Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Wall Street ditutup anjlok, dengan indeks S&P 500 ditutup pada level terendah dalam enam bulan, karena perang AS-Israel melawan Iran memasuki minggu keempat. Hal tersebut memperdalam kekhawatiran tentang inflasi dan potensi kenaikan suku bunga. Konflik di Timur Tengah tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.
Jumat (20/3/2026), Dow Jones Industrial Average ditutup turun 0,96% menjadi 45.577,47, indeks S&P 500 anjlok 1,51% ke 6.506,48 dan indeks Nasdaq Composite melemah 2,01% ke 21.647,61.
Dengan posisi tersebut, indeks Nasdaq sudah anjlok hampir 10% dari rekor penutupan tertingginya pada 29 Oktober.
Indeks Russell 2000 untuk perusahaan-perusahaan kecil turun 2,26%, sehingga turun 10% dari rekor penutupan tertingginya pada 22 Januari.
Baca Juga: Barito Renewables (BREN) Kantongi Laba Bersih US$ 132 Juta di 2025, Naik 8,3%
Sembilan dari 11 indeks sektor pada indeks S&P 500 mengalami penurunan, dipimpin oleh sektor utilitas yang turun 4,11%, diikuti oleh penurunan 3,15% di sektor properti.
Sentimen negatif bagi bursa saham Amerika Serikat (AS) bertambah setelah militer AS mengerahkan kapal serbu amfibi dengan ribuan Marinir dan pelaut tambahan ke Timur Tengah, sementara pemimpin tertinggi Iran yang baru memuji "persatuan" dan "perlawanan" Iran.
"Pasar akhirnya mulai menerima gagasan bahwa ini mungkin akan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan semula, dan saya pikir itulah mengapa pasar mengalami penurunan. Konflik ini mungkin akan berlangsung bukan hanya beberapa minggu, tetapi mungkin lebih dari beberapa bulan," kata Jake Dollarhide, CEO Longbow Asset Management di Tulsa, Oklahoma.
Perusahaan-perusahaan paling berharga di Wall Street mengalami penurunan, dengan Nvidia dan Tesla masing-masing kehilangan lebih dari 3%. Saham Alphabet, Meta Platforms, dan Microsoft juga anjlok sekitar 2%.
Obligasi pemerintah AS turun untuk sesi ketiga berturut-turut, seiring dengan aksi jual yang lebih luas pada obligasi pemerintah Inggris dan Eropa, karena konflik di Timur Tengah membuat harga minyak tetap tinggi dan memperkuat kekhawatiran inflasi.
Kontrak berjangka suku bunga AS menunjukkan bahwa The Fed lebih cenderung menaikkan suku bunga daripada menurunkannya pada akhir tahun 2026, menurut alat FedWatch CME.
Baca Juga: Harga Emas dan Perak Terkoreksi, Namun Peluang Reli Masih Terbuka
"Kita hanya memiliki lingkungan klasik yang mendorong suku bunga naik dan itu didorong oleh ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, yang berkaitan kembali dengan harga minyak. Dan fakta bahwa kita memasuki minggu keempat perang menunjukkan bahwa tekanan itu tidak akan hilang dalam waktu dekat," kata Padhraic Garvey, kepala strategi suku bunga dan utang global di ING di New York.
Indeks sektor energi pada indeks S&P 500 hampir datar pada hari itu, tetapi mencatat kenaikan mingguan ke-13 berturut-turut. Reli mingguan tersebut merupakan yang terpanjang sejak setidaknya akhir tahun 1980-an, menurut data LSEG, karena peristiwa geopolitik di Venezuela dan Timur Tengah mendominasi sebagian besar kuartal pertama.
Hari Jumat menandai berakhirnya kontrak derivatif yang terkait dengan saham, opsi indeks, dan kontrak berjangka secara bersamaan dalam satu kuartal, yang juga dikenal sebagai "triple witching," dan volume perdagangan di bursa AS sangat tinggi, dengan 27,5 miliar saham diperdagangkan, dibandingkan dengan rata-rata 20,1 miliar saham selama 20 sesi sebelumnya.
Untuk pekan ini, indeks S&P 500 melemah 1,9%, sementara Nasdaq dan Dow anjlok sedikit lebih dari 2%.
Sejak perang di Iran dimulai pada 28 Februari, S&P 500 telah ambles 5,4%, Nasdaq melemah 4,5%, dan Dow anjlok 7%. Ketiga indeks utama berada di bawah rata-rata pergerakan 200 hari, yang menggarisbawahi memburuknya sentimen di Wall Street baru-baru ini.
Baca Juga: Pendapatan Raharja Energi Cepu (RATU) Turun 14,6% Sepanjang 2025
Pada sesi ini, saham Super Micro Computer anjlok 33% setelah tiga orang yang terkait dengan pembuat server kecerdasan buatan tersebut didakwa menyelundupkan setidaknya US$ 2,5 miliar teknologi AI ke China.
Saingannya, Dell, mengalami kenaikan.
Saham FedEx, yang sering dianggap sebagai barometer aktivitas bisnis, mengeluarkan perkiraan optimis dan mengatakan permintaan global tetap stabil meskipun ada ketegangan geopolitik, sehingga sahamnya naik hampir 1%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













