pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun diperkirakan masih terkendali di kisaran 7,10%-7,30%. Kondisi ini ditopang real yield domestik sekitar 4% dengan inflasi Agustus sebesar 3,1%.
Baca Juga: Mengawali Pekan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (14/9)
Sementara itu, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp 17.500-Rp 17.850 per dolar AS. Pada 16 September 2026, rupiah berada di level Rp 17.712 per dolar AS, atau telah menguat 2,6% dari posisi terendah sebelumnya.
Penguatan rupiah tersebut antara lain ditopang instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Dalam lelang 11 September 2026, SRBI menawarkan imbal hasil 6,8%-7,3% dan menyerap likuiditas hingga Rp 1.062,91 triliun pada Agustus 2026, naik 40,83% dari Rp 754,76 triliun pada Januari 2026.














