Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) tertekan pada perdagangan Senin (28/9/2026), bertepatan dengan hari pertama penerapan ketentuan harga minimum saham (floor price) Rp 1 di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Saham GOTO langsung anjlok 14% dan menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) ke level Rp 43 pada awal sesi I perdagangan Senin (28/9/2026). Hingga akhir perdagangan saham hari ini, saham GOTO masih bertahan di level Rp 43 per saham.
Terkait hal ini, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, penurunan tersebut lebih mencerminkan proses price discovery dan tekanan teknikal, bukan serta-merta menunjukkan perubahan pada fundamental perusahaan.
Baca Juga: Rupiah Tertekan, Harga Minyak dan Dolar AS Jadi Perhatian Pasar
“Namun, risiko tekanan lanjutan masih terbuka apabila antrean jual tetap dominan dan belum diimbangi akumulasi beli yang kuat,” terang Nafan kepada Kontan, Senin (28/9/2026).
Secara teknikal, Nafan menyebut investor perlu mencermati area support GOTO di Rp 36-Rp 27 per saham. Apabila area tersebut turut ditembus dengan volume transaksi besar, tekanan jual berpotensi berlanjut ke level yang lebih rendah.
Sebaliknya, sinyal stabilisasi akan dapat mulai terlihat apabila antrean jual atau offer berkurang, sementara antrean beli (bid) mulai terbentuk secara konsisten. Peningkatan volume serta kemampuan harga keluar dari ARB dan membentuk pola higher low juga menjadi indikator yang perlu diperhatikan.
Nafan berpandangan perubahan floor price dari Rp 50 menjadi Rp 1 berpotensi mengubah perilaku investor terhadap saham-saham berharga rendah. Pasalnya, hambatan harga Rp 50 yang sebelumnya membatasi proses price discovery kini telah dihapus.
Tekanan juga berpotensi datang dari investor institusional yang melakukan penyesuaian posisi setelah perubahan komposisi indeks. Namun, besarnya tekanan jual berikutnya akan bergantung pada keseimbangan antara pasokan saham yang ingin dilepas dengan minat beli pada level harga baru.
"Karena itu, harga nominal yang rendah tidak dapat dijadikan indikator bahwa saham otomatis murah secara valuasi," jelas Nafan.
Di tengah tekanan harga saham, Nafan bilang fundamental GOTO masih menunjukkan perbaikan. Pada kuartal II-2026, GOTO membukukan laba bersih Rp 252 miliar, pendapatan bersih Rp 5,7 triliun, serta adjusted EBITDA Rp 1,01 triliun.
Baca Juga: Kuota Produksi Batubara Diperketat, Aset Batubara Strategis Jadi Sasaran Akuisisi
Sementara itu, sepanjang semester I-2026, laba bersih GOTO mencapai Rp 423 miliar dengan adjusted EBITDA sebesar Rp 1,917 triliun.
“Artinya, tekanan harga saat ini tidak serta-merta menunjukkan fundamental bisnis memburuk," kata Nafan.
Untuk investor yang sudah memiliki saham GOTO, Nafan menyarankan agar tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan penurunan dalam satu hari perdagangan. Investor perlu kembali mengevaluasi profil risiko dan horizon investasinya.
Adapun bagi investor yang belum memiliki GOTO, Nafan menyarankan untuk menerapkan sikap wait and see dan tidak terburu-buru melakukan bottom fishing.
Baca Juga: Dolar AS Makin Perkasa, Begini Proyeksi EUR, GBP dan AUD hingga Akhir 2026
Menurut dia, investor sebaiknya menunggu terbentuknya level support baru serta melihat bukti bahwa tekanan jual mulai terserap. Jika kemudian muncul akumulasi beli secara konsisten dan fundamental perusahaan tetap membaik, peluang pemulihan harga dapat dievaluasi lebih objektif.
"Untuk saat ini GOTO lebih tepat ditempatkan dalam fase price discovery dengan volatilitas tinggi, bukan langsung diasumsikan akan menuju Rp1 maupun dipastikan segera berbalik arah," pungkas Nafan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














