Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada Selasa (8/9/2026), tertekan aksi jual saham sektor perangkat lunak di tengah kekhawatiran perkembangan kecerdasan buatan (AI) bakal mengganggu bisnis perusahaan software.
Indeks S&P 500 turun 0,58% ke 7.673,52 poin. Nasdaq melemah 0,32% menjadi 26.421,41 poin, sedangkan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 1,18% ke 52.786,07 poin.
Tekanan paling terasa pada saham perusahaan software. Salesforce dan Intuit masing-masing turun sekitar 4%, sementara ServiceNow merosot 5%. Indeks S&P 500 untuk sektor software dan layanan juga turun 1,4% dan mencatat pelemahan dalam dua sesi berturut-turut.
Kekhawatiran tersebut kembali menguat setelah peluncuran model AI terbaru OpenAI pada pekan lalu memicu spekulasi bahwa teknologi AI dapat semakin bersaing dengan layanan yang selama ini ditawarkan perusahaan software khusus.
"AI kembali menghidupkan kekhawatiran disrupsi terhadap software," kata Jed Ellerbroek, portfolio manager Argent Capital Management.
Baca Juga: S&P Pertahankan Rating BBB Indonesia, Rupiah dan Obligasi Berpeluang Menguat
Di sisi lain, saham perusahaan semikonduktor justru menguat. Intel melonjak 9%, sedangkan Qualcomm naik 3,2% setelah keduanya mencapai kesepakatan dengan Amazon untuk mengembangkan chip AI khusus.
Sentimen pasar juga masih dipengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Pelaku pasar meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed 15-16 September 2026 setelah data ketenagakerjaan AS pada pekan lalu menunjukkan penambahan lapangan kerja pada Agustus jauh di atas perkiraan.
Pasar kini menunggu data inflasi produsen dan konsumen AS yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga berikutnya.
Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan pekan depan mencapai sekitar 60%.
Selain isu suku bunga, konflik di Timur Tengah turut membebani pasar saham. Harga minyak sempat menyentuh level tertinggi dalam enam pekan setelah kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang fasilitas energi Arab Saudi hingga memicu kebakaran.
Gangguan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dan ancaman Iran untuk melakukan pembalasan terhadap serangan baru AS juga meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Baca Juga: Wall Street Mixed Selasa (8/9), Investor Cermati Lonjakan Harga Minyak dan Inflasi AS
Sektor energi S&P 500 justru menguat 1%. Marathon Petroleum naik 2,4%, sedangkan Occidental Petroleum bertambah 1%.
Sementara itu, saham Apple turun 1,2% sehari sebelum perusahaan diperkirakan memperkenalkan iPhone terbaru dalam sebuah acara yang menjadi salah satu sorotan pasar.
Saham terkait kripto juga melemah seiring harga bitcoin turun dari level US$80.000. Coinbase terkoreksi 3,1%, sedangkan Strategy turun 4,4%.
Meski terkoreksi, S&P 500 masih mencatat kenaikan sekitar 12% sepanjang 2026. Namun, indeks tersebut berada sekitar 1% di bawah rekor penutupan yang dicapai pada 13 Agustus.
Valuasi S&P 500 juga menurun. Berdasarkan data LSEG, indeks tersebut kini diperdagangkan sekitar 19 kali proyeksi laba, turun dari sekitar 21 kali pada awal Juni. Penurunan valuasi tersebut terjadi di tengah kenaikan ekspektasi laba setelah kinerja perusahaan pada kuartal II yang cukup kuat.
Perdagangan saham AS berlangsung ramai dengan volume mencapai 15,7 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 14,9 miliar saham dalam 20 sesi sebelumnya.
Baca Juga: Wall Street Menguat, The Fed Isyaratkan Menahan Diri untuk Tidak Menaikkan Suku Bunga
Di dalam S&P 500, jumlah saham yang turun mencapai sekitar 2,4 kali lipat dibandingkan saham yang menguat. Indeks tersebut mencatat lima saham yang mencapai level tertinggi baru dan 10 saham yang menyentuh level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq mencatat 55 saham yang mencetak rekor tertinggi baru dan 136 saham mencapai level terendah baru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









