kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.628.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.855   89,00   0,50%
  • IDX 6.385   -56,43   -0,88%
  • KOMPAS100 835   -7,46   -0,89%
  • LQ45 634   -5,96   -0,93%
  • ISSI 222   -3,01   -1,34%
  • IDX30 353   -3,37   -0,95%
  • IDXHIDIV20 440   -4,01   -0,90%
  • IDX80 95   -0,92   -0,95%
  • IDXV30 121   -0,86   -0,71%
  • IDXQ30 114   -1,28   -1,12%

Sekitar 50 Tambang Belum Dapat Revisi RKAB, Begini Nasib Emiten Jasa Tambang


Senin, 21 September 2026 / 18:11 WIB
Sekitar 50 Tambang Belum Dapat Revisi RKAB, Begini Nasib Emiten Jasa Tambang
ILUSTRASI. Ketidakpastian persetujuan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) masih menjadi perhatian bagi emiten jasa pertambangan (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketidakpastian persetujuan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) masih menjadi perhatian bagi emiten jasa pertambangan. Hingga 10 September 2026, sekitar 50 perusahaan tambang masih menunggu persetujuan revisi RKAB, yang berpotensi menunda realisasi volume produksi dan pekerjaan kontraktor tambang.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Brigita Kinari mengatakan, keterlambatan revisi RKAB lebih berpotensi menunda tambahan volume pekerjaan daripada merusak fundamental bisnis kontraktor tambang. Menurut dia, tekanan utama terhadap sektor tersebut justru sudah terlihat dari kuota produksi batu bara 2026 yang sekitar 600 juta ton atau turun sekitar 24% dibandingkan realisasi 2025.

“Keterlambatan revisi RKAB lebih kami lihat sebagai penundaan upside volume, bukan kerusakan fundamental. Pukulan utamanya sudah terjadi lewat kuota batu bara 2026 sekitar 600 juta ton, turun sekitar 24% dari realisasi 2025,” ujar Brigita kepada Kontan, Senin (21/9/2026).

Menurut dia, sekitar 50 pengajuan revisi RKAB masih tertunda per 10 September, sementara waktu yang tersisa hingga akhir tahun sekitar 100 hari. Dengan kondisi tersebut, tambahan kuota yang diperoleh kontraktor dari revisi RKAB diperkirakan lebih terasa dampaknya terhadap kinerja pada 2027 dibandingkan 2026.

Baca Juga: Divergensi Bank Sentral & Geopolitik Bayangi Valas Utama, Cek Proyeksinya

Dampak revisi RKAB terhadap kontraktor tambang

Sementara itu, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai dampak keterlambatan RKAB cukup signifikan bagi emiten jasa pertambangan. Pasalnya, model bisnis kontraktor tambang sangat bergantung pada volume produksi pelanggan.

Dengan masih adanya sekitar 50 perusahaan tambang yang menunggu persetujuan revisi RKAB, pekerjaan yang seharusnya dapat dieksekusi penuh berpotensi tertunda. Kondisi tersebut dapat menekan tingkat utilisasi alat berat dan tenaga kerja yang telah disiapkan kontraktor.

Jika produksi pelanggan tidak berjalan optimal, dampaknya juga dapat langsung terlihat pada pendapatan dan margin. Brigita mengatakan, penurunan volume pekerjaan dan utilisasi alat dapat menekan pendapatan kontraktor karena sebagian biaya operasional tetap berjalan.

“Dampak utamanya adalah penurunan volume pekerjaan dan utilisasi alat, yang pada akhirnya dapat menekan revenue dan margin kontraktor karena sebagian biaya operasional tetap berjalan,” jelas Brigita.

Abida menambahkan, pendapatan berbasis volume seperti pengupasan lapisan tanah dan pengangkutan batu bara akan menurun sejalan dengan lebih rendahnya produksi pelanggan. Di sisi lain, biaya tetap seperti depresiasi alat berat dan biaya siaga tetap harus ditanggung meski tingkat utilisasi menurun.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memberikan tekanan signifikan terhadap margin kontraktor tambang. Risiko akan semakin besar bagi perusahaan yang memiliki konsentrasi pelanggan tinggi dan sangat bergantung pada produksi pelanggan yang terdampak keterlambatan RKAB.

