Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks sektor kesehatan atau IDXHEALTH masih berada dalam tekanan sepanjang tahun berjalan. Per 17 Juli 2026, indeks ini tercatat telah melemah sekitar 29,57% secara year-to-date (YtD).
Meski terkoreksi, peluang rebound dinilai masih terbuka hingga akhir 2026, seiring valuasi saham-saham sektor kesehatan yang semakin menarik.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, prospek sektor kesehatan masih menghadapi sejumlah tantangan.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat Terbatas Senin (20/7), Analis Rekomendasi Saham ADRO dan ITMG
“Kami melihat prospek IDXHEALTH hingga akhir 2026 masih cukup menantang, meskipun peluang rebound tetap terbuka seiring valuasi yang mulai lebih menarik setelah koreksi cukup dalam,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (17/6/2026).
Ia menjelaskan, sentimen positif sektor ini akan sangat bergantung pada pemulihan daya beli masyarakat, peningkatan volume pasien, serta perbaikan kinerja emiten farmasi dan rumah sakit.
Namun, investor juga masih mencermati sejumlah risiko yang dapat menekan kinerja sektor ini. “Investor masih akan mencermati tekanan margin akibat tingginya biaya operasional, depresiasi dari ekspansi, serta persaingan yang semakin ketat,” tambahnya.
Dari sisi katalis, kehadiran emiten baru seperti PRDL, JECX, dan EMMI dinilai dapat memberikan warna baru bagi sektor kesehatan di Bursa Efek Indonesia (BEI). “Kehadiran emiten baru berpotensi meningkatkan variasi subsektor kesehatan dan memperluas pilihan investasi,” jelasnya.
Selain itu, ekspansi yang dilakukan sejumlah emiten rumah sakit juga berpotensi menjadi pendorong kinerja sektor dalam jangka menengah hingga panjang.
“Ekspansi rumah sakit oleh SRAJ, HEAL, dan PRAY dapat menjadi katalis pertumbuhan pendapatan melalui penambahan kapasitas layanan,” ungkap Azis.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa ekspansi tersebut juga membawa konsekuensi terhadap kinerja jangka pendek. “Dalam jangka pendek, ekspansi berpotensi menekan profitabilitas akibat meningkatnya belanja modal, biaya operasional awal, dan beban penyusutan sebelum utilisasi optimal,” katanya.
Baca Juga: Restrukturisasi Hingga 5G Jadi Penopang, Cek Rekomendasi TLKM, EXCL, dan ISAT
Di tengah kondisi tersebut, Azis menilai investor perlu lebih selektif dalam memilih saham sektor kesehatan. Ia merekomendasikan saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebagai salah satu pilihan utama. “Kami merekomendasikan buy untuk KLBF dengan target harga Rp970 per saham,” tutupnya.
Dengan berbagai dinamika tersebut, sektor kesehatan dinilai masih memiliki potensi jangka panjang, meski pergerakannya dalam waktu dekat diperkirakan tetap cenderung fluktuatif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
