Reporter: Dimas Andi | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja keuangan emiten-emiten pengembang energi terbarukan menunjukkan hasil beragam pada semester I-2026. Prospek emiten di sektor ini pun bakal ditentukan oleh beberapa faktor krusial.
Salah satu emiten, yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) membukukan pertumbuhan pendapatan 11,5% year on year (yoy) menjadi US$ 334 juta pada semester I-2026. Laba bersih setelah pajak BREN juga naik 29% yoy menjadi US$ 106 juta.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) juga mencetak kenaikan pendapatan 14,73% yoy menjadi US$ 235,05 juta pada semester I-2026. Pada saat yang sama, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk PGEO juga naik 15,46% yoy menjadi US$ 79,62 juta.
Baca Juga: Tokenisasi RWA Buka Akses Modal Global, Tapi Likuiditas Jadi Tantangan
Sebaliknya, PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) mengalami penurunan pendapatan 11,53% yoy menjadi US$ 16,80 juta pada semester I-2026. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk KEEN ikut merosot 24,73% yoy menjadi US$ 6,21 juta.
Ada pula PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) yang mengalami penurunan pendapatan 4,24% yoy menjadi Rp 68,06 miliar pada semester I-2026. ARKO turut membukukan penurunan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 18,20% yoy menjadi Rp 17,26 miliar.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, di atas kertas prospek emiten sektor energi terbarukan pada paruh kedua 2026 masih cukup positif, meskipun tingkat pertumbuhannya akan sangat bergantung pada jenis pembangkit, proyek yang mulai beroperasi, serta kemampuan masing-masing perusahaan menjaga utilisasi aset.
Bila berkaca pada kinerja semester I-2026, BREN dan PGEO memiliki momentum yang relatif kuat, sehingga ruang pertumbuhan pada semester kedua masih terbuka, terutama jika kontribusi proyek baru dan peningkatan produksi dapat terus berlanjut.
Secara struktural, prospek sektor ini juga ditopang oleh Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 yang menargetkan tambahan 42,6 gigawatt (GW) pembangkit energi terbarukan dan 10,3 GW storage, dengan panas bumi sebesar 5,2 GW dan hidro 11,7 GW.
Sementara itu, penurunan kinerja KEEN dan ARKO belum serta-merta menunjukkan pelemahan fundamental jangka panjang. Pemulihan tetap mungkin terjadi apabila kondisi hidrologi membaik, produksi pembangkit kembali meningkat, serta proyek-proyek baru mulai memberikan kontribusi.
Baca Juga: Proyek Smelter HPAL Catat Progres Signifikan, Ini Prospek Saham Vale Indonesia (INCO)
"Namun, untuk emiten yang berbasis hidro, pemulihan kinerja akan sangat bergantung pada kondisi curah hujan dan debit air," ujar dia, Kamis (13/8/2026).
Sentimen positif utama bagi emiten-emiten energi terbarukan hingga akhir 2026 berasal dari percepatan transisi energi pemerintah, peningkatan kebutuhan listrik, ekspansi kapasitas pembangkit, serta besarnya pipeline proyek EBT dalam RUPTL.
"Pemerintah menargetkan 76% tambahan kapasitas pembangkit dan storage 2025–2034 berasal dari energi terbarukan dan storage, sehingga memberikan visibilitas pertumbuhan jangka panjang bagi pengembang energi terbarukan," imbuh dia.
Di sisi lain, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menyatakan, tingginya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi sentimen negatif bagi emiten energi terbarukan karena akan menambah beban keuangan di tengah ekspansi. Khusus BREN, polemik high shareholder concentration (HSC) berpotensi membatasi minat pembelian saham oleh investor institusional.
"Musim kemarau berkepanjangan genuinely berdampak signifikan ke Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) atau Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTMH), karena debit air turun langsung akan mengurangi kapasitas produksi," jelas dia, Kamis (13/8).
Dari sekian emiten energi terbarukan, Wafi menilai BREN dan PGEO paling berpeluang unggul lantaran model bisnis pembangkit panas bumi yang mengadopsi Power Purchase Agreement (PPA) dengan skema take-or-pay yang membuat potensi pendapatan lebih terprediksi. Panas bumi juga minim terpapar risiko perubahan fenomena cuaca.
Baca Juga: Kepercayaan Investor Melemah Selama Pemerintahan Prabowo, IHSG Bisa ke Bawah 6.000
PGEO dianggap menarik karena dukungan Pertamina Group akan memberikan kemudahan akses kapital yang lebih terjangkau. Di sisi lain, meski fundamentalnya solid, BREN masih terhambat oleh status HSC yang membatasi re-rating secara penuh.
Arinda menjelaskan, strategi yang perlu diperkuat oleh emiten adalah mendiversifikasi sumber energi dan lokasi pembangkit, mengembangkan portofolio panas bumi dan solar yang lebih tahan terhadap risiko hidrologi, optimalisasi reservoir untuk PLTA, serta mempercepat penyelesaian proyek yang sudah memiliki kontrak jual beli listrik. Tak hanya itu, pengembang juga perlu menjaga struktur pendanaan agar ekspansi tidak terlalu membebani arus kas.
Dari sisi fundamental, emiten energi terbarukan yang berpeluang unggul sepanjang 2026 adalah perusahaan yang memiliki aset berkualitas, kontrak penjualan listrik jangka panjang, proyek dalam pipeline yang jelas, serta kemampuan meningkatkan kapasitas tanpa tekanan leverage yang berlebihan.
Dalam kelompok tersebut, saham BREN dan PGEO relatif lebih menarik untuk diperhatikan. Dia pun memperkirakan target harga saham BREN di level Rp 4.200 per saham dan BREN di level Rp 1.345 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
