kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.613.000   -9.000   -0,34%
  • USD/IDR 18.096   61,00   0,34%
  • IDX 6.131   -55,20   -0,89%
  • KOMPAS100 800   -7,14   -0,88%
  • LQ45 608   -4,53   -0,74%
  • ISSI 212   -1,96   -0,92%
  • IDX30 342   -2,78   -0,81%
  • IDXHIDIV20 423   -3,94   -0,92%
  • IDX80 91   -0,74   -0,80%
  • IDXV30 116   -0,67   -0,57%
  • IDXQ30 110   -0,83   -0,75%

Laba Unilever (UNVR) Tertahan Biaya Bahan Baku, Analis Tetap Pasang Posisi Hold


Selasa, 28 Juli 2026 / 22:55 WIB
Laba Unilever (UNVR) Tertahan Biaya Bahan Baku, Analis Tetap Pasang Posisi Hold
ILUSTRASI. Suasana kantor pusat PT. Unilever Indonesia Tbk (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencatatkan pertumbuhan penjualan yang lebih kuat pada kuartal II 2026. Namun, kenaikan biaya bahan baku dan tekanan terhadap margin laba kotor membuat pertumbuhan laba perseroan belum mampu mengimbangi laju kenaikan penjualan.

Berdasarkan laporan keuangan semester I 2026, Unilever membukukan laba inti sebesar Rp 2,1 triliun, naik 10,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penjualan bersih mencapai Rp 16,9 triliun atau tumbuh 7,1% secara tahunan.

Analis Indo Premier Sekuritas Andrianto Saputra dalam riset 28 Juli 2026 menilai capaian tersebut masih sesuai dengan ekspektasi pasar maupun proyeksi perusahaannya.

Baca Juga: Laba Bersih Indosat (ISAT) Naik 84,5% pada Semester I-2026

"Laba inti semester I 2026 maupun penjualan bersih berada sejalan dengan estimasi kami dan konsensus. Namun, pertumbuhan laba kuartal II tertahan oleh tekanan pada margin laba kotor meski pertumbuhan penjualan cukup solid," tulis Andrianto dalam risetnya.

Pada kuartal II 2026, penjualan bersih Unilever naik 11,6% menjadi Rp 8,5 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh kenaikan volume penjualan sebesar 12,7%, sementara harga jual rata-rata turun 1,7% karena perseroan melakukan penyesuaian harga agar produknya tetap kompetitif di pasar.

Menurut Andrianto, pertumbuhan volume yang tinggi juga dipengaruhi oleh basis pembanding yang rendah pada tahun sebelumnya serta pergeseran momentum Hari Raya Idulfitri. Distributor mulai menambah stok pada April 2026, berbeda dengan tahun sebelumnya ketika pengisian stok terjadi pada Maret.

Meski penjualan tumbuh dua digit, margin laba kotor alias gross profit margin (GPM) turun menjadi 45% pada kuartal II 2026 atau menyusut 316 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan tersebut dipicu oleh lonjakan harga minyak sebagai bahan baku yang meningkat sekitar 45% secara tahunan, di tengah penurunan harga jual rata-rata produk.

Di sisi lain, rasio beban operasional terhadap penjualan juga naik menjadi 33,9%. Penurunan belanja iklan dan promosi belum mampu mengimbangi kenaikan biaya distribusi akibat harga bahan bakar yang lebih tinggi. Alhasil, margin laba operasional (EBIT) turun menjadi 11,1%.

Dengan kondisi tersebut, laba bersih Unilever pada kuartal II 2026 tercatat Rp 829 miliar atau hanya tumbuh 4,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, margin laba bersih turun menjadi 9,8%.

Meski margin masih tertekan, Andrianto memperkirakan kondisi tersebut mulai membaik pada paruh kedua tahun ini. UNVR telah menerapkan kenaikan harga secara selektif sebesar 3%-5% pada sejumlah produk sejak Juni 2026 untuk mengimbangi kenaikan biaya bahan baku.

"Manajemen memperkirakan kenaikan harga tersebut akan membantu pemulihan margin laba kotor pada semester II 2026," ujar Andrianto.

Namun, ia mencatat Unilever masih akan menanggung biaya transformasi yang cukup besar pada kuartal III 2026, dengan nilai sekitar Rp 180 miliar atau sekitar 2% dari penjualan, sebelum beban tersebut diperkirakan menurun pada kuartal IV.

Baca Juga: Asing Net Sell Jumbo Rp 1 Triliun, Cek Saham yang Banyak Dilego, Selasa (28/7)

Mencermati prospek tersebut, Indo Premier Sekuritas mempertahankan rekomendasi hold untuk saham UNVR dengan target harga Rp 2.100 per saham, menggunakan valuasi 20 kali price to earnings (PE) tahun 2026. Harga saham UNVR naik 1,49% di Rp 1.705 per saham pada Selasa (28/7/2026). 

Menurut Andrianto, risiko utama terhadap prospek Unilever masih berasal dari tingginya harga minyak sebagai bahan baku serta potensi melemahnya daya beli masyarakat yang dapat membatasi pertumbuhan penjualan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×