kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.709   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.518   -3,63   -0,06%
  • KOMPAS100 848   -0,96   -0,11%
  • LQ45 642   0,75   0,12%
  • ISSI 229   -1,10   -0,48%
  • IDX30 359   0,71   0,20%
  • IDXHIDIV20 438   1,12   0,26%
  • IDX80 97   -0,06   -0,06%
  • IDXV30 122   -0,08   -0,06%
  • IDXQ30 114   0,40   0,35%

Simak Rekomendasi Saham Pilihan dan Prospek IHSG di September 2026


Senin, 31 Agustus 2026 / 05:13 WIB
Simak Rekomendasi Saham Pilihan dan Prospek IHSG di September 2026
ILUSTRASI. Para analis memberikan rekomendasi saham pilihan dan prospek pergerakan IHSG untuk bulan September 2026 (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi mendapatan tekanan pada perdagangan bulan September 2026, setelah reli di Agustus. Bahkan, pasar saham Tanah Air berpotensi menghadapi volatilitas yang lebih kencang. 

Sepanjang Agustus 2026, IHSG sudah menguat 5,06% hingga Jumat (28/8/2026), menandai reli kuat sebelum memasuki bulan yang secara historis kurang bersahabat. Kiwoom Sekuritas mencatat, rata-rata return IHSG September 10 tahun terakhir minus 0,94%.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menjelaskan, September 2026 tetap berpeluang positif, meski ruang penguatan diperkirakan terbatas oleh kombinasi risiko global dan agenda pasar domestik.

“Kami memperkirakan IHSG berpeluang 40%–45% ditutup positif pada September 2026, sedikit di atas rata-rata probabilitas historis 33%, namun tetap condong ke skenario konsolidasi dengan bias pelemahan jangka pendek,” jelasnya kepada Kontan, Jumat (28/8/2026). 

Baca Juga: Mata Uang Komoditas Menarik untuk Diversifikasi, Simak Risikonya

Liza memproyeksikan, IHSG bergerak dalam kisaran 6.400–6.705 sepanjang September 2026. Tekanan terbesar diperkirakan muncul pada periode 10–18 September ketika sejumlah bank sentral menggelar pertemuan.

Menurutnya, agenda utama yang perlu dicermati mencakup keputusan European Central Bank (ECB) pada 10 September, data CPI Amerika pada 11 September, serta keputusan The Fed dan Bank of Japan (BOJ) pada 16–18 September.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22–23 September. Liza menilai stabilnya BI-Rate di 5,75% masih membuka ruang pelonggaran, apabila pergerakan rupiah tetap mendukung.

Tak hanya itu, kata Liza, risiko global juga datang dari perubahan ekspektasi kebijakan The Fed. Pasca pidato Kevin Warsh di Jackson Hole, peluang kenaikan suku bunga September menurut CME FedWatch mencapai 34%, meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko.

Dia mencatat yield US Treasury 10 tahun berada sekitar 4,6%–4,7%, sementara tenor dua tahun sekitar 4,2%–4,3%. Liza bilang, kenaikan yield berpotensi menekan valuasi saham, terutama kelompok berorientasi pertumbuhan dan teknologi.

Di Eropa dan Jepang, ECB serta BOJ juga mulai membuka peluang kebijakan lebih hawkish. Kondisi tersebut berpotensi mengetatkan likuiditas global melalui pengurangan transaksi carry trade berbasis yen.

Meski begitu, komoditas dinilai akan menjadi penyeimbang. Liza bilang, harga CPO, nikel, dan emas masih berada dalam tren naik, sehingga dapat menopang emiten komoditas Indonesia ketika pasar saham global menghadapi tekanan.

Baca Juga: ANTM Cetak Laba Rp 6,91 Triliun, Prospek Semester II-2026 Masih Positif

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menambahkan, peluang pelemahan IHSG pada September lebih besar, dengan berbagai faktor global berpotensi menekan pasar.

“Tahun ini, rasanya besar kemungkinan akan mengalami pelemahan. Namun tentu ada banyak faktor yang menentukan hal tersebut, mulai dari perang Amerika dan Iran hingga kemungkinan The Fed menahan atau menaikkan suku bunga,” ucapnya. 

Nico memperkirakan, IHSG memiliki probabilitas 43% untuk menyentuh level 6.750 pada September, dengan titik exit atau keluar di 6.230. Investor diminta mencermati support kuat selama volatilitas meningkat.

Di sisi teknikal, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta mengatakan, tren IHSG masih positif. Indikator moving average juga menunjukkan konfirmasi penguatan.

“Secara teknikal, pergerakan IHSG akan membentuk pola high baru karena faktor uptrend. Berdasarkan indikator, MA20&60 telah menunjukkan positive crossover, Stochastics K_D menunjukkan sinyal positif, dan RSI berpotensi membentuk pola golden cross,” katanya. 

Menurut Nafan, apabila koreksi pada September belum serta-merta mengubah tren jangka panjang IHSG. Dalam skenario bullish, Mirae memperkirakan IHSG berpeluang menguji level 7.400 pada 2026

Lebih lanjut, dia memasukkan saham dengan fundamental kuat dalam daftar pilihan saham 2026, yakni BBCA, BBNI, BBRI, BMRI, BBTN, CPIN, CTRA, INDF, ITMG, JSMR, TPIA dan EXCL.

 

Sementara itu, Liza menyebut volatilitas September dapat menjadi kesempatan re-entry bagi investor jangka menengah-panjang, bukan alasan keluar pasar. Secara historis, Oktober hingga Desember memiliki peluang penguatan lebih tinggi.

Dia bilang pola tersebut membuka window akumulasi menuju reli Oktober-Desember. Rata-rata return Oktober dan Desember masing-masing 1,16% dan 2,41%, dengan probabilitas kenaikan periode tersebut mencapai 78%.

Untuk pilihan saham, Kiwoom Sekuritas memilih saham INCO dengan target harga di Rp 6.300, ANTM Rp 4.800, PANI Rp 9.925, BBRI Rp 3.600, MTEL Rp 705, JSMR Rp 3.850, JPFA Rp3.140, KLBF Rp 970, dan BBNI Rp 4.100.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×