Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Transformasi bisnis PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mulai tercermin pada perbaikan profitabilitas. Meski pendapatan masih tertekan, peningkatan kontribusi bisnis pengelolaan limbah dan kendaraan listrik mendorong kenaikan laba bruto serta margin keuntungan sepanjang sembilan bulan pertama 2026.
Berdasarkan laporan keuangan, pendapatan TBS sepanjang Januari–September 2026 turun 11% secara tahunan menjadi US$ 257,3 juta dari US$ 288,2 juta pada periode yang sama tahun lalu. Namun, laba bruto justru melonjak 105% menjadi US$ 45,2 juta dari sebelumnya US$ 22 juta.
Sejalan dengan itu, margin laba bruto TBS meningkat menjadi 18% dari 8%. Sementara itu, adjusted EBITDA tumbuh 39% menjadi US$ 44,4 juta dari US$ 31,8 juta. Margin adjusted EBITDA juga naik menjadi 17% dari 11%.
Perbaikan kinerja tersebut sejalan dengan perubahan portofolio bisnis TBS dari sektor batubara menuju infrastruktur berkelanjutan, terutama pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik.
Bisnis pengelolaan limbah dan kendaraan listrik kini menyumbang 66% terhadap pendapatan konsolidasian TBS. Kedua segmen tersebut juga berkontribusi sebesar 71% terhadap adjusted EBITDA.
Secara terperinci, segmen pengelolaan limbah menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan US$ 157,3 juta. Naik 41% dibandingkan US$ 111,9 juta pada sembilan bulan pertama 2025. Segmen ini menghasilkan adjusted EBITDA sebesar US$ 29,9 juta.
Sementara itu, bisnis kendaraan listrik melalui Electrum membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 120% menjadi US$ 12,9 juta. Pertumbuhan ini ditopang peningkatan jumlah motor listrik yang beroperasi sebesar 115% menjadi 14.000 unit dan penambahan stasiun penukaran baterai aktif sebesar 85% menjadi 701 lokasi.
Bisnis kendaraan listrik TBS juga mulai mencatatkan laba bruto sebesar US$ 1,2 juta. Capaian tersebut berbalik dari rugi bruto US$ 0,7 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Ekspor Melonjak Jelang Diwali, Harga Minyak Sawit Malaysia Bangkit ke MYR 4.700
Di sisi lain, pendapatan dari bisnis batubara mengalami penurunan. Pendapatan perdagangan batubara tercatat US$ 19,5 juta atau turun 76% secara tahunan. Adapun pendapatan pertambangan batubara turun 10% menjadi US$ 61,8 juta.
Dari sisi arus kas, TBS membukukan arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar US$ 20,3 juta sepanjang Januari–September 2026. Angka tersebut berbalik positif dibandingkan arus kas operasi negatif US$ 20,4 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Adapun rugi bersih konsolidasian TBS menyusut 72% menjadi US$ 35,4 juta dari US$ 127,9 juta. Perbaikan ini terutama dipengaruhi tidak berulangnya kerugian divestasi bisnis pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) pada tahun sebelumnya.
Meski demikian, kinerja laba bersih masih terbebani biaya depresiasi dan amortisasi terkait akuisisi Cora Environment serta biaya satu kali untuk pembiayaan kembali (refinancing) pinjaman bisnis pengelolaan limbah. Langkah refinancing tersebut untuk menurunkan biaya modal dan memperbaiki struktur permodalan TOBA.
Analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis menilai, kenaikan laba bruto di tengah penurunan pendapatan dapat menjadi indikasi membaiknya kualitas pendapatan. Terlebih, pertumbuhan tersebut ditopang kontribusi bisnis pengelolaan limbah dan kendaraan listrik yang memiliki prospek pengembangan jangka panjang.
"Peningkatan margin laba kotor dan EBITDA menjadi indikator penting melihat efektivitas transformasi bisnis.TOBA tidak hanya perlu mengejar pertumbuhan pendapatan, juga memastikan bahwa setiap lini usaha mampu memberikan kontribusi profitabilitas yang semakin baik," ujarnya, Jumat (30/10).
Bisnis infrastruktur berkelanjutan seperti pengelolaan limbah memiliki karakteristik padat modal karena membutuhkan investasi besar pada aset operasional. Ekspansi melalui akuisisi juga berpotensi meningkatkan beban depresiasi dan amortisasi perusahaan.
Menurutnya, pada bisnis padat modal, pertumbuhan pendapatan dan EBITDA tidak selalu langsung tercermin pada laba bersih karena adanya beban depresiasi dan amortisasi yang bersifat nonkas.
"Perkembangan kinerja operasional dan arus kas operasional menjadi indikator penting untuk menilai kemampuan perusahaan menghasilkan nilai dari investasi yang telah dilakukan," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














