Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks saham utama di Wall Street dibuka bervariasi pada perdagangan Rabu (11/3/2026), seiring investor mencermati data inflasi terbaru Amerika Serikat (AS) dan berbagai perkembangan global yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter.
Pada awal perdagangan, Dow Jones Industrial Average turun tipis 15,7 poin atau 0,03% ke level 47.690,76. Sementara itu, S&P 500 naik 8,6 poin atau 0,13% menjadi 6.790,09 dan Nasdaq Composite menguat 74,2 poin atau 0,33% ke posisi 22.771,27.
Pergerakan pasar cenderung berhati-hati karena pelaku pasar sedang mencerna laporan inflasi dari Departemen Tenaga Kerja AS.
Data tersebut menunjukkan harga konsumen pada Februari naik sesuai perkiraan, didorong kenaikan harga bensin di tengah kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah.
Baca Juga: Wall Street Bervariasi: Harapan Damai di Timur Tengah Sirna, S&P 500 Tergelincir!
Selain itu, investor juga menunggu pengumuman penting dari International Energy Agency (IEA) terkait kemungkinan pelepasan cadangan minyak strategis untuk menstabilkan pasokan energi global.
Harga energi sendiri bergerak fluktuatif setelah muncul laporan bahwa Jerman dan Jepang mempertimbangkan untuk melepas cadangan minyak guna menstabilkan pasar.
Langkah ini dipertimbangkan di tengah meningkatnya serangan udara di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu jalur pengiriman melalui Selat Hormuz.
Situasi tersebut sempat mendorong harga minyak mendekati US$ 120 per barel pada awal pekan. Namun setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang memberi sinyal konflik tidak akan berlangsung lama, harga minyak turun kembali ke bawah US$ 90 per barel.
Di sisi kebijakan moneter, pasar kini memperkirakan Federal Reserve baru akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober. Sebelumnya, pelaku pasar memperkirakan penurunan suku bunga bisa terjadi pada September.
Baca Juga: Wall Street Ditutup Menguat, Ditopang Harapan Konflik di Timur Tengah Mereda
Chief Investment Officer Regan Capital, Skyler Weinand, mengatakan ketidakpastian geopolitik membuat bank sentral kemungkinan menahan diri dalam mengambil keputusan.
"Sampai Selat Hormuz kembali dibuka dan ketegangan di Timur Tengah mereda, The Fed kemungkinan akan menunda langkah pada suku bunga," ujarnya.
Menurutnya, bank sentral juga harus mempertimbangkan berbagai faktor lain seperti tarif perdagangan, potensi pengembalian tarif, kenaikan harga energi, serta tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja sebelum menentukan arah kebijakan berikutnya.
Di pasar saham, beberapa emiten bergerak signifikan. Saham Oracle melonjak sekitar 10% pada perdagangan prapembukaan setelah perusahaan memperkirakan lonjakan permintaan pusat data kecerdasan buatan (AI) akan mendorong pendapatan melampaui estimasi hingga 2027.
Sebaliknya, kenaikan harga minyak lebih dari 3% menekan saham sektor perjalanan seperti American Airlines dan operator kapal pesiar Carnival, yang masing-masing melemah tipis.
Baca Juga: Wall Street Anjlok Tertekan Lonjakan Harga Minyak, Kecemasan Investor Meningkat
Di sektor lain, saham perusahaan jasa ladang minyak SLB turun sekitar 2% setelah memperingatkan bahwa ketegangan di Timur Tengah akan memengaruhi kinerja kuartal pertama.
Sementara itu, saham produsen makanan Campbell’s merosot 5,2% setelah perusahaan memangkas proyeksi kinerja tahunan dan memperingatkan adanya tekanan tambahan pada paruh kedua tahun ini akibat revisi tarif impor AS.
Saham perusahaan pertahanan AeroVironment juga jatuh sekitar 11% setelah memproyeksikan laba disesuaikan tahun 2026 berada di bawah ekspektasi analis.
Pelaku pasar juga memantau pernyataan Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan, Michelle Bowman, yang dijadwalkan berbicara pada hari yang sama dan diperkirakan memberi petunjuk mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












