: WIB    —   
indikator  I  

Direktur Global Kapital kapok investasi reksadana

Direktur Global Kapital kapok investasi reksadana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penuh perhitungan! Sepertinya hal tersebut cocok untuk menggambarkan sosok Direktur Pemasaran PT Global Kapital Investama Berjangka Ervan Permadi. Hal tersebut tecermin dari strateginya menunda berinvestasi meski sudah lama berkecimpung di bidang jasa keuangan.

Lulusan jurusan teknik sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengaku baru mulai berinvestasi pada tahun 2007. Padahal sejak tahun 2002, ia sudah bergabung dengan PT Valbury Asia Futures.

Ervan beralasan, saat itu ia lebih memilih mencukupi kebutuhan primer terlebih dahulu sebelum mengalihkan dananya untuk berinvestasi. Pikiran saya sederhana, saya mau mapan dulu, kenang dia.

Setelah target memiliki rumah, kendaraan dan menikah terpenuhi, ia baru mulai berpikir untuk berinvestasi. Instrumen awal yang dicobanya adalah reksadana. Ia memilih reksadana lantaran pengelolaan dilakukan oleh manajer investasi, sehingga ia tidak perlu meluangkan waktu untuk memantau sendiri kondisi portofolionya.

Selain itu, Ervan juga memilih reksadana lantaran faktor modal. Dengan alasan modalnya masih terbatas, ia lebih memilih untuk memulai investasi di reksadana terlebih dahulu.

Ervan memilih reksadana saham. Saat itu, pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cukup menarik dan berhasil memberikan keuntungan hingga 57% per tahun.

Tapi malang tak dapat ditolak. Setahun berselang, Ervan memutuskan menarik semua dananya di reksadana. Krisis kredit perumahan di Amerika Serikat (AS), atau yang dikenal dengan subprime mortgage crisis, telah membuat IHSG anjlok dan menyeret nilai investasi Ervan di reksadana.

Modal reksadana Ervan terkikis hingga hanya tinggal 40% . Saat itu, saya melikuidasi reksadana saya dan keluar sebagai loser, kisah dia. Padahal, kalau saat itu ia sedikit bersabar, IHSG kembali rebound. Yang jelas, insiden tersebut membuat Ervan kapok dan enggan berinvestasi di reksadana.

Lebih moderat

Setelah meninggalkan reksadana, pria asal Bandung ini menjajal investasi di sektor bursa berjangka. Selain mencari instrumen yang keuntungannya lebih tinggi, saat itu Ervan memiliki alokasi modal yang lebih besar untuk berinvestasi. Pilihannya jatuh pada produk pasar uang dan emas.

Memang banyak orang yang menilai bursa berjangka memiliki tingkat risiko yang tinggi. Tetapi bagi Ervan, dengan adanya asas leverage yang tinggi, hal ini justru memudahkan investor karena tak memerlukan modal besar.

Jangka waktu investasinya pun tak lama. Asal pemilihan waktu tepat, investor bisa mendapatkan untung besar. Menurut Ervan, ketika berinvestasi di bursa berjangka, keuntungan bisa didapat dalam waktu lima menit.

Keuntungan Ervan dari investasi di bursa berjangka cukup dahsyat. "Yang paling saya ingat, rekor saya pernah mendapatkan profit hingga 200%. Hasilnya langsung saya belikan motor CBR baru," kenang dia.

Seiring bertambahnya usia, Ervan mulai melirik instrumen yang lebih moderat. Karena itu ia masuk ke sektor properti sejak 2011 silam. Ia memilih membeli rumah tapak di Bandung.

Dibandingkan dengan apartemen yang biaya pengelolaannya mahal, menurutnya lebih nyaman berinvestasi di rumah tapak. Sekarang ini, properti yang dimilikinya banyak difungsikan sebagai rumah kos atau disewakan. Ervan punya prinsip, kalau seseorang memiliki properti lebih baik ditahan dan biaya perawatannya diperoleh dari pembayaran sewa.

Pada prinsipnya, dalam berinvestasi Ervan menganut asas don't put all your egg in one basket. Investor tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari, sehingga harus banyak bidang yang dikuasai. Selain itu, investor juga harus cermat. Investor harus tahu, kapan waktu yang pas untuk investasi jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.


Reporter RR Putri Werdiningsih
Editor Yudho Winarto

CEO

Feedback   ↑ x
Close [X]