kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.700.000   20.000   0,75%
  • USD/IDR 17.890   8,00   0,04%
  • IDX 6.302   -72,08   -1,13%
  • KOMPAS100 823   -12,50   -1,50%
  • LQ45 627   -6,68   -1,05%
  • ISSI 217   -3,15   -1,43%
  • IDX30 351   -3,41   -0,96%
  • IDXHIDIV20 427   -2,06   -0,48%
  • IDX80 94   -1,35   -1,41%
  • IDXV30 117   -1,05   -0,89%
  • IDXQ30 111   -0,62   -0,56%

Suku Bunga Global Masih Tinggi, Reksadana Obligasi Bisa Jadi Pilihan Defensif


Kamis, 13 Agustus 2026 / 20:38 WIB
Suku Bunga Global Masih Tinggi, Reksadana Obligasi Bisa Jadi Pilihan Defensif
ILUSTRASI. Di tengah ketidakpastian global maupun domestik, reksadana obligasi memiliki karakteristik defensif yang dapat menjadi salah satu opsi bagi investor. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Suku bunga global yang masih tinggi dan ketidakpastian arah kebijakan bank sentral membuat investor perlu lebih selektif dalam mengelola portofolio. Kondisi tersebut turut membuka peluang bagi aset pendapatan tetap, terutama ketika imbal hasil obligasi Indonesia dinilai semakin kompetitif.

Portfolio Manager Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Laras Febriany mengatakan, narasi higher for longer kembali menguat seiring kenaikan inflasi global pada paruh pertama 2026. Kondisi tersebut membuat bank sentral dunia masih mewaspadai risiko inflasi dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

The Fed pada Juli mempertahankan Federal Funds Rate (FFR) pada level 3,50%–3,75%. Laras menilai pasar masih perlu mencermati kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari ekspektasi. Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 5,75% pada Juli setelah sebelumnya menaikkan suku bunga secara agresif sebesar 1% pada Mei–Juni.

Baca Juga: IIF Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo Senilai Rp 500 Miliar pada November 2026

Laras menyebut obligasi Indonesia saat ini menawarkan valuasi yang semakin kompetitif. 

“Pada level imbal hasil saat ini, pasar mulai menilai obligasi Indonesia memiliki kompensasi risiko yang lebih menarik,” ujar Laras Kamis (13/8/2026).

Menurutnya, arus dana asing yang mulai kembali masuk ke pasar SBN pada Juni–Juli menunjukkan bahwa tingkat imbal hasil saat ini mulai memberikan kompensasi risiko yang lebih menarik bagi investor. Meski demikian, kondisi pasar yang masih fluktuatif membuat investor perlu tetap disiplin dalam mengelola risiko.

“Dalam kondisi pasar yang masih fluktuatif, kami mengedepankan pengelolaan portofolio yang aktif, selektif, dan disiplin terhadap risiko,” kata Laras.

Laras mengatakan pengelolaan portofolio obligasi dapat dilakukan melalui positioning pada kurva imbal hasil, pemilihan efek, serta manajemen durasi yang dinamis. Diversifikasi juga menjadi salah satu kunci untuk menjaga tingkat risiko investasi.

Baca Juga: Kinerja Emiten Energi Terbarukan Bervariasi, BREN dan PGEO Diprediksi Lebih Unggul

Dalam menghadapi volatilitas jangka pendek di tengah ketidakpastian global maupun domestik, reksadana obligasi memiliki karakteristik defensif yang dapat menjadi salah satu opsi bagi investor. Reksadana obligasi memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap aset pendapatan tetap melalui pengelolaan portofolio oleh manajer investasi.

Selain itu, reksadana obligasi memiliki fleksibilitas dalam pembelian maupun pencairan sesuai ketentuan produk. Karakteristik tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi investor yang ingin memperoleh eksposur terhadap aset pendapatan tetap tanpa harus mengelola portofolio obligasi secara langsung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×