kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.651.000   11.000   0,42%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Strategi Ciputra Development (CTRA) di Tengah Lesunya Pasar Properti


Jumat, 03 Juli 2026 / 16:37 WIB
Strategi Ciputra Development (CTRA) di Tengah Lesunya Pasar Properti
ILUSTRASI. Cluster Malta di CitraGarden City (Dok/CitraGarden)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Ciputra Development Tbk (CTRA) memasang sejumlah strategi pada tahun 2026 yang penuh tantangan untuk industri properti.

Tantangan pertama berasal dari suku bunga Bank Indonesia (BI) tinggi yang ditetapkan 5,75% di bulan Juni 2026. 

Kemudian, pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang tahun ini juga membayangi industri properti secara negatif.

Direktur Utama Ciputra Development, Candra Ciputra, mengatakan, penjualan properti perseroan masih bergantung dari kredit pemilikan rumah (KPR).

Baca Juga: Kinerja Ciputra Development (CTRA) Terdampak Perlambatan Pasar Properti

Per kuartal I 2026, CTRA mencatatkan pendapatan prapenjualan alias marketing sales sebesar Rp 2,4 triliun.

Sebesar 72% dari jumlah itu dibayar menggunakan skema KPR, ini proporsinya juga naik sekitar 2% dari periode sama tahun lalu. Sisanya dibayar secara kas 19% dan tunai bertahap 9%.

Meskipun begitu, setiap kenaikan suku bunga BI sebesar 1%, konsumen tak langsung mengalami kenaikan biaya cicilan yang signifikan, walaupun bunganya memang bergerak.

“Walaupun suku bunga naik 1% pun jika dibandingkan dengan (biaya) cicilannya, maka biaya bunga per bulan itu tidak mencapai 10% sebenarnya dari (biaya) cicilan," katanya.

Sejak awal tahun 2026, CTRA sudah memproyeksikan raihan pendapatan dan laba bersih turun 10% pada tahun ini. 

Baca Juga: Laba Ciputra Development (CTRA) Turun 21,51% pada Kuartal I-2026, Cek Penyebabnya

Sebagai informasi, pendapatan CTRA selama 2025 sebesar Rp 12,7 triliun atau meningkat 13% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 11,2 triliun. Laba bersih CTRA tercatat Rp 2,7 triliun atau naik 25% dari tahun sebelumnya sebesar Rp 2,1 triliun. 

Sekretaris Perusahaan CTRA, Aditya Ciputra Sastrawinata mengatakan, target di 2026 ditetapkan dengan penuh pertimbangan dan kehati-hatian, karena melihat masih lesunya permintaan properti di beberapa wilayah akibat faktor penurunan daya beli.

Per kuartal I 2025, Ciputra telah mengantongi pendapatan Rp 2,55 triliun dengan laba bersih Rp 518 miliar.

Meskipun target pendapatan dan laba diturunkan, tetapi CTRA masih menargetkan pencapaian pendapatan marketing sales stagnan di Rp 9,5 triliun dengan mempertimbangkan situasi perekonomian global dan domestik.

Baca Juga: Colliers Ungkap Dampak Konflik Timur Tengah ke Pasar Properti Domestik

“CTRA optimistis mampu mencapai target marketing sales 2026 melalui penerapan strategi yang berfokus pada pengembangan produk residensial dan diversifikasi geografis, di samping juga memanfaatkan program insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP),” katanya.

CTRA juga telah menyiapkan stok yang diikutsertakan dalam program insentif PPN DTP di tahun 2026. 

Aditya menjelaskan, di awal tahun 2026, CTRA memiliki stok PPN DTP sekitar Rp 1 triliun sisa dari tahun sebelumnya.

 

Sementara di tahun 2026, CTRA memiliki strategi untuk mempercepat pembangunan atas unit-unit yang belum terjual agar bisa disertakan dalam program PPN DTP di tahun ini.

“Harapannya, unit-unit tersebut bisa diserahterimakan sebelum akhir tahun, sehingga konsumen dapat menggunakan insentif PPN DTP di tahun 2026,” katanya. 

Artinya, CTRA memiliki total aset yang disertakan di program PPN DTP senilai Rp 4 triliun di tahun ini. 

Dari marketing sales per Maret 2026, sekitar 51% atau senilai Rp 1,30 triliun merupakan aset yang ikut serta dalam program insentif tersebut.

