Reporter: Rashif Usman | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Mayora Indah Tbk (MYOR) mencatatkan penguatan momentum penjualan di pasar domestik memasuki awal kuartal III-2026. Bahkan, capaian tersebut melampaui target internal yang ditetapkan manajemen perseroan, di tengah kinerja ekspor yang masih tertekan.
Berdasarkan riset yang dipublikasikan BRI Danareksa Sekuritas, pertumbuhan sell in domestik MYOR pada Juli 2026 tercatat lebih dari 15% secara tahunan (year on year). Realisasi ini jauh melampaui target internal perusahaan yang dipatok sebesar 10%.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Christy Halim dan Sabela Nur Amalina, dalam risetnya yang dirilis Kamis (27/8/2026) menyebutkan bahwa manajemen MYOR tetap mempertahankan panduan pertumbuhan pendapatan sepanjang 2026 di kisaran 5%-8%, dengan target margin kotor pada rentang 24%-25%. MYOR juga membuka kemungkinan untuk meninjau ulang proyeksi tersebut setelah kuartal III-2026 berakhir.
Baca Juga: Bitcoin, Emas, hingga Obligasi Menguat di Agustus, Mana yang Paling Cuan?
"Tanpa adanya kenaikan harga yang diterapkan sejauh ini, MYOR tetap nyaman mempertahankan harga saat ini selama margin kotor tetap di atas 23%," kata analis BRI Danareksa Sekuritas Christy Halim dan Sabela Nur Amalina dalam riset yang dipublikasikan, Kamis (27/8/2026).
Momentum Back to School Jadi Pendorong Utama
Manajemen MYOR mengungkapkan pendorong utama pertumbuhan penjualan domestik pada Juli 2026 datang dari momentum tahun ajaran baru atau back to school. Peningkatan aktivitas belanja atau konsumsi dari kalangan pelajar pada periode tersebut turut memberikan kontribusi positif terhadap penjualan perseroan di pasar domestik.
Kendati demikian, MYOR belum bisa memberikan proyeksi menyeluruh terkait kinerja perusahaan sepanjang kuartal III-2026. Pasalnya, data penjualan untuk bulan Agustus 2026 belum diterima secara keseluruhan.
"Untuk prospek kinerja MYOR secara keseluruhan di kuartal III-2026, saat ini kami belum dapat memberikan gambaran secara menyeluruh karena laporan penjualan bulan Agustus belum kami terima. Jadi, data yang kami miliki saat ini baru sampai dengan bulan Juli, sehingga masih terlalu dini untuk memberikan outlook kuartal III secara keseluruhan," ucap manajemen MYOR kepada Kontan, Selasa (1/9/2026).
Terkait tantangan ke depan, manajemen menyoroti sejumlah faktor yang perlu diwaspadai, di antaranya daya beli masyarakat, pola belanja konsumen, serta pergerakan harga bahan baku.
Secara terpisah, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama melihat prospek MYOR di kuartal III-2026 masih cukup positif, terutama karena penjualan domestik mulai pulih dan menunjukkan pertumbuhan yang lebih kuat pada Juli.
Baca Juga: TPIA Buka Akses Pelabuhan ke Pihak Eksternal, Bidik Bisnis Logistik
"Kondisi ini cukup positif setelah sebelumnya penjualan sempat terdampak gangguan distribusi dan penyesuaian persediaan di tingkat distributor," ucap Kevin.
Dari sisi laba, MYOR juga masih terbantu oleh margin yang lebih baik karena harga beberapa bahan baku lebih rendah dibanding tahun lalu.
Namun, yang masih perlu diperhatikan ialah penjualan ekspor yang belum terlalu kuat, potensi kenaikan harga bahan baku, biaya promosi yang meningkat, dan pergerakan rupiah.
"Jadi, menurut kami periode kuartal III-2026 berpeluang membaik, tetapi keberlanjutan pertumbuhan domestik dan pemulihan ekspor tetap menjadi hal utama yang perlu dicermati," tambah Kevin.
Selain itu, Kevin berpandangan pergerakan saham MYOR saat ini terlihat cukup tertinggal dibanding perbaikan fundamentalnya. Kinerja laba dan margin pada Semester I-2026 membaik cukup signifikan, sementara harga saham justru masih berada di area yang relatif rendah.
Baca Juga: IHSG Menguat 1,14% ke 6.599 pada Selasa (1/9/2026), CUAN, BUMI, ESSA Top Gainers LQ45
Meski begitu, pasar tampaknya masih berhati-hati karena pertumbuhan pendapatan belum terlalu kuat dan penjualan ekspor masih cenderung lemah. Bagi investor, MYOR cukup menarik untuk dicermati secara bertahap, terutama jika penjualan domestik bisa tetap tumbuh kuat dan ekspor mulai membaik.
Secara teknikal, Kevin masih melihat peluang trading buy pada MYOR. Pergerakan candle hari ini membentuk pola inverted hammer, yang bisa menjadi indikasi awal adanya potensi rebound. Untuk target jangka pendek, ada di area Rp 1.730–Rp 1.750 per saham.
Adapun BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rating buy, dengan target harga yang lebih rendah sebesar Rp2.500. Target tersebut berdasarkan rata-rata historis Price to Earnings Ratio (PER) 3 tahun yang lebih rendah sebesar 17,7 kali.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














