kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.784.000   -30.000   -1,07%
  • USD/IDR 17.343   77,00   0,45%
  • IDX 7.081   8,24   0,12%
  • KOMPAS100 956   1,41   0,15%
  • LQ45 684   1,21   0,18%
  • ISSI 255   -0,15   -0,06%
  • IDX30 380   1,14   0,30%
  • IDXHIDIV20 465   1,85   0,40%
  • IDX80 107   0,15   0,14%
  • IDXV30 136   0,74   0,55%
  • IDXQ30 121   0,45   0,38%

UEA Keluar Dari OPEC, Begini Dampaknya ke Pasokan Minyak Mentah Global


Rabu, 29 April 2026 / 12:41 WIB
UEA Keluar Dari OPEC, Begini Dampaknya ke Pasokan Minyak Mentah Global
ILUSTRASI. Mundurnya UEA dari OPEC mulai 1 Mei 2026 memicu pertanyaan besar.


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei 2026. Keputusan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran pasokan minyak mentah akibat konflik Amerika Serikat (AS) – Israel dengan Iran yang belum mereda dan menyebabkan gangguan di Selat Hormuz.  

Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) melihat bahwa saat ini UEA berencana untuk meningkatkan kontribusi globalnya menjadi 5 juta barel minyak per hari. Beroperasi di luar kelompok-kelompok ini akan memungkinkan UEA untuk sepenuhnya memanfaatkan posisinya di tengah krisis energi saat ini.

Namun, kontribusi produksi minyak UEA pada tahun 2025 terhadap pasokan global hanya sekitar 3%, di belakang Arab Saudi (10%), Rusia (10%), Kanada (6%), dan bahkan Irak (4%).

Baca Juga: IHSG Menguat 0,12% ke 7.080 di Sesi I Rabu (29/4), GOTO, MEDC, JPFA Top Gainers LQ45

“Meskipun demikian, kami percaya bahwa pendirian kami terhadap minyak global, yaitu 'harga lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama,' dapat dikatakan tetap terjadi mengingat peningkatan (pasokan) yang terbatas tersebut,” ujar Juan Harahap & Fadhlan Banny, Analis Samuel Sekuritas Indonesia dalam keterangannya, Rabu (29/4/2026). 

Seperti diketahui, langkah UEA keluar dari OPEC dan OPEC+ terjadi setelah negara tersebut mengkritik respons negara-negara Arab lainnya yang dinilai tidak cukup melindungi UEA dari serangan Iran selama konflik berlangsung.

Sebagai salah satu pusat bisnis regional dan sekutu penting Washington, UEA merasa kurang mendapat dukungan memadai dari mitra kawasan.

Penasihat diplomatik Presiden UEA, Anwar Gargash, menyampaikan kritik tersebut. Gargash bilang, negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk saling mendukung secara logistik, tetapi secara politik dan militer, Ia menilai posisi mereka merupakan yang paling lemah sepanjang sejarah. 

“Saya memperkirakan sikap lemah ini dari Liga Arab dan saya tidak terkejut karenanya, tetapi saya tidak mengharapkannya dari Dewan Kerja Sama (Teluk) dan saya justru terkejut,” ujar Gargash pada forum Gulf Influencers Forum, Senin (27/4/2026).

Baca Juga: Laba Bersih Samator Indo Gas (AGII) Melonjak 4,5 Kali Lipat pada Kuartal I-2026

Pernyataan tersebut mencerminkan meningkatnya ketegangan di dalam kawasan Teluk, yang berpotensi memperdalam fragmentasi geopolitik dan berdampak pada stabilitas pasar energi global di tengah krisis yang sedang berlangsung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×