kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.935   -9,00   -0,05%
  • IDX 5.896   -102,90   -1,72%
  • KOMPAS100 764   -13,28   -1,71%
  • LQ45 584   -4,02   -0,68%
  • ISSI 203   -5,25   -2,52%
  • IDX30 331   -1,77   -0,53%
  • IDXHIDIV20 408   -0,87   -0,21%
  • IDX80 87   -1,24   -1,41%
  • IDXV30 110   -1,47   -1,32%
  • IDXQ30 107   -0,13   -0,12%

Ciputra Development (CTRA) Hadapi Tekanan di Tahun 2026, Simak Prospek Sahamnya


Jumat, 26 Juni 2026 / 19:00 WIB
Ciputra Development (CTRA) Hadapi Tekanan di Tahun 2026, Simak Prospek Sahamnya
ILUSTRASI. Laba bersih Ciputra (CTRA) diperkirakan turun 10% di 2026 akibat suku bunga tinggi dan rupiah lesu. Pahami strategi CTRA untuk bertahan (Dok/CitraLand BSB City)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Ciputra Development Tbk (CTRA) masih menghadapi sejumlah tantangan sepanjang tahun 2026. Era suku bunga tinggi dan pelemahan rupiah masih terus menekan industri properti tahun ini.

Kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) ke 5,75% dan lesunya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diakui CTRA membuat permintaan akan unit properti menjadi lesu di tahun ini. CTRA bahkan telah memproyeksikan raihan laba bersih dan pendapatan masing-masing turun 10% di tahun 2026.

Sekretaris Perusahaan CTRA Aditya Ciputra Sastrawinata mengatakan, pendapatan dan laba bersih perseroan di tahun 2026 diproyeksikan turun 10% dari raihan tahun lalu. 

Baca Juga: United Tractors (UNTR) Terus Memperkuat Lini Usaha Mineral Non-Batubara

Sebagai pengingat, pendapatan CTRA selama 2025 adalah Rp 12,7 triliun atau meningkat 13% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 11,2 triliun. Laba bersih CTRA tercatat Rp 2,7 triliun atau naik 25% dari tahun sebelumnya sebesar Rp 2,1 triliun. 

Di sisi lain, CTRA menargetkan pencapaian pendapatan prapenjualan alias marketing sales stagnan di Rp 9,5 triliun dengan mempertimbangkan situasi perekonomian global dan domestik.

“Ini sudah ditargetkan dari awal tahun, turun 10% dari tahun lalu. Untuk presales, targetnya flat di Rp 9,5 triliun,” ujarnya saat ditemui di Public Expose CTRA, Jumat (26/6/2026).

Menurut Aditya, target di 2026 ditetapkan dengan penuh pertimbangan dan kehati-hatian, karena melihat masih lesunya permintaan properti di beberapa wilayah akibat faktor penurunan daya beli.

“Namun, CTRA optimistis mampu mencapai target marketing sales 2026 melalui penerapan strategi yang berfokus pada pengembangan produk residensial dan diversifikasi geografis, di samping juga memanfaatkan program insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP),” katanya.

Aditya bilang, di awal tahun 2026, perseroan memiliki stok PPN DTP sekitar Rp 1 triliun sisa dari tahun sebelumnya

Baca Juga: Ciputra Development (CTRA) Punya Stok untuk PPN DTP Rp 4 Triliun pada 2026

Sementara di tahun 2026, CTRA memiliki strategi untuk mempercepat pembangunan atas unit-unit yang belum terjual agar bisa disertakan dalam program PPN DTP di tahun ini.

“Harapannya, unit-unit tersebut bisa diserahterimakan sebelum akhir tahun, sehingga konsumen dapat menggunakan insentif PPN DTP di tahun 2026,” katanya.

Artinya, CTRA memiliki total aset yang disertakan di program PPN DTP senilai Rp 4 triliun di tahun ini.

Per kuartal I 2026, CTRA mencatatkan pendapatan prapenjualan alias marketing sales sebesar Rp 2,4 triliun. Sekitar 51% atau senilai Rp 1,30 triliun merupakan aset yang ikut serta dalam program insentif tersebut.

Di sisi lain, CTRA mencatat bahwa penjualan aset dengan harga di bawah Rp 1 miliar turun ke 8% sepanjang kuartal I. Sementara, penjualan unit di harga Rp 2 miliar - Rp 5 miliar mengalami peningkatan persentase komposisi.

Hal itu mengindikasikan bahwa kenaikan permintaan justru terjadi dari segmen menengah atas. Padahal, insentif PPN DTP 100% ditujukan untuk unit rumah dengan harga di bawah Rp 2 miliar.

Direktur Ciputra Development, Harun Hajadi mengatakan, insentif tersebut tetap membantu penjualan. Masalah penurunan komposisi penjualan unit CTRA di bawah Rp 1 miliar tidak berkaitan langsung dengan insentif PPN DTP.

