kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.000   153,00   0,86%
  • IDX 5.941   -254,36   -4,11%
  • KOMPAS100 785   -38,94   -4,72%
  • LQ45 589   -30,28   -4,89%
  • ISSI 206   -8,52   -3,97%
  • IDX30 334   -15,73   -4,50%
  • IDXHIDIV20 412   -15,89   -3,71%
  • IDX80 89   -4,83   -5,16%
  • IDXV30 113   -4,09   -3,48%
  • IDXQ30 108   -4,46   -3,97%

Reli Wall Street Terhenti Rabu (3/6), Ketegangan Timur Tengah Picu Aksi Ambil Untung


Rabu, 03 Juni 2026 / 22:41 WIB
Reli Wall Street Terhenti Rabu (3/6), Ketegangan Timur Tengah Picu Aksi Ambil Untung
ILUSTRASI. Wall Street (REUTERS/Andrew Kelly)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Rabu (3/6), setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi baru.

Kenaikan harga minyak akibat memanasnya konflik di Timur Tengah mendorong investor melakukan aksi ambil untung dan meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek inflasi.

Indeks-indeks utama Wall Street terkoreksi setelah reli yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir. Saham-saham yang sebelumnya menjadi motor penguatan pasar justru mencatat penurunan terdalam.

Baca Juga: Henan Asset Kelola Dana Rp 13 Triliun, Investor Tembus 110.000 per Mei 2026

Melansir Reuters pukul 10.03 waktu setempat, indeks Dow Jones Industrial Average turun 278,51 poin atau 0,54% ke level 51.029,28. Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 27,18 poin atau 0,36% ke posisi 7.582,48 dan Nasdaq Composite terkoreksi 134,41 poin atau 0,50% menjadi 26.959,49.

Indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 bahkan turun lebih dalam, yakni 1,3%.

Sektor perangkat lunak turun 3,1% setelah mengalami penguatan tajam sebelumnya. Saham Datadog, Palo Alto Networks, dan IBM masing-masing merosot antara 6,7% hingga 7,7%.

Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, empat sektor berada di zona merah dengan sektor teknologi memimpin pelemahan.

Baca Juga: CFX Dorong Inovasi Ekosistem Kripto Lewat Konferensi Kripto

Padahal sehari sebelumnya, S&P 500 berhasil menembus level 7.600 untuk pertama kalinya, sementara ketiga indeks utama Wall Street ditutup pada rekor tertinggi baru. Penguatan tersebut ditopang optimisme terhadap belanja kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang masih kuat.

Indeks semikonduktor Philadelphia juga turun 0,7%. Saham Broadcom melemah 1,2% menjelang pengumuman laporan keuangan kuartalannya yang dijadwalkan setelah penutupan pasar. Hasil kinerja Broadcom dinilai akan menjadi ujian berikutnya bagi optimisme pasar terhadap tema AI.

Berbeda dengan mayoritas saham teknologi, Marvell Technology justru melanjutkan penguatan dengan kenaikan 2%. Kapitalisasi pasarnya kini mencapai US$ 250 miliar, sehari setelah CEO Nvidia Jensen Huang menyebut perusahaan tersebut berpotensi menjadi "perusahaan bernilai US$ 1 triliun berikutnya".

Baca Juga: FINI Proyeksikan Investasi Hilirisasi Nikel Bertambah US$ 20 Miliar hingga Tahun 2028

Di sisi korporasi, saham sejumlah manajer aset alternatif seperti KKR, Blackstone, Blue Owl Capital, dan Ares Management turun antara 5,3% hingga 6,3% setelah perusahaan investasi asal Swiss, Partners Group, membatasi penarikan dana dari salah satu dana private equity senilai US$ 8,6 miliar.

Sementara itu, saham GameStop melonjak 8,5% setelah melaporkan kenaikan pendapatan kuartalan dan mengumumkan program pembelian kembali saham (buyback) senilai US$ 2 miliar.

Kabar lain datang dari SpaceX milik Elon Musk yang dikabarkan berencana menetapkan harga penawaran umum perdana saham (IPO) sebesar US$ 135 per saham.

Melalui aksi korporasi tersebut, SpaceX berpotensi menghimpun dana hingga US$ 75 miliar, menjadikannya salah satu IPO terbesar dalam sejarah pasar modal AS.

Di sisi lain, harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 2% setelah serangan rudal Iran dilaporkan merusak bandara Kuwait dan militer AS melakukan serangan di sekitar Selat Hormuz.

Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global yang dapat memicu tekanan inflasi lebih lanjut.

Baca Juga: Prospek Emiten Migas Tetap Positif Walau Harga Minyak Dunia Terkoreksi

"Kami tidak melihat koreksi besar di pasar saham AS kecuali terdapat bukti kuat bahwa situasi di Timur Tengah benar-benar mendorong lonjakan inflasi seperti yang terjadi pada 2022," ujar Chief Investment Officer Social Discovery Ventures, Alexander Lis.

Di sisi lain, data terbaru menunjukkan aktivitas sektor jasa AS meningkat pada Mei. Perusahaan-perusahaan diketahui mempercepat pemesanan barang dan menambah persediaan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kelangkaan pasokan serta kenaikan harga akibat perang yang melibatkan Iran.

Data tersebut dirilis menjelang laporan ketenagakerjaan AS atau nonfarm payrolls yang akan diumumkan pada Jumat (5/6).

Baca Juga: PMI Manufaktur Indonesia Naik, Dampak Bagi Emiten Tak Instan

Laporan tersebut diperkirakan menjadi salah satu penentu arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) ke depan.

Pasar uang saat ini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga sepanjang sisa tahun ini, meski peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mulai meningkat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×