Reporter: Dimas Andi | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri pertambangan batubara yang kerap disebut memasuki fase senja ternyata masih menjadi magnet bagi sejumlah perusahaan terbuka. Hal ini tercermin dari maraknya aksi ekspansi emiten non-tambang yang memilih masuk ke bisnis batubara melalui skema akuisisi.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa prospek arus kas yang masih kuat, tingginya harga batubara, serta peluang memperoleh aset tambang yang telah beroperasi menjadi daya tarik utama bagi perusahaan yang ingin mencari sumber pertumbuhan baru.
Salah satu aksi korporasi terbaru dilakukan PT Singaraja Putra Tbk (SINI) yang mengakuisisi saham PT Kemilau Mulia Sakti (KMS), anak usaha PT Petrosea Tbk (PTRO), dengan nilai transaksi mencapai Rp 1,73 triliun.
Melalui akuisisi tersebut, SINI menargetkan volume penjualan batubara konsolidasian meningkat secara bertahap dibandingkan realisasi tahun 2025 sebesar 203.057 ton.
Ke depan, KMS yang memiliki aset tambang batubara di Kalimantan Timur ditargetkan meningkatkan produksi secara bertahap, mulai dari sekitar 1 juta ton per tahun pada tahap awal hingga mencapai kapasitas optimal sekitar 5 juta ton per tahun.
Baca Juga: IHSG Turun 0,89%, Pelemahan Rupiah dan The Fed Tekan Sentimen Investor
Tak hanya SINI, PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) juga tengah menyiapkan aksi rights issue bernilai Rp 27,1 triliun. Sebagian besar dana tersebut, yakni sekitar Rp 20,82 triliun, akan digunakan untuk mengakuisisi 49% saham PT Borneo Prima melalui mekanisme inbreng atau penyetoran modal selain uang.
Jika transaksi tersebut terealisasi, kegiatan usaha utama FORU akan berubah dari perusahaan media, periklanan, dan percetakan menjadi holding yang bergerak di sektor pertambangan batubara.
Sementara itu, PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) juga berencana mengakuisisi 45% saham PT Trimitra Coal Perkasa (TCP) dengan nilai sekitar US$ 100 juta. Akuisisi tersebut ditargetkan rampung pada kuartal III-2026 melalui mekanisme pertukaran saham (share swap).
Untuk mendukung aksi korporasi tersebut, MEJA juga menyiapkan rights issue dengan kisaran harga Rp 450 hingga Rp 550 per saham.
Harga Batubara dan Arus Kas Masih Menjadi Daya Tarik
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai masih ada sejumlah faktor yang membuat sektor batubara menarik bagi perusahaan di luar industri pertambangan.
Menurut dia, harga batubara yang masih bertahan di atas US$ 100 per ton menjadi salah satu faktor utama. Kondisi tersebut didorong oleh dampak konflik geopolitik yang meningkatkan kebutuhan energi di tengah gangguan pasokan dari sumber energi lain.
Selain itu, valuasi aset tambang dinilai masih berada pada level menarik akibat adanya diskon terkait isu keberlanjutan (ESG), sementara kemampuan menghasilkan arus kas tetap kuat.
Di sisi lain, pendanaan melalui rights issue juga dinilai lebih efisien dibandingkan pembiayaan berbasis utang, terutama ketika suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) masih berada di level 5,75%.
"Sektor batubara tetap menjanjikan dalam jangka menengah atau 3-5 tahun selama transisi energi berjalan lebih lambat daripada ekspektasi," ujar dia, Senin (27/7/2026).
Baca Juga: Rupiah Dekati Rekor Terendah, Transisi BI dan The Fed Jadi Sorotan
Meski demikian, Wafi mengingatkan terdapat sejumlah risiko yang harus diperhatikan perusahaan yang baru memasuki sektor tambang.
Risiko tersebut mencakup minimnya pengalaman operasional, potensi keterlambatan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB), perubahan tarif royalti, hingga perubahan kebijakan ESG yang berpotensi membatasi akses terhadap pendanaan internasional.
Menurutnya, ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang memahami operasional tambang menjadi tantangan terbesar bagi perusahaan non-tambang.
