Reporter: Vivit Dewi | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah spot kembali menguat pada perdagangan Jumat (7/8/2026). Rupiah spot ditutup naik 0,15% menjadi Rp 17.897 per dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan rupiah diperkirakan berlanjut pada perdagangan Senin (10/8/2026), meski pasar masih mencermati perkembangan sentimen global.
Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, mengatakan sentimen terhadap rupiah masih cukup positif seiring meredanya tekanan terhadap dolar AS dan penurunan harga minyak dunia. Harapan terhadap meredanya konflik di Timur Tengah turut membantu memperbaiki sentimen pasar.
“Fundamental ekonomi domestik juga masih cukup solid meski sebelumnya rupiah sempat mendapat tekanan dari kondisi pasar keuangan dan sentimen global. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap berada di atas 5%, cadangan devisa yang memadai, serta kondisi inflasi yang masih terkendali,” ujar Wahyu, Jumat (7/8/2026).
Baca Juga: Pangsa Pasar UNVR Naik, Analis Pertahankan Rekomendasi Add Saham UNVR
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II-2026. Sementara itu, inflasi Juli 2026 tercatat sebesar 2,88% yoy, meski secara bulanan Indonesia mengalami deflasi 0,14%. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 juga tetap terjaga sebesar US$ 145,3 miliar.
Menurut Wahyu, tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek lebih banyak berasal dari faktor eksternal dibandingkan kondisi fundamental domestik. Karena itu, perkembangan geopolitik dan pergerakan harga minyak dunia masih menjadi sentimen yang perlu diperhatikan pasar.
Sementara itu, Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi melihat masih terdapat risiko terhadap rupiah dari perkembangan konflik Iran dan Amerika Serikat. Pasar akan mencermati perkembangan di Selat Hormuz setelah muncul laporan mengenai serangan Iran serta rencana pembatasan kapal AS dan Israel melintasi jalur strategis tersebut.
“Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati prospek kebijakan Federal Reserve (The Fed), terutama setelah munculnya ekspektasi kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi AS kembali meningkat. Data ketenagakerjaan AS juga menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan bank sentral AS,” ungkap Ibrahim.
Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan Senin (10/8/2026) masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 17.890 hingga Rp 17.940 per dolar AS. Sementara, Wahyu memperkirakan rupiah pada perdagangan Senin (10/8/2026) diproyeksikan bergerak di kisaran Rp 17.800 hingga Rp 18.000 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
