kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.690.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.910   -29,00   -0,16%
  • IDX 6.410   65,94   1,04%
  • KOMPAS100 845   12,09   1,45%
  • LQ45 640   9,44   1,50%
  • ISSI 222   2,82   1,29%
  • IDX30 359   5,14   1,45%
  • IDXHIDIV20 438   4,81   1,11%
  • IDX80 96   1,44   1,52%
  • IDXV30 120   0,97   0,81%
  • IDXQ30 114   1,39   1,23%

Transaksi Kripto Melesat, Bitcoin Diproyeksi Capai US$ 85.000 di Akhir 2026


Minggu, 09 Agustus 2026 / 14:08 WIB
Transaksi Kripto Melesat, Bitcoin Diproyeksi Capai US$ 85.000 di Akhir 2026
ILUSTRASI. Altcoin crypto (Felix Schlikis/IMAGO via REUTERS)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai transaksi aset kripto di Indonesia meningkat pada Juni 2026, meski harga Bitcoin masih bergerak sideways di kisaran US$ 60.000-an, beberapa bulan terakhir.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai transaksi aset kripto pada Juni 2026 mencapai Rp 28,58 triliun, meningkat 24,20% secara bulanan.

Kemudian, jumlah akun konsumen aset kripto di Indonesia telah mencapai 22,69 juta akun hingga Juni 2026 atau meningkat 21,32% dibandingkan periode sebelumnya.

Baca Juga: IHSG Diproyeksikan Menguat pada Perdagangan Senin (10/8), Cek Rekomendasi Sahamnya

Padahal, harga Bitcoin masih saja terus stagnan. Melansir Coin Market Cap pada Minggu (9/8) pukul 13.50 WIB, harga Bitcoin bertengger di kisaran US$ 64.808 atau melemah 0,26% dalam 24 jam terakhir tetapi meningkat 2,17% sepekan terakhir.

Analis Reku Andri Fauzan mengatakan, kenaikan transaksi tersebut terutama didorong oleh perubahan perilaku investor ritel yang lebih aktif melakukan rotasi modal untuk mengejar imbal hasil yang lebih tinggi.

"Pergerakan harga Bitcoin yang cenderung stabil membuat para trader beralih ke strategi swing trading jangka pendek, didukung terus bertambahnya investor domestik yang menembus 22,69 juta akun," ujar Andri kepada Kontan, Jumat (7/8/2026).

Di luar Bitcoin, Andri melihat sejumlah aset kripto turut menjadi pendorong aktivitas transaksi, terutama altcoin berkapitalisasi besar seperti Ethereum dan Solana. Kedua aset tersebut memiliki tingkat likuiditas yang memadai sehingga menarik bagi investor untuk melakukan perdagangan jangka pendek.

Selain itu, stablecoin seperti USDT dan USDC juga memiliki peran dalam meningkatkan aktivitas transaksi. Stablecoin dimanfaatkan investor sebagai sarana lindung nilai (hedging) sekaligus untuk mengunci keuntungan dan menjaga fleksibilitas modal.

Sementara itu, tingginya volatilitas pada altcoin dan meme coin juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pelaku pasar yang mengejar potensi keuntungan dalam jangka pendek.

Baca Juga: Investor RI Tembus 30 Juta SID, Volume Transaksi Saham Melonjak 32,98%

"Investor menggunakan stablecoin untuk menjaga fleksibilitas modal, sementara volatilitas tinggi pada altcoin dan meme coin menjadi magnet utama bagi partisipan pasar untuk memaksimalkan potensi keuntungan harian di luar Bitcoin," jelas Andri.

Prospek paruh kedua 2026

Memasuki paruh kedua 2026, Andri memperkirakan pasar kripto berada dalam fase konsolidasi positif yang berpotensi menuju tren bullish. Salah satu katalis utama yang perlu dicermati adalah arah kebijakan suku bunga global, khususnya penyesuaian suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed).

Selain itu, perkembangan regulasi aset kripto di dalam negeri juga akan menjadi perhatian investor. Implementasi Roadmap IAKD 2026–2031 oleh OJK dinilai dapat memberikan kepastian regulasi yang lebih baik bagi industri aset kripto.

Dengan kondisi harga Bitcoin yang masih bergerak terbatas, Andri menyarankan investor menerapkan strategi Dollar-Cost Averaging (DCA) secara disiplin, khususnya pada aset kripto berkapitalisasi besar (blue chip) untuk membangun posisi investasi jangka panjang.

Investor juga dapat melakukan diversifikasi secara taktis ke altcoin yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi, namun dengan porsi yang terbatas serta diiringi manajemen risiko dan penerapan stop-loss yang ketat.

Untuk Bitcoin, Andri memperkirakan area US$ 58.000–US$ 62.000 masih menjadi zona konsolidasi sekaligus basis akumulasi yang kuat hingga akhir 2026.

Namun, apabila sentimen makroekonomi membaik dan arus dana (inflow) kembali meningkat melalui ETF institusional global, Bitcoin berpotensi mengalami pemulihan secara bertahap. "Dengan kondisi tersebut, harga Bitcoin berpotensi menargetkan kisaran US$ 75.000–US$ 85.000 pada penutupan tahun 2026," pungkas Andri.

Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Melanjutkan Penguatan, Pasar Cermati Sentimen Global dan Data AS

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×