Baca Juga: Ciputra Development (CTRA) Punya Stok untuk PPN DTP Rp 4 Triliun pada 2026

Namun, CTRA mencatat bahwa penjualan aset dengan harga di bawah Rp 1 miliar turun ke 8% sepanjang kuartal I. Sementara, penjualan unit di harga Rp 2 miliar - Rp 5 miliar mengalami peningkatan persentase komposisi.

Hal itu mengindikasikan bahwa kenaikan permintaan justru terjadi dari segmen menengah atas. Padahal, insentif PPN DTP 100% ditujukan untuk unit rumah dengan harga di bawah Rp 2 miliar.

Di tengah kondisi tersebut, Direktur Ciputra Development, Harun Hajadi menegaskan, insentif tersebut tetap membantu penjualan. Masalah penurunan komposisi penjualan unit CTRA di bawah Rp 1 miliar tidak berkaitan langsung dengan insentif PPN DTP.

“Masalahnya belum tentu karena ada atau tidak adanya insentif, tetapi apakah permintaannya masih kuat atau tidak,” ujarnya.

Menurutnya, penurunan permintaan tersebut juga cenderung sebagai tren siklikal. Yang mana siklus booming properti terjadi di 2022-2024, dan saat ini tengah masuk kembali ke tren penurunan.

Hal tersebut juga diperparah dengan naiknya suku bunga yang memengaruhi bunga KPR.

Rencana perpanjangan insentif PPN DTP hingga 2027 juga masih bergulir, meskipun belum diteken secara resmi oleh pemerintah.

Baca Juga: Simak Proyeksi Ciputra Development (CTRA) yang Hadapi Tantangan pada Tahun 2026

Direktur PT Ciputra Development Tbk Nanik J. Santoso menjelaskan, jika rencana itu tak jadi diresmikan, maka harga produk akan naik 11%.

“Tapi ini bukan sebuah perubahan, hanya kembali ke normal (tanpa insentif),” jelasnya.

CTRA meyakini bahwa permintaan untuk unit properti tak sepenuhnya didorong oleh insentif PPN DTP. Melainkan, dari tren suku bunga dan kondisi ekonomi makro, termasuk rupiah.

“Strateginya jadi tidak ada cara lain selain mengembalikan harga ke harga normal. Harapannya, saat insentif itu selesai, kondisi ekonomi jauh lebih baik sehingga permintaan bisa lebih kuat,” ungkapnya.

Selain itu, sebanyak 88% marketing sales CTRA per kuartal I 2026 berasal dari rumah dan kavling tanah. Sisanya sebesar 10% dan 2% masing-masing berasal dari ruko dan apartemen.

Alhasil, untuk memenuhi target marketing sales 2026, CTRA meluncurkan 2 proyek residensial baru yakni Citra Homes Halim di Jakarta dan Citra Bukit Golf Sentul di Bogor, serta klaster-klaster baru. 

Proyek Citra Homes Halim berlokasi di Jakarta Timur dengan rencana pengembangan 8,5 hektar. Target presales dari proyek ini sebesar Rp 300 miliar di tahun 2026.

Lalu, proyek Citra Bukit Golf Sentul berlokasi di Jakarta Selatan dengan rencana pengembangan 152 hektar. Proyek ini ditargetkan rilis pada semester II 2026 dengan target presales sebesar Rp 500 miliar di tahun 2026.

Baca Juga: Ciputra Development (CTRA) Hadapi Tekanan di Tahun 2026, Simak Prospek Sahamnya

Proyek-proyek tersebut mayoritas menyasar segmen masyarakat menengah ke atas, dengan harga di atas Rp 1,5 miliar. Segmen dipilih juga lantaran dinilai lebih resilien di tengah gejolak ekonomi.

Sepanjang kuartal I 2026, CTRA telah meluncurkan Klaster Cedarwood@Forestine di proyek CitraGarden City Jakarta, KlasterHortis Phase 2 di proyek Citra Garden Serpong, dan juga klaster-klaster lainnya. 

CTRA pun telah menggunakan belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 300 miliar per Maret 2026. Sebesar 65% dari capex digunakan untuk tanah dan pengembangan. Lalu, sebesar 21% untuk rumah sakit, lainnya 11%, dan mal 3%.

Pada semester II 2026, CTRA akan meluncurkan Klaster Lacewood Phase 1@The Forestine dan Klaster Solea Terrace di CitraGarden City Jakarta, Apartemen Kataluna di CitraLand City CPI Makassar, dan lainnya. 

Saham CTRA saat ini berada di level Rp 575 per saham. Harganya sudah turun 0,86% dan terkoreksi 30,72% sejak awal tahun alias year to date (YTD).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×