Reporter: Yuliana Hema | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury mendekati 5% dan keputusan Bank Sentral Eropa (ECB) menggerek suku bunga meningkatkan risiko arus keluar dana asing dari pasar keuangan Indonesia.
Pasar negara berkembang kembali tertekan setelah yield US Treasury melonjak, di tengah kenaikan harga minyak mentah dan penantian data inflasi Amerika Serikat. Kondisi ini memicu aksi jual aset emerging market.
Bloomberg melaporkan, saham dan obligasi emerging market melemah pada Jumat (11/9), dengan obligasi Korea Selatan dan Indonesia memimpin penurunan di Asia. Indeks MSCI Emerging Market bahkan sempat turun 1,8%.
Yield US Treasury tenor 10 tahun juga mendekati level psikologis 5%, yang dinilai sejumlah investor berpotensi mempercepat arus keluar dari aset emerging market, termasuk pasar keuangan Indonesia.
Baca Juga: Penjualan Mobil Astra (ASII) Naik 20,5% di Agustus 2026, Tapi Pangsa Pasar Turun
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai potensi pergerakan dana asing memang meningkat setelah ECB menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 2,5%. Namun, arus keluar besar belum terjadi.
"Potensi pergeseran dana asing memang meningkat, tetapi kenaikan suku bunga Eropa dan yield AS belum otomatis berarti dana asing keluar besar-besaran dari Indonesia,” jelasnya kepada Kontan, Jumat (11/9).
Josua menyebut kenaikan suku bunga Eropa terjadi karena tekanan inflasi masih tinggi akibat konflik Timur Tengah. Adapun inflasi kawasan Eropa diperkirakan mencapai 3% pada 2026 dan 2,5% pada 2027.
Situasi tersebut membuat investor global memiliki alternatif imbal hasil lebih menarik dari aset negara maju dengan risiko relatif lebih rendah. Namun, Josua menilai pergerakan yield AS justru lebih penting bagi SBN.
Menurutnya, yield obligasi pemerintah AS menjadi acuan utama harga uang global. Jika yield AS naik sementara yield SBN tetap, selisih keuntungan memegang SBN akan menyempit dan mengurangi kompensasi risiko rupiah.
"Tekanan dari Amerika Serikat lebih penting bagi SBN dibanding kenaikan suku bunga Eropa, karena yield obligasi pemerintah AS menjadi acuan utama harga uang global," ucap Josua.
Meski demikian, Josua belum melihat bukti Indonesia mengalami arus keluar besar akibat perubahan tersebut. Dalam catatan dia, dana asing masih masuk US$ 80 juta ke SBN dan US$ 160 juta ke saham.
Sementara itu, SRBI mengalami arus keluar sekitar US$500 juta, sehingga total arus portofolio sementara mencapai minus US$260 juta. Menurut Josua, penyesuaian tersebut belum menunjukkan penjualan SBN secara menyeluruh.
Baca Juga: Menilik Diversifikasi Nusa Konstruksi (DGIK), Incar Proyek Tambang hingga Data Center
Untuk SBN tenor 10 tahun, Josua memperkirakan yield bergerak pada kisaran 7,10%-7,35% dalam jangka pendek. Yield berpotensi menuju batas atas apabila yield US Treasury bertahan sekitar 4,8%–4,9%.
Josua bilang jika yield US Treasury menembus 5%, harga minyak kembali di atas US$100 per barel, rupiah tertekan, dan arus keluar asing membesar, yield SBN 10 tahun berpotensi menguji 7,35%–7,50%.
"Kisaran 7,10%–7,35% masih menjadi skenario dasar SBN 10 tahun, dengan risiko menuju 7,35%–7,50% jika tekanan global memburuk secara bersamaan," ujar Josua Pardede.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menambahkan rotasi dana asing tetap berpotensi terjadi apabila semakin banyak bank sentral global menaikkan suku bunga.
Menurut Nico, kenaikan suku bunga akan mendorong harga obligasi turun dan membuat yield meningkat. Investor kemudian akan membandingkan tingkat imbal hasil serta risiko antarnegara secara lebih ketat.
"Rotasi dana asing tentu pasti ada, terutama ketika berbagai bank sentral di seluruh dunia menaikkan tingkat suku bunga, sehingga risk and reward akan diperhitungkan lebih cermat," jelasnya.
Nico mengatakan negara dengan peringkat kredit di bawah A perlu menyesuaikan yield obligasinya terhadap pergerakan yield negara berperingkat lebih tinggi. Jika tidak, daya tarik aset tersebut akan menurun.
Baca Juga: Pefindo Kerek Peringkat WSKT Jadi idB dari idSD, Tapi Masih CreditWatch Negative
Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan yield Surat Utang Negara (SUN). Jika yield SUN tidak menyesuaikan kenaikan yield obligasi negara maju, investor asing berpotensi melakukan capital outflow.
"Apabila yield SUN tidak menyesuaikan, capital outflow akan terjadi karena pasar obligasi dalam negeri menjadi kurang menarik dari sisi risk and reward," kata Nico.
Namun, Nico menilai pergerakan pasar obligasi domestik masih relatif terbatas karena kepemilikan investor dalam negeri telah mencapai lebih dari 80%. Kendati demikian, keluarnya investor tetap menjadi sinyal negatif.
Dia bilang kenaikan yield obligasi negara berperingkat AAA pada akhirnya akan diikuti penyesuaian yield negara dengan peringkat lebih rendah. Tujuannya mempertahankan daya tarik investasi di tengah perubahan ekspektasi global.
"Ketika yield SUN naik tinggi, pasar saham tentu tidak menarik sehingga rotasi dana akan kembali terjadi dari pasar saham ke pasar obligasi," kata Nico.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