 

“Masalahnya belum tentu karena ada atau tidak adanya insentif, tetapi apakah permintaannya masih kuat atau tidak,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Direktur Ciputra Development Nanik J. Santoso menambahkan, perpanjangan PPN DTP hingga 2027 juga belum secara resmi diberlakukan. Artinya, jika kebijakan itu tidak jadi berlaku, harga produk akan naik 11%.

“Tapi ini bukan sebuah perubahan, hanya kembali ke normal (tanpa insentif),” ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, BI Rate yang bertahan di level tinggi membuat biaya KPR relatif mahal, menekan daya beli end-user real estat.

“Beban bunga CTRA di kuartal I yang mencapai Rp 201,7 miliar di tengah struktur utang jangka pendek (ST Debt) Rp 11,2 triliun juga cukup membebani profitabilitas neto di awal tahun,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (26/6/2026).

Di tengah penurunan kinerja, harga saham CTRA juga turun. Per hari ini (26/6/2026), harga saham CTRA sudah turun 31,93% year to date (YTD) ke Rp 565 per saham.

Nafan bilang, rupiah yang sempat melemah signifikan hingga mendekati area Rp 17.900–Rp 18.000 per dolar AS memicu aliran dana asing keluar (foreign outflow) secara masif dari pasar modal Indonesia, termasuk dari saham blue-chip properti seperti CTRA.

“Penurunan bottom-line kuartal pertama CTRA menjadi pemicu aksi ambil untung dan penyesuaian valuasi oleh investor institusi karena pertumbuhan yang melandai,” tuturnya.

 

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, mengatakan, koreksi saham CTRA lebih mencerminkan tekanan pasar secara umum dibanding deteriorasi fundamental. Outflow asing masif dan sentimen risk-off menghantam sektor properti yang sensitif terhadap suku bunga lebih dalam dari IHSG.

“Fundamental kuartal I 2026 sebenarnya masih solid dengan pre-sales tumbuh positif didukung PPN DTP dan program 3 juta rumah, sehingga koreksi menciptakan gap menarik antara harga pasar dan RNAV sesungguhnya,” katanya kepada Kontan, Jumat (26/6/2026).

BI Rate di 5,75% dinilai akan memperberat cicilan KPR dan beban bunga, sementara rupiah yang lemah turut menaikkan biaya konstruksi. 

Namun, Abida melihat, CTRA unggul dibanding peers emiten properti lain dengan diversifikasi geografis terluas dari Jabodetabek hingga Surabaya dan Makassar. Selain itu, CTRA juga punya portofolio segmen Rp1-5 miliar yang menjadi target PPN DTP dan pendapatan berulang (recurring income) dari mal dan hotel yang menstabilkan arus kas. 

“Katalis ke depan berasal dari kepastian PPN DTP hingga 2027, realisasi program 3 juta rumah, dan stabilisasi rupiah,” ungkapnya.

Nafan bilang, posisi kas dan setara kas CTRA saat ini masih tebal di angka Rp 8,25 triliun. Likuiditas yang melimpah pun memberikan fleksibilitas ekspansi lahan (land banking) tanpa harus bergantung sepenuhnya pada penarikan utang bank baru di tengah era suku bunga tinggi.

“CTRA mahir menggeser bauran produk (product mix) dengan merilis hunian di segmen harga di bawah Rp 1,5 miliar yang perputarannya cepat ketika rumah mewah sedang lesu,” tuturnya.

Kebijakan perpanjangan tenor cicilan KPR hingga 40 tahun yang resmi digodok pemerintah bisa menjadi katalis positif yang sangat masif bagi sektor properti. Kebijakan ini dinilai langsung mereduksi nilai cicilan bulanan dan memperluas jangkauan pasar ke generasi muda (milenial dan Gen Z).

Baca Juga: RUPST Catur Sentosa (CSAP) Putuskan Tebar Dividen Tahun Buku 2025, Cek Besarannya

“Kelanjutan stimulus pajak dari pemerintah (bila diperpanjang atau dioptimalkan) akan mengakselerasi serah terima unit di paruh kedua,” ungkapnya.

Nafan memberikan rekomendasi saham beli untuk CTRA dengan target harga Rp 645 per saham.

Kevin Halim, Analis Maybank Sekuritas menambahkan, target marketing sales CTRA di tahun 2026 kemungkinan masih akan tercapai di tengah tekanan pada sektor properti.

Namun, dampak dari makroekonomi global yang sedang menantang dapat mempengaruhi performa emiten di sisa 2026, seperti kenaikan rasio non performing loan (NPL) di sektor perumahan, khususnya di rumah dengan kelas menengah ke bawah. 

Jika dibandingkan emiten properti lain yang bergerak di sektor premium, CTRA merupakan salah satu emiten yang lebih terdampak oleh situasi ini. Sebab, product mix CTRA lebih terdiversifikasi dan lebih terkonsentrasi di segmen menengah.

Kevin pun merekomendasikan beli dengan target harga Rp 1.150 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×