Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Wall Street ditutup melemah karena pasar sebagian besar mengabaikan laporan inflasi yang tenang, dan lebih fokus pada meningkatnya permusuhan dan dampak yang semakin besar terkait perang AS-Israel terhadap Iran.
Rabu (11/3/2026), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 289,24 poin atau 0,61% menjadi 47.417,27, indeks S&P 500 turun 5,68 poin atau 0,08% ke 6.775,80 dan indeks Nasdaq Composite naik 19,03 poin atau 0,08% ke 22.716,14.
Di antara 11 sektor utama pada indeks S&P 500, sektor barang konsumsi pokok mencatat penurunan persentase terbesar. Sementara, sektor energi menjadi sektoral dengan kinerja terbaik, naik 2,5% karena kenaikan harga minyak mentah.
Asal tahu saja, harga minyak mentah berjangka WTI dan Brent untuk kontrak bulan depan masing-masing ditutup naik 4,6% dan 4,8%.
Baca Juga: Saham Emiten Emas Turun Saat Harga Emas Dunia Naik, Saatnya Beli ANTM BRMS MDKA?
Sektor teknologi juga sedikit menguat, didorong oleh Oracle, yang memberikan panduan pendapatan yang lebih baik dari perkiraan karena ekspektasi bahwa lonjakan pengeluaran terkait kecerdasan buatan akan berlanjut hingga tahun 2027. Saham Oracle melonjak 9,2%.
Perdagangan di pasar saham Amerika Serikat (AS) ini bergejolak sepanjang sesi karena investor terjebak dalam tarik-menarik terkait kekhawatiran pasokan minyak.
Iran terus menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz yang diblokade, tetapi OPEC meyakinkan pasar bahwa Arab Saudi telah meningkatkan produksi dan Badan Energi Internasional (IEA) setuju untuk melepaskan 400 juta barel minyak dari cadangan strategisnya.
Dow mencatat penurunan persentase paling tajam di antara tiga indeks ekuitas utama AS, sementara produsen chip mengangkat Nasdaq yang didominasi teknologi ke kenaikan tipis di akhir sesi.
Di sisi lain, Indeks Harga Konsumen (CPI) Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa inflasi tetap moderat bulan lalu, sesuai dengan ekspektasi analis.
Baca Juga: Bursa CFX Hadirkan Laporan Bulanan Perkembangan Industri Kripto
Pertumbuhan CPI tahunan sekarang berada dalam setengah poin persentase dari target 2% Federal Reserve AS.
Namun, pasar mengabaikan laporan tersebut, karena laporan itu muncul sebelum perang di Iran, yang telah menyebabkan harga minyak mentah melonjak dan dapat memicu inflasi.
Kekhawatiran inflasi meningkat setelah komando militer Iran mengatakan dunia harus bersiap untuk harga minyak mentah mencapai $200 per barel, lebih dari dua kali lipat level saat ini.
"Dalam lingkungan yang tidak pasti seperti itu, pasar dan investor sangat membutuhkan sinyal apa pun, ke satu arah atau arah lain," kata Matthew Keator, mitra pengelola di Keator Group, sebuah perusahaan manajemen kekayaan di Lenox, Massachusetts.
"Ada laporan-laporan yang salah atau tidak akurat, dan pasar berfluktuasi berdasarkan berita semacam itu."
"Semuanya tentang konsumen, dan bagaimana guncangan akibat kenaikan harga minyak yang berkelanjutan akan memengaruhi keuangan konsumen dan kebiasaan belanja mereka," tambah Keator.
Federal Reserve secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan mendatang, di mana para pembuat kebijakan kemungkinan akan mempertimbangkan kemungkinan lonjakan harga terhadap tanda-tanda melambatnya pasar kerja, kombinasi yang menimbulkan kekhawatiran tentang potensi stagflasi.
Baca Juga: Wall Street Dibuka Beragam, Investor Waspadai Data Inflasi dan Gejolak Harga Minyak
"Saya pikir kata 'sementara' mungkin akan kembali," kata Chuck Carlson, kepala eksekutif di Horizon Investment Services di Hammond, Indiana. "Saya pikir mereka mungkin lebih khawatir tentang lapangan kerja daripada inflasi saat ini, terlepas dari lonjakan harga minyak."
Di sisi lain, JPMorgan Chase menurunkan nilai pinjaman tertentu yang dipegang oleh kelompok kredit swasta dan memperketat pinjamannya ke sektor tersebut, menurut sebuah laporan.
Saham Ares Management merosot 4,8% dan Apollo Global turun 1,9%. Campbell's anjlok 7,1% setelah perusahaan makanan kemasan tersebut memangkas perkiraan tahunannya dan memperingatkan peningkatan tekanan pada paruh kedua akibat revisi tarif AS.
Sedangkan saham Perusahaan pertahanan AeroVironment turun 6,3% setelah memperkirakan laba yang disesuaikan untuk tahun 2026 di bawah perkiraan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













