CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.600.000   -25.000   -0,95%
  • USD/IDR 17.627   61,00   0,35%
  • IDX 6.541   -47,96   -0,73%
  • KOMPAS100 858   -8,05   -0,93%
  • LQ45 650   -6,26   -0,95%
  • ISSI 227   -3,10   -1,35%
  • IDX30 361   -3,60   -0,99%
  • IDXHIDIV20 450   -2,93   -0,65%
  • IDX80 98   -0,98   -0,99%
  • IDXV30 125   -0,95   -0,75%
  • IDXQ30 116   -1,19   -1,02%

Yield Treasury Nyaris 5%, Wall Street Bersiap Hadapi Kenaikan Bunga The Fed


Jumat, 11 September 2026 / 23:04 WIB
Yield Treasury Nyaris 5%, Wall Street Bersiap Hadapi Kenaikan Bunga The Fed
ILUSTRASI. Wall Street - Bursa AS (REUTERS/Brendan McDermid)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Investor Wall Street bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pekan depan.

Kebijakan tersebut berpotensi mengancam reli pasar saham Amerika Serikat (AS) yang mulai menghadapi tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi.

The Fed telah mempertahankan suku bunga sepanjang 2026. Namun, peluang kenaikan bunga pada September meningkat setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan pandangan yang dinilai hawkish dalam pidatonya bulan lalu.

Baca Juga: IHSG Turun 0,72% ke 6.541, Cermati Saham yang Banyak Diborong Asing di Akhir Pekan

Data inflasi terbaru AS semakin memperkuat ekspektasi tersebut. Inflasi konsumen pada Agustus meningkat, sementara inflasi inti yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi naik 0,3% secara bulanan, lebih tinggi dari perkiraan.

"Bobotnya sekarang mengarah pada kenaikan suku bunga pada September," kata Chief Investment Officer BNY Wealth Alicia Levine.

Menurut data LSEG, kontrak futures Fed Funds pada Jumat (11/9) menunjukkan, peluang lebih dari 80% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam rapat yang berlangsung selama dua hari dan berakhir Rabu pekan depan.

Suku bunga acuan The Fed saat ini berada di kisaran 3,5%-3,75%.

Ekspektasi tersebut masih berubah-ubah dalam beberapa pekan terakhir seiring investor mencermati data ekonomi dan pernyataan pejabat The Fed.

Laporan ketenagakerjaan terbaru yang menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja bulanan lebih kuat dari perkiraan turut meningkatkan peluang kenaikan suku bunga.

Inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE), yang menjadi salah satu indikator utama yang digunakan The Fed untuk menilai tekanan inflasi, juga masih berada di level 3,3% secara tahunan.

Baca Juga: IHSG Turun 3 Hari Berturut-turut, Cek Saham Net Sell Terbesar Asing di Akhir Pekan

Wall Street mulai rentan

Kenaikan suku bunga dapat memberikan tekanan terhadap pasar saham melalui sejumlah saluran.

Biaya pinjaman bagi konsumen dan perusahaan berpotensi meningkat, sementara kenaikan yield Treasury membuat obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan saham.

Indeks S&P 500 telah menguat sekitar 12% sepanjang 2026, ditopang pertumbuhan laba perusahaan yang kuat serta investasi besar-besaran pada infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Namun, indeks tersebut belakangan mulai terkoreksi dan berada sekitar 2% di bawah level tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada pertengahan Agustus.

Tekanan juga datang dari pasar obligasi. Yield Treasury AS meningkat ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: Wall Street Dibuka Menguat Jumat (11/9), S&P 500 Naik 0,59% di Tengah Inflasi AS

Yield Treasury 10 tahun sempat menyentuh 4,99% pada Jumat, level tertinggi dalam hampir tiga tahun, sebelum kembali turun pada perdagangan selanjutnya.

"Ini adalah periode dengan banyak ketidakpastian. Ada kenaikan yield dan ekspektasi kenaikan suku bunga. Ada kegugupan secara keseluruhan yang harus diperhitungkan oleh pasar," kata Macro Multi-Asset Strategist State Street Cayla Seder.

Di sisi lain, ketegangan antara AS dan Iran juga menjadi risiko bagi pasar. Konflik tersebut mendorong harga minyak menembus US$100 per barel pada pekan ini sehingga menambah kekhawatiran terhadap inflasi.

Pada Jumat, saham AS menguat setelah harga minyak mulai mereda.

Investor tunggu sinyal The Fed

Investor tidak hanya mencermati apakah The Fed menaikkan suku bunga pada September. Pasar juga akan mencari petunjuk apakah kenaikan tersebut merupakan langkah satu kali atau awal dari siklus pengetatan baru.

"Jika The Fed memberi sinyal bahwa ini adalah sebuah siklus, seperti masih ada pekerjaan yang harus dilakukan, saya kira itu tidak akan bagus bagi pasar," ujar Levine.

Sederet investor juga menilai keputusan The Fed akan menjadi ujian terhadap kredibilitas Warsh dalam memerangi inflasi. Kredibilitas tersebut sempat menjadi sorotan setelah konferensi pers pada rapat The Fed Juli lalu.

"Pasar masih sedikit khawatir terkait independensi The Fed," kata Head of Portfolio Strategy Citi Wealth JP Coviello.

Baca Juga: IHSG Terkoreksi 1,43% di Pekan Ini, Simak Proyeksi di Pekan Depan

Jika The Fed menaikkan bunga dan yield obligasi terus meningkat, saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga berpotensi mendapat tekanan lebih besar.

Saham perusahaan berkapitalisasi kecil menjadi salah satu kelompok yang rentan karena cenderung lebih bergantung pada pembiayaan berbasis utang.

Meski demikian, kenaikan yield juga mencerminkan ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat.

Kinerja laba perusahaan yang solid menjadi salah satu faktor yang masih menopang fundamental pasar saham.

"Dengan tingkat pertumbuhan laba yang kami lihat di tingkat korporasi, menurut pandangan kami, hal tersebut lebih besar daripada kenaikan real yield dari perspektif investasi saham," kata Coviello.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×