Karena itu, perusahaan disarankan merekrut manajemen yang telah berpengalaman atau memastikan perusahaan target akuisisi telah memiliki tim operasional yang solid.
Selain itu, persetujuan RKAB juga sebaiknya telah diperoleh sebelum transaksi diselesaikan.
"Pendanaan harus diperkuat sebelum capital expenditure (capex) besar keluar," imbuh dia.
Akuisisi Dinilai Lebih Cepat Dibanding Bangun Tambang Baru
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta juga menilai sektor batubara masih mampu menawarkan arus kas yang menarik, terutama bagi perusahaan tambang dengan biaya produksi rendah.
Menurutnya, permintaan batubara domestik masih didukung oleh kebutuhan pembangkit listrik nasional. Sementara itu, permintaan ekspor dari sejumlah negara Asia juga tetap solid meskipun pertumbuhannya mulai melambat.
Nafan menambahkan, prospek batubara metalurgi juga masih cukup menarik karena digunakan sebagai bahan baku industri baja, sehingga memiliki karakter permintaan yang berbeda dibandingkan batubara termal.
Selain prospek bisnis, strategi akuisisi juga memberikan keuntungan dari sisi waktu.
"Emiten dapat langsung memperoleh cadangan, izin usaha, serta produksi yang sudah berjalan, sehingga berpotensi mempercepat kontribusi terhadap pendapatan dan laba," ungkap dia, Rabu (28/7/2026).
Namun demikian, Nafan menegaskan bahwa tantangan pasca-akuisisi tidak bisa dianggap ringan.
Perusahaan harus menghadapi proses integrasi operasional, fluktuasi harga batubara, perubahan regulasi pertambangan, kebutuhan belanja modal yang besar, hingga potensi kenaikan leverage apabila transaksi dibiayai menggunakan utang.
Bagi perusahaan yang sebelumnya bergerak di sektor berbeda, terdapat pula risiko eksekusi karena karakter industri pertambangan memiliki karakteristik yang jauh berbeda dibandingkan bisnis asalnya.
Karena itu, keberhasilan diversifikasi tidak hanya ditentukan oleh selesainya transaksi akuisisi, tetapi juga kemampuan perusahaan dalam mengoptimalkan aset, menjaga efisiensi biaya, memperkuat tata kelola perusahaan, dan menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi pemegang saham.
"Dalam konteks tersebut, kualitas eksekusi pasca akuisisi akan menjadi faktor yang lebih menentukan dibandingkan sekadar besarnya nilai transaksi," jelas dia.
Baca Juga: Laba MIDI Tumbuh 24%, Analis Yakin Bisnis Minimarket Solid & Valuasinya Murah
Investor Diminta Cermati Kualitas Akuisisi
Ke depan, Wafi memperkirakan tren akuisisi tambang batubara oleh emiten non-tambang masih berpotensi berlanjut selama harga batubara tetap berada di level yang mendukung dan masih tersedia pemilik aset yang ingin melepas kepemilikannya.
Menurut dia, perusahaan dengan neraca keuangan yang kuat tetapi membutuhkan sumber pertumbuhan baru menjadi kandidat paling potensial untuk melakukan ekspansi.
Meski demikian, investor diminta tetap berhati-hati terhadap emiten yang masuk ke sektor batubara hanya untuk mendorong sentimen harga saham tanpa memiliki rencana operasional yang jelas.
Di antara sejumlah aksi korporasi yang berlangsung saat ini, Wafi menilai SINI menjadi yang paling menarik karena KMS telah beroperasi dan didukung rekam jejak PTRO sebagai perusahaan induk sebelumnya.
Sementara itu, rencana rights issue FORU senilai Rp 27,1 triliun dinilai perlu diawasi, terutama terkait keberadaan pembeli siaga (standby buyer) dan hasil fairness opinion.
Untuk MEJA, investor juga disarankan mencermati dampak mekanisme share swap terhadap valuasi saham serta kepentingan pemegang saham minoritas.
"Momentum masuk terbaik yaitu setelah RKAB disetujui dan operasi pertama terkonfirmasi, bukan saat pengumuman akuisisi," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














