Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan setelah pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI). Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah menjadi lima hari perdagangan berturut-turut.
Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 18.083 per dolar AS, melemah 0,41% dibandingkan penutupan Senin (27/7) yang berada di Rp 18.009 per dolar AS.
Sejalan dengan itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga melemah ke level Rp 18.088 per dolar AS, turun 0,52% dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 17.995 per dolar AS.
Baca Juga: Pengguna TRIV Tumbuh 25% Hingga Semester I 2026
Dengan pelemahan tersebut, rupiah semakin mendekati rekor terendah sepanjang masa di Rp 18.190 per dolar AS yang tercatat pada 8 Juni 2026.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan mengatakan pasar sempat merespons negatif pengunduran diri Perry Warjiyo karena meningkatkan ketidakpastian di tengah pelemahan rupiah, derasnya arus keluar dana asing, serta potensi kenaikan suku bunga global.
"Ketidakpastian ekonomi dalam negeri usai pengunduran diri Perry Warjiyo secara mendadak meningkatkan ketidakpastian pasar akibat transisi kepemimpinan yang baru di tengah depresiasi rupiah, derasnya outflow dana asing serta potensi tren kenaikan suku bunga global," ujar Ibrahim, Selasa (28/7/2026).
Namun, menurut Ibrahim, penunjukan Destry Damayanti sebagai Plt. Gubernur BI memberikan optimisme bahwa bank sentral tetap berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta mempertahankan stabilitas sistem keuangan.
Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada proses penunjukan Gubernur BI definitif. Ibrahim menilai proses transisi yang berjalan lancar serta terpilihnya figur yang kredibel akan menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap independensi Bank Indonesia.
Kemudian, Ibrahim juga menyoroti lembaga pemeringkat S&P Global Ratings ikut merespons berita pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia.
Ibrahim mencatat, bahwa Sovereign Analyst di S&P Global Ratings, Rain Yin, mengatakan kepada outlet media Bloomberg bahwa ia menilai pengunduran diri Perry Warjiyo tidak berdampak langsung pada sovereign rating Indonesia, meski hal tersebut dapat berkontribusi pada peningkatan risiko terkait prospek kebijakan negara.
Baca Juga: Saham Buyback Distribusi Voucher (DIVA) Belum Laku, Periode Penjualan Diperpanjang
Untuk perdagangan Rabu (29/7), Ibrahim memperkirakan perhatian pasar global akan tertuju pada hasil rapat Federal Reserve. Bank sentral AS diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya, meski arah kebijakan ke depan masih dipengaruhi perkembangan geopolitik dan tekanan inflasi.
Selain keputusan suku bunga, investor juga menantikan pernyataan Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh, setelah sebelumnya menerima komentar yang cenderung hawkish darinya sejak keputusan suku bunga bank sentral terakhir pada bulan Juni. Warsh telah menegaskan komitmen Federal Open Market Committee (FOMC) untuk menjaga stabilitas harga.
“Kalender ekonomi minggu ini juga akan memberikan petunjuk mengenai kebijakan moneter, karena para pelaku pasar akan menerima data PDB AS kuartal kedua serta indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) bulan Juni yang merupakan indikator inflasi acuan bagi Fed,” lanjut Ibrahim
Menurut Ibrahim, kombinasi sentimen domestik dan global tersebut akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (29/7) bergerak di kisaran Rp 17.960-Rp 18.020 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














