Reporter: Yuliana Hema | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bukan hanya perusahaan pengelola pusat data, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan pembangunan pusat data (data center) membuka peluang bagi emiten yang memasok infrastruktur pendukung.
Analis Mandiri Sekuritas Robi Sutanto dan Danif Nouval melihat ada peluang pada kebutuhan listrik, pendinginan, pipa air, serta material pendukung data center. Bahkan, sebagian di antaranya sudah terdampak di dunia nyata.
“Sebagian di antaranya sudah mulai mengalami dampak dunia nyata dari pembangunan infrastruktur, sementara beberapa lainnya merupakan saham di sektor material yang manfaatnya berasal dari pembangunan infrastruktur,” tulisnya dalam riset yang dirilis, Senin (31/8/2026).
Baca Juga: J Resources Asia (PSAB) Bukukan Laba US$ 177,89 Juta, Melonjak 803%
Menurut Robi dan Danif, pusat data berbasis AI membutuhkan infrastruktur berbeda dibandingkan pusat data konvensional, terutama dari sisi konsumsi listrik.
Server AI menggunakan beberapa GPU secara bersamaan sehingga kebutuhan listriknya jauh lebih besar. Sebagai gambaran, satu rak server tradisional membutuhkan sekitar 10 kilowatt, sedangkan rak Nvidia Blackwell/NVL72 mencapai 200 kilowatt.
Robi dan Danif menjelaskan kebutuhan listrik yang tinggi tersebut berbanding lurus dengan panas yang dihasilkan server. Setiap megawatt listrik yang masuk ke rak server pada akhirnya harus dikeluarkan kembali dalam bentuk panas.
Mereka menilai kondisi tersebut membuat teknologi pendingin udara konvensional kurang memadai untuk rak server berkepadatan tinggi. Dus, penyedia infrastruktur AI mulai mengadopsi teknologi liquid cooling dalam layanannya.
“Server AI memiliki beberapa GPU yang bekerja secara bersamaan dan mengonsumsi listrik jauh lebih besar dibandingkan DC konvensional,” jelas Robi dan Danif.
Mereka memproyeksikan kebutuhan liquid cooling dapat menciptakan peluang bagi perusahaan material. Teknologi direct-to-chip cooling menggunakan selang dan pipa yang menghubungkan chip server langsung dengan unit distribusi pendingin.
Baca Juga: B50 Menopang Harga, Kinerja Dharma Satya (DSNG) Bergantung Efisiensi dan Operasional
Sejalan dengan itu, Roni dan Danif melihat PT Avia Avian Tbk (AVIA) dan PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) berpotensi memperoleh manfaat dari pembangunan infrastruktur AI. Keduanya memiliki eksposur terhadap kebutuhan material pendukung pusat data.
Untuk AVIA, peluang berasal dari bisnis distribusi barang yang mencakup pipa air. Sekitar 20% pendapatan AVIA berasal dari distribusi barang, meski segmen tersebut menghasilkan margin lebih rendah dibandingkan bisnis cat.
Sementara itu, ISSP memiliki eksposur lebih langsung karena produk pipa bajanya telah dipasok untuk kebutuhan rak dan struktur pusat data. Namun, tingkat utilisasi pabrik yang rendah masih menjadi tantangan bagi perseroan.
Sementara itu, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas melihat tren pembangunan data center mulai memberikan sentimen positif kepada sejumlah emiten yang memiliki keterkaitan langsung maupun tidak langsung dengan industri tersebut.
Sukarno menilai DSSA menjadi salah satu emiten yang paling mendapat perhatian pasar dari tema data center. Saham tersebut memiliki kapasitas 40 megawatt di Cikarang dan tahap awal pengembangannya ditargetkan selesai pada akhir 2026.
“Dari sisi eksposur atau kapasitas sendiri saat ini berada di 40 megawatt dan itu terletak di Cikarang. Target tahap awal nantinya akan selesai pada akhir 2026,” ucapnya dalam paparan belum lama ini.
Baca Juga: BEI Kembangkan Akses Saham Global bagi Investor RI Lewat Alpaca
Menurutnya, penyelesaian proyek tersebut berpotensi memberikan kontribusi terhadap pendapatan
DSSA. Kondisi itu turut menjadi salah satu alasan pelaku pasar kembali melirik saham DSSA seiring ramainya pemberitaan mengenai data center.
Sukarno melihat ISAT memiliki eksposur yang menarik melalui pengembangan data center bersama mitra strategis. Potensi tersebut semakin relevan karena kebutuhan komputasi AI diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.
“Artinya memang tingkat kebutuhan data center ini akan semakin tinggi ke depannya dan ISAT sendiri dari sisi kinerja juga terakhir di kuartal dua 2026 mencatatkan kenaikan yang cukup signifikan,” kata dia.
Menurutnya, posisi ISAT juga didukung kemampuan kas yang dinilai cukup besar sehingga memberikan ruang bagi perseroan melakukan ekspansi. Ini membuat prospek ISAT dari sisi data center cukup menarik untuk diperhatikan.
Untuk emiten telekomunikasi lainnya, Sukarno menilai dampak data center terhadap TLKM masih relatif terbatas. Kontribusi bisnis data center terhadap total pendapatan saat ini masih di bawah 2%, meski potensinya diproyeksikan meningkat.
Pertumbuhan data center juga berpotensi memberikan dampak positif kepada perusahaan konstruksi. Sukarno bilang peningkatan pembangunan pusat data akan meningkatkan permintaan konstruksi sehingga memberikan manfaat tidak langsung bagi emiten di sektor tersebut.
“Ketika ada permintaan pembangunan terkait data center, pastinya salah satu industri atau bisnis yang berkaitan dengan konstruksi akan mendapatkan dampak positif ke depannya,” kata Sukarno.
Dari sisi kawasan industri, kebutuhan lahan untuk pembangunan data center juga menjadi katalis. Sukarno melihat KIJA memiliki potensi karena kawasan industrinya dapat mendukung klasterisasi data center dan ditopang land bank yang cukup besar.
Perusahaan penyedia infrastruktur jaringan seperti MTEL, TOWR, MORA, dan KETR juga dapat memperoleh manfaat secara tidak langsung. Menurutnya. pembangunan data center membutuhkan jaringan, fiber optik, serta peningkatan kapasitas lalu lintas data.
“Pertumbuhan data center ini juga bisa meningkatkan penggunaan traffic, mungkin traffic dari MORA dan KETR sendiri,” jelasnya.
Lebih lanjut, Mandiri Sekuritas menyematkan pertingkat netral untuk sektor kawasan industri dengan saham pilihan BEST dan DMAS. Adapun kedua saham itu diberikan rekomendasi neutral.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