Diversifikasi jadi strategi emiten jasa pertambangan

Karena itu, diversifikasi menjadi salah satu strategi penting untuk menjaga kinerja emiten jasa pertambangan. Brigita menilai kontraktor perlu memperluas basis pelanggan dan komoditas sekaligus menjaga utilisasi alat.

Baca Juga: Valas Utama Tertekan Dolar, Cemati Prospek JPY, EUR, dan GBP

“Menurut saya, mitigasi utamanya adalah diversifikasi pelanggan dan komoditas serta menjaga utilisasi alat. Ini menjadi semakin penting karena pemerintah sedang menata volume produksi agar lebih sesuai dengan supply-demand,” kata dia.

Sejalan dengan riset Indo Premier Sekuritas, Brigita menyebut batu bara termal serta tembaga dan emas masih menjadi komoditas yang lebih dipilih. Kontraktor dengan eksposur terhadap komoditas tersebut dinilai memiliki sumber pertumbuhan yang lebih beragam di tengah pengetatan produksi batu bara dan ketidakpastian pasokan nikel.

Abida juga melihat diversifikasi pelanggan lintas tambang dapat mengurangi risiko apabila salah satu pelanggan mengalami kendala RKAB. Selain itu, diversifikasi ke komoditas mineral kritis seperti nikel dan emas dapat memberikan penyangga tambahan di luar batu bara.

Kontrak jangka panjang dengan ketentuan volume minimum juga dapat membantu menjaga visibilitas pendapatan kontraktor ketika produksi pelanggan mengalami tekanan.

Prospek jasa pertambangan 2026 dan 2027

Untuk prospek hingga akhir 2026, Brigita menilai bisnis jasa pertambangan masih akan menghadapi kondisi yang beragam karena volume pekerjaan sangat bergantung pada realisasi RKAB masing-masing pelanggan.

“Untuk 2H26, prospek jasa pertambangan cenderung mixed, karena volume masih sangat bergantung pada realisasi RKAB masing-masing pelanggan,” ungkapnya.

Sementara untuk 2027, prospek sektor tersebut akan lebih ditentukan oleh normalisasi volume produksi, perolehan kontrak baru, serta keberhasilan diversifikasi komoditas. Kontraktor dengan eksposur lebih luas di luar batu bara berpotensi memiliki sumber pertumbuhan yang lebih beragam.

Abida juga memperkirakan 2026 masih dibayangi ketidakpastian RKAB dalam jangka pendek. Namun, prospek pada 2027 berpotensi membaik seiring penyelesaian persetujuan RKAB secara bertahap dan pola historis RKAB yang cenderung lebih longgar pada periode berikutnya.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham ERAA, TOWR, dan SILO untuk Perdagangan Selasa (22/9/2026)

Menurut Abida, emiten dengan pelanggan yang terdiversifikasi dan memiliki kontrak jangka panjang berpeluang mengalami pemulihan lebih cepat.

UNTR dinilai memiliki diversifikasi bisnis

Dari sisi emiten, Abida menilai PT United Tractors Tbk (UNTR) melalui PT Pamapersada Nusantara menjadi salah satu perusahaan yang layak dicermati. Pama memiliki skala bisnis jasa pertambangan yang besar dengan basis pelanggan yang tersebar di komoditas batu bara, nikel, dan emas.

Selain itu, diversifikasi bisnis grup ke batu bara metalurgi dan alat berat memberikan sumber pendapatan tambahan di luar jasa pertambangan. Menurut Abida, struktur bisnis tersebut membuat UNTR memiliki penyangga yang lebih kuat terhadap risiko konsentrasi RKAB dibandingkan kontraktor yang hanya berfokus pada jasa pertambangan batu bara.

BRI Danareksa Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk saham UNTR dengan target harga Rp30.600 per saham. Rekomendasi tersebut didukung oleh arus kas bebas yang kuat serta model bisnis yang terdiversifikasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×