Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Indeks-indeks utama Wall Street merosot lebih dari 2% pada perdagangan Selasa (3/3/2026), dengan S&P 500 menyentuh level terendah dalam lebih dari dua bulan.
Investor bersiap menghadapi dampak meluasnya konflik Timur Tengah terhadap harga minyak, inflasi, dan perdagangan global.
Melansir Reuters pada pukul 09.50 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average turun 1.083,69 poin atau 2,22% ke 47.821,09. S&P 500 kehilangan 141,91 poin atau 2,06% ke 6.739,71, sedangkan Nasdaq Composite merosot 483,41 poin atau 2,12% ke 22.265,45.
Baca Juga: Wall Street Dibuka Rontok Selasa (3/3), Konflik Timur Tengah Picu Ketakutan Inflasi
Tekanan jual terjadi secara luas, dengan seluruh sektor utama di S&P 500 berada di zona merah.
Saham-saham teknologi berkapitalisasi besar melemah 1,9%, dengan Nvidia turun 1,7% setelah sebelumnya menguat pada sesi sebelumnya.
Indeks saham berkapitalisasi kecil turun 3,4%. Sementara itu, indeks volatilitas CBOE (VIX) – yang kerap disebut sebagai pengukur ketakutan pasar – melonjak ke level tertinggi tiga bulan di 27,30.
Manajer aset alternatif juga tertekan setelah lonjakan permintaan penarikan dana menghantam dana kredit andalan Blackstone, BCRED.
Saham Blackstone merosot 7,7%, sedangkan Ares Management dan Blue Owl Capital masing-masing turun sekitar 4%.
Ancaman Teheran untuk menyerang kapal mana pun yang melintasi Selat Hormuz, ditambah penghentian produksi oleh sejumlah produsen minyak dan gas di Timur Tengah, telah mendorong kenaikan tarif pengiriman global serta harga minyak mentah dan gas alam.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia.
Baca Juga: Yield SBN Naik, Asing Catat Net Sell Rp 3,35 Triliun per Februari, Apa Penyebabnya?
“Investor khawatir akan tambahan tekanan inflasi ke depan. Kekhawatiran utama adalah jika harga minyak menembus US$100 per barel dan bertahan di sana,” ujar Robert Pavlik, manajer portofolio senior di Dakota Wealth.
“Semoga ini menjadi perang yang cepat dan menentukan. Namun masih banyak pertanyaan, jadi saya tidak akan mengambil risiko besar,” tambahnya.
Sektor-sektor yang sensitif terhadap harga minyak seperti maskapai dan pariwisata kembali tertekan untuk hari kedua. Saham Delta turun sekitar 3%, sementara Royal Caribbean melemah 4%.
Inflasi Bayangi Kebijakan The Fed
Investor mencemaskan kenaikan harga minyak dapat kembali memicu inflasi dan memperumit keputusan kebijakan bank sentral yang sudah tertekan oleh kenaikan harga akibat tarif.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi dalam lebih dari sepekan.
Berdasarkan data LSEG, pelaku pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga 25 basis poin oleh Federal Reserve baru akan terjadi pada September, mundur dari perkiraan sebelumnya pada Juli.
Baca Juga: BEI & KSEI Rilis Kepemilikan Saham Emiten di Atas 1%, Kepercayaan Asing Bisa Kembali?
Harga aset safe haven tradisional seperti logam mulia justru melemah karena penguatan dolar AS. Sektor pertambangan menjadi yang paling tertekan di S&P 500 dengan penurunan 4,2%.
Di luar faktor geopolitik, investor juga bergulat dengan ketidakpastian dampak model kecerdasan buatan (AI) terhadap bisnis tradisional, serta volatilitas di pasar kredit swasta.
Saham MongoDB anjlok 26,3% setelah perusahaan perangkat lunak basis data itu memproyeksikan laba kuartalan di bawah estimasi pasar.
Sebaliknya, saham Target menguat 4,4% setelah CEO baru Michael Fiddelke berjanji mengembalikan pertumbuhan penjualan dan memberikan prospek laba yang optimistis, menandakan upaya pemulihan di tengah tekanan yang dihadapi peritel tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













