Reporter: Vivit Dewi | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar minyak mentah masih menghadapi tarik-menarik antara risiko gangguan pasokan dan potensi pelemahan permintaan hingga akhir 2026.
Kenaikan harga minyak yang cukup tinggi sepanjang tahun berpotensi meningkatkan tekanan inflasi sehingga pada akhirnya dapat menekan pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak.
Berdasarkan data Trading Economics pada Selasa (18/8/2026) pukul 20.55 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$85,345 per barel, naik 1,00% dari perdagangan sebelumnya. Sementara itu, harga Brent berada di level US$91,146 per barel atau menguat 0,30%.
Dalam sepekan, harga WTI telah naik 2,29%, sedangkan Brent menguat 2,55%. Sedangkan secara tahunan, WTI mencatat kenaikan 37,78% dan Brent sebesar 38,59%.
Baca Juga: Ada Kekhawatiran Ancaman di Selat Hormuz, Harga Minyak Mentah Kembali Naik
Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan mengatakan, arah harga minyak hingga akhir tahun akan ditentukan oleh tarik-menarik antara faktor supply dan demand.
“Jadi hingga akhir tahun akan terjadi tarik-menarik antara geopolitik dan gangguan supply yang mendorong harga naik dengan risiko perlambatan demand yang membatasi kenaikan tersebut,” ujar Brahmantya.
Dari sisi pasokan, pasar masih perlu mencermati kebijakan produksi OPEC+, perkembangan produksi dan inventori minyak Amerika Serikat, serta konflik di kawasan Laut Merah. Berbagai faktor tersebut dapat memengaruhi keseimbangan pasokan minyak global.
Sementara dari sisi permintaan, Brahmantya menilai kondisi ekonomi global dan permintaan China menjadi faktor penting. Perlambatan ekonomi di tengah harga energi yang tinggi dapat mengurangi konsumsi minyak dan membatasi ruang kenaikan harga.
“Harga minyak yang terlalu tinggi pada akhirnya bisa menjadi musuh bagi kenaikannya sendiri,” jelasnya.
Baca Juga: Perang Timur Tengah Berlanjut, Harga Minyak Mentah Global Diproyeksi Tetap Tinggi
Brahmantya mengatakan, kenaikan harga minyak juga perlu diwaspadai apabila berlangsung terlalu tinggi dalam waktu lama. Menurutnya, kondisi tersebut dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi kebijakan moneter bank sentral.
“Jika Brent bertahan di atas US$ 100 terlalu lama, inflasi global berpotensi meningkat kembali. Kondisi tersebut dapat membuat The Fed dan bank sentral lain mempertahankan kebijakan moneter ketat, kemudian menekan pertumbuhan ekonomi dan pada akhirnya permintaan minyak,” katanya.
Kendati demikian, pasar minyak hingga akhir 2026 tidak hanya akan ditentukan oleh seberapa besar gangguan pasokan yang terjadi, tetapi juga oleh kemampuan permintaan untuk bertahan.
Ketika risiko supply shock dapat mendorong harga naik, pelemahan demand berpotensi menjadi rem bagi penguatan tersebut.
Sementara itu, Brahmantya masih mempertahankan proyeksi harga WTI di kisaran US$ 90–US$ 100 per barel dan Brent US$ 95–US$ 110 per barel hingga akhir 2026.
Menurut dia, keseimbangan antara pasokan dan permintaan akan menjadi kunci pergerakan harga minyak ke depan. Risiko geopolitik dan gangguan supply masih memberikan ruang penguatan, tetapi apabila harga bertahan terlalu tinggi dan mulai menekan pertumbuhan ekonomi, pelemahan permintaan dapat membatasi kenaikan lebih lanjut.
Baca Juga: Eskalasi Geopolitik Timur Tengah Kian Memanas, Harga Minyak Mentah Melesat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
