Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan euro, pound sterling, dan dolar Australia masih menghadapi tekanan di tengah penguatan dolar AS. Kondisi tersebut tercermin dari indeks dolar AS (DXY) yang bertahan di level 101, sementara pasar mencermati arah kebijakan bank sentral dan perkembangan ekonomi global.
Melansir Bloomberg pada Senin (28/9/2026) pukul 18.41 WIB, valas EUR bertengger di level 1,1375 per dolar AS atau melemah 0,14% dalam sehari. Kemudian GBP dihargai 1,3267 per dolar AS atau melemah 0,17% dalam sehari. Adapun AUD berada di kisaran 0,7013 per dolar AS atau melemah 0,14% dalam sehari.
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, penguatan dolar AS terutama ditopang oleh kombinasi kebijakan moneter The Federal Reserve yang relatif hawkish. Pada September 2026, The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4%.
"Penguatan dolar AS saat ini terutama masih didorong oleh kombinasi kebijakan moneter The Fed yang relatif hawkish, kenaikan yield Treasury AS, serta meningkatnya permintaan terhadap dolar sebagai safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik dan risiko inflasi energi," ujar Geraldo kepada Kontan, Senin (28/9/2026).
Baca Juga: OSL Indonesia Bidik Pangsa Hingga 10% di Tengah Pertumbuhan Pasar Kripto
Menurut Geraldo, tekanan terhadap euro juga berasal dari kekhawatiran mengenai dampak kenaikan harga energi terhadap pertumbuhan ekonomi Eropa. Meski demikian, Bank Sentral Eropa (ECB) juga menaikkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 2,50%.
Namun, selisih suku bunga antara Eropa dan Amerika Serikat yang masih lebar membuat euro relatif kurang menarik dibandingkan dolar AS. Sementara itu, tekanan terhadap pound sterling berasal dari kombinasi penguatan dolar AS, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Inggris, serta ketidakpastian pertumbuhan ekonomi.
Bank of England (BoE) mempertahankan suku bunga di level 3,75%. Di sisi lain, inflasi Inggris kembali berada di level 3,1%. Kondisi ini membuat pasar menghadapi ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga BoE berikutnya.
Adapun dolar Australia cenderung sensitif terhadap sentimen risiko global, harga komoditas, kondisi ekonomi China, serta perbedaan kebijakan antara Reserve Bank of Australia (RBA) dan The Fed.
AUD yang sebelumnya sempat menguat cukup signifikan kembali terkoreksi ketika dolar AS dan yield US Treasury meningkat, sementara risk appetite global melemah.
Baca Juga: Harga Minyak Naik 2%, Negosiasi AS-Iran Buntu, Pasokan Timur Tengah Tertekan
Belum Waktu Akumulasi Agresif
Meski EUR, GBP, dan AUD telah mengalami pelemahan, Geraldo menilai ketiga mata uang tersebut mulai memiliki ruang untuk dianggap relatif murah terhadap dolar AS dalam perspektif jangka menengah.
"Kalau dilihat dari valuasi jangka menengah, saya melihat ketiganya mulai memiliki ruang untuk dianggap relatif murah terhadap USD, tetapi saya belum melihat kondisi saat ini sebagai momentum untuk melakukan akumulasi secara agresif sekaligus," jelas Geraldo.
Menurut dia, valuasi dan harga pasar dapat bergerak berbeda dalam jangka pendek. Pasalnya, pasar valuta asing sangat dipengaruhi ekspektasi suku bunga dan sentimen risiko.
Untuk EUR dan AUD, investor dapat menunggu konfirmasi perubahan tren dolar AS, terutama dari arah yield US Treasury dan ekspektasi kebijakan The Fed.
Strategi akumulasi bertahap dinilai lebih relevan dibandingkan membeli sekaligus. Investor dapat mempertimbangkan akumulasi ketika harga memasuki area support dan terdapat konfirmasi dari sisi fundamental.
"Strategi yang lebih prudent adalah menunggu konfirmasi perubahan tren dan melakukan akumulasi secara bertahap, bukan mengejar harga hanya karena mata uang tersebut sudah mengalami pelemahan," pungkas Geraldo.
Baca Juga: Wall Street Melemah, Harga Minyak Melonjak Pasca Trump Menolak Usulan Perdamaian Iran
Proyeksi EUR/USD, GBP/USD, dan AUD/USD
Untuk proyeksinya, Research and Development ICDX Muhammad Amru Syifa melihat prospek EUR/USD hingga akhir 2026 masih sangat bergantung pada perkembangan kebijakan The Fed, inflasi AS, harga energi, dan kondisi geopolitik.
Dengan demikian, secara indikatif EUR/USD dapat berada di kisaran 1,14-1,20 hingga akhir tahun, dengan titik tengah konsensus sekitar 1,16.
Sementara itu, GBP/USD memiliki rentang proyeksi 1,2700-1,4000. Prospek pound sterling akan dipengaruhi oleh keseimbangan kebijakan BoE dan The Fed, serta dampak harga energi terhadap inflasi Inggris.
Adapun AUD/USD memiliki konsensus sekitar 0,7143 pada akhir 2026, dengan rentang proyeksi 0,6900-0,7500
